Rupiah Berpotensi Fluktuatif, Pasar Fokus Data Ekonomi Awal Juli

bisnis.com
22 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada awal pekan depan seiring pelaku pasar menanti rilis sejumlah data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri. Investor diproyeksikan mengambil sikap wait and see di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data TradingView, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,18% ke level Rp17.970 per dolar AS pada perdagangan Jumat (26/6/2026).

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah sebenarnya memiliki peluang menguat seiring meredanya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Sentimen tersebut didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang berlanjut sehingga pelaku pasar mulai menurunkan proyeksi kebijakan moneter The Fed yang lebih agresif.

Meski demikian, menurut Lukman, pergerakan rupiah diperkirakan kembali diwarnai volatilitas pada perdagangan Senin (29/6/2026) karena investor akan cenderung menahan posisi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting.

"Investor diperkirakan akan mengambil sikap lebih berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya.

Baca Juga

  • Proyeksi Pergerakan Rupiah saat Dolar AS Kuat Didorong Membaiknya Ekonomi AS
  • Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 26 Juni 2026
  • Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.970, Investor Waspadai Rilis Data Ekonomi Pekan Depan

Di dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi yang dijadwalkan terbit pada awal Juli, mulai dari indeks manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI), inflasi, hingga neraca perdagangan.

Selain data makroekonomi, investor juga terus memantau dinamika pasar saham global, terutama volatilitas saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu penggerak utama sentimen pasar.

Perubahan arah pergerakan saham teknologi tersebut dinilai dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk aliran modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS pada awal pekan depan.

Sementara itu, Direktur Trive Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar seiring menguatnya dolar AS yang ditopang oleh sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam.

Menurutnya, revisi final produk domestik bruto (PDB) AS kuartal I yang lebih baik dari perkiraan, penurunan klaim pengangguran, serta inflasi inti berdasarkan Personal Consumption Expenditures (Core PCE) yang masih menunjukkan tekanan harga.

Hal itu memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan tahun ini.

Pasar bahkan mulai memperhitungkan peluang dua kali kenaikan suku bunga, yakni pada Juli atau September dan kembali pada Desember 2026. Ekspektasi tersebut mendorong indeks dolar AS menguat menuju kisaran 102,6 sehingga memberikan tekanan terhadap mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Rupiah berpeluang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada akhir pekan cukup besar. Penguatan dolar masih didukung oleh data ekonomi Amerika yang relatif solid," kata Ibrahim.

Selain sentimen eksternal, Ibrahim mengatakan pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi domestik pada awal Juli.

Cadangan devisa Indonesia diperkirakan mengalami penurunan seiring langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi. Meski demikian, posisi cadangan devisa dinilai masih berada pada level yang aman karena masih mampu membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri dalam beberapa bulan ke depan.

Dari sisi sektor riil, PMI manufaktur Indonesia diperkirakan kembali berada di bawah level 50 atau masih berada dalam fase kontraksi di tengah tekanan terhadap sektor industri yang ditandai oleh gelombang efisiensi dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sementara itu, Indonesia diproyeksikan tetap membukukan surplus neraca perdagangan. Namun, besarnya surplus diperkirakan menyusut akibat perlambatan ekonomi China sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia.

Menurut Ibrahim, pasar juga akan mengamati perkembangan defisit anggaran pemerintah. Apabila defisit terus melebar dan mendekati batas 3% terhadap PDB, kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif tambahan bagi pergerakan rupiah.

Pada perdagangan Jumat, pelemahan rupiah juga sejalan dengan mayoritas mata uang Asia. Baht Thailand melemah 0,14%, yuan China turun 0,05%, dolar Taiwan 0,02%, dan dolar Hong Kong 0,01%. Sebaliknya, ringgit Malaysia menguat 0,66%, diikuti won Korea Selatan 0,43%, dolar Singapura 0,16%, yen Jepang 0,10%, dan peso Filipina 0,03%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Aljazair Vs Austria: Dramatis, Austria Imbangi Aljazair dan Lolos ke Fase Gugur
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Gempa Bumi Venezuela: Dua Bocah Selamat usai Ditemukan di Bawah Reruntuhan Gedung
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Pernyataan Berkelas Lionel Scaloni Usai Argentina Jumpa Cape Verde di 32 Besar Piala Dunia 2026
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
FIFA Tolak Permintaan Iran dan Mesir Soal Larangan Bendera Pelangi di Piala Dunia 2026, Ini Alasannya
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Capai 1.430 Jiwa, Warga Frustrasi Evakuasi Lambat
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.