Wilayah aglomerasi perkotaan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) merupakan kawasan metropolitan dengan estimasi jumlah populasi penduduk lebih dari 30 juta jiwa. Setiap hari diperkirakan ada 28 juta perjalanan terjadi di kawasan Jabodetabek dengan menggunakan berbagai moda mulai dari kendaraan pribadi (motor, mobil), transportasi massal berbasis rel (MRT,LRT,KRL), bus, hingga transportasi online (ride-hailing).
Ride-hailing telah menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat di kawasan metropolitan seperti Jabodetabek. Dalam jaringan transportasi publik yang masih menghadapi tantangan konektivitas antar mode, kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi ini bukan lagi sekadar menjadi alternatif perjalanan, melainkan telah mendukung berbagai aktivitas sehari-hari. Orang membutuhkannya untuk menuju stasiun atau halte transportasi umum maupun dari stasiun dan halte menuju tujuan akhir (first-mile dan last-mile connectivity).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh lembaga Institute for Transportation and Development Policy, keberadaan transportasi berbasis online (ride-hailing), sejak tahun 2010, telah berkontribusi terhadap peningkatan 11 persen pengguna transportasi umum massal. Hal ini menegaskan peran penting ride-hilling dalam ekosistem transportasi khususnya di wilayah perkotaan.
Seiring dengan meningkatnya pengguna ride-hailing dalam mobilitas publik, perhatian terhadap dampak lingkungan yang berasal dari sektor transportasi juga menguat. Secara global, sektor transportasi menyumbang hampir seperempat emisi karbon (International Energy Agency, 2023).
Di Indonesia, kontribusi sektor transportasi diperkirakan mencapai sekitar 22 persen dari total emisi nasional sebagaimana dicatat di Asian Transport Outlook 2024. Persoalan dampak emisi karbon ini menjadi relevan khususnya di wilayah Jabodetabek yang masih menghadapi tantangan kemacetan dan masifnya polusi udara.
Peran besar dari moda transportasi ride-hailing dalam mobilitas publik di Jabodetabek saat ini belum sepenuhnya diikuti dengan adanya upaya transformasi menuju alat transportasi yang rendah emisi dan ramah lingkungan.
Data Mordor Intelligence 2025 (ride-hailing ICE vs EV), menunjukkan bahwa mayoritas armada ride-hailing di Indonesia dan khususnya di Jabodetabek saat ini masih menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil.
Meskipun sejumlah perusahaan transportasi ride-hailing mulai mengembangkan berbagai inisiatif melalui penyediaan kendaraan listrik (EV) sebagai upaya mengurangi dampak emisi karbon pada sektor transportasi, namun ketersediaan dan pemanfaatannya masih relatif kecil jika dibandingkan dengan layanan konvensional.
Fenomena dukungan terhadap tersedianya moda transportasi yang lebih ramah lingkungan (EV) sebenarnya mulai terbentuk di masyarakat. Berbagai dampak yang dirasakan masyarakat akibat emisi karbon antara lain perubahan iklim & cuaca ekstrim, kerusakan lingkungan dan penurunan kesehatan menjadi alasan perlunya perbaikan dan pembenahan.
Penerimaan terhadap transportasi yang ramah lingkungan bukan lagi isu yang bersifat ekslusif, melainkan telah memperoleh dukungan luas dari masyarakat tidak terkecuali pada kelompok generasi Z (14 -29 tahun) yang saat ini menjadi pengguna ride-hailing terbesar saat ini.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap isu lingkungan semakin menguat pada kelompok generasi Z, khususnya di kawasan perkotaan.
Penelitian Wijaya dan Kokchang (2023) terhadap 538 responden Gen Z di wilayah Jakarta Raya menemukan bahwa kepedulian dan kesadaran lingkungan berpengaruh positif terhadap sikap mereka dalam mendukung upaya transisi energi.
Sementara itu, survei Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA) tahun 2026 menemukan bahwa 82,3 persen generasi Z menyatakan peduli terhadap pelestarian lingkungan dan 79,3 persen di antara mereka pernah terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian alam.
Pada survei yang dilakuan terhadap 307 responden Gen Z di Jabodetabek tersebut, meskipun harga tetap menjadi faktor utama dalam pemilihan layanan ride-hailing, mayoritas responden menunjukkan minat yang lebih tinggi terhadap layanan yang bebas emisi dan bersedia membayar lebih untuk atribut tersebut.
Temuan ini mengindikasikan bahwa bagi Generasi Z, isu lingkungan tidak lagi sekadar menjadi perhatian normatif, tetapi mulai tercermin dalam preferensi mereka sebagai konsumen transportasi bahwa aspek keberlanjutan dan ramah lingkungan menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih layanan transportasi.
Peran Gen Z terhadap ride-hailling yang ramah lingkungan
Dengan estimasi jumlah populasi lebih dari 8 juta orang di Jabodetabek, Gen Z memiliki peran penting terhadap dorongan perubahan nyata pada sektor transportasi secara khusus ride-hailing di Jabodetabek menjadi sangat penting.
Kelompok generasi Z bukan hanya kelompok pengguna ride-hailing terbesar, tetapi juga kelompok yang akan memasuki fase produktif dengan tingkat mobilitas dan daya beli yang terus meningkat pada masa mendatang.
Potensi tersebut perlu dibaca secara strategis oleh regulator maupun pelaku industri transportasi di Jabodetabek. Bagi pemerintah (pusat dan daerah), pengembangan ride-hailing berbasis kendaraan listrik dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam upaya menekan emisi sektor transportasi sekaligus mempercepat transisi menuju mobilitas perkotaan yang lebih ramah lingkungan.
Hal ini dapat diwujudkan melalui pengembangan infrastruktur pengisian daya listrik, pemberian insentif bagi kendaraan rendah emisi, dan integrasi layanan ride-hailing yang ramah lingkungan ke dalam perencanaan sistem transportasi perkotaan yang lebih luas.
Di sisi lain, pelaku industri juga memiliki peran penting agar transisi menuju mobilitas perkotaan yang lebih ramah terhadap lingkungan menjadi strategi pertumbuhan yang bersifat jangka panjang.
Upaya memperbanyak produksi armada kendaraan listrik, meningkatkan visibilitas layanan ramah lingkungan di dalam aplikasi, serta mengkomunikasikan adanya manfaat lingkungan secara lebih jelas kepada pengguna, dapat membantu memperkuat daya tarik generasi Z.
Dengan demikian, moda transportasi yang ramah lingkungan tidak hanya dipandang sebagai agenda lingkungan saja, tetapi juga sebagai potensi untuk pengembangan yang mendukung ekosistem transportasi publik yang sejalan dengan perubahan preferensi konsumen pada kelompok generasi Z.
Pada akhirnya, masa depan transportasi ramah lingkungan di Jabodetabek tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi kendaraan listrik, tetapi juga oleh kemampuan regulator dan pelaku industri dalam menerjemahkan sinyal perubahan yang mulai ditunjukkan oleh kelompok generasi Z. (LITBANG KOMPAS)





