VIVA – Nasib bek Timnas Indonesia, Mees Hilgers, tengah menjadi sorotan di Belanda. Pemain berusia 25 tahun itu terancam mendapat sanksi dari FC Twente setelah tidak hadir dalam sesi latihan pramusim, padahal secara kontrak ia masih berstatus pemain klub Eredivisie tersebut.
Sejak awal pekan, Hilgers tidak terlihat bergabung bersama rekan-rekannya dalam agenda latihan resmi FC Twente. Di saat yang sama, ia justru menjalani latihan individu di Amsterdam bersama Donny van de Beek dan beberapa pemain lain sambil melanjutkan pemulihan cedera lutut.
Yang membuat situasi semakin menarik, Hilgers terlihat mengenakan perlengkapan latihan Feyenoord. Momen itu langsung memicu spekulasi mengenai masa depannya, mengingat namanya belakangan santer dikaitkan dengan klub raksasa Belanda tersebut.
Namun, hingga saat ini status Hilgers masih menjadi milik FC Twente.
Kontraknya yang semula diperkirakan berakhir pada pertengahan Mei ternyata otomatis diperpanjang selama satu musim. Hal itu terjadi karena klausul penghentian kontrak tidak diaktifkan sebelum batas waktu yang telah ditentukan.
Dengan kondisi tersebut, Hilgers memiliki kewajiban untuk kembali melapor dan mengikuti seluruh agenda klub, termasuk latihan pramusim.
Organisasi pengusaha sepak bola profesional Belanda (FBO) menegaskan bahwa posisi hukum pemain dalam kasus seperti ini tidaklah kuat.
"Perjanjian kerja kolektif sudah jelas dan diketahui oleh semua orang. Secara hukum, sebagai pemain, Anda sama sekali tidak berada dalam posisi yang kuat jika Anda membiarkan hal itu sampai ke kasus arbitrase," ujar FBO, dikutip dari Voetbal Primeur.
FBO mengungkapkan, kasus serupa sebenarnya bukan hal baru di sepak bola Belanda. Tidak sedikit pemain maupun agen yang terlambat atau lupa mengakhiri kontrak sesuai tenggat waktu.
"Tetapi biasanya, para pihak berhasil menyelesaikannya bersama setelahnya," lanjut pernyataan tersebut.
Meski begitu, apabila persoalan ini tidak segera diselesaikan, FC Twente memiliki sejumlah opsi untuk mengambil tindakan terhadap Hilgers.
Klub dapat menjatuhkan sanksi disiplin karena pemain dianggap menolak menjalankan kewajiban sebagai karyawan. Bahkan, persoalan tersebut juga berpotensi berlanjut ke ranah hukum apabila dianggap sebagai pelanggaran kontrak.





