Meski mendung dan hujan masih turun di beberapa daerah, sejumlah wilayah di Tanah Air mulai mengalami kekeringan dan krisis air sebagai dampak kemarau 2026. Distribusi air bersih pun dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk membantu warga terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), melalui siaran pers, Sabtu (27/6/2026), menyampaikan, salah satu daerah yang mengalami kekeringan ialah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ada empat desa di Kecamatan Pemalang terdampak, yakni Desa Kendalsari, Tegalmulyo, Tlogowatu, dan Sidorejo dengan jumlah warga terdampak 2.498 keluarga (8.319 jiwa).
Tiga desa di Kabupaten Pemalang juga terdampak, yakni Belik, Bawang, dan Pulosari. Data sementara warga terdampak di daerah ini 166 keluarga. Seperti halnya Klaten, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Pemalang juga telah mendistribusikan bantuan air bersih.
Krisis air juga dilaporkan terjadi di Banjarnegara. Selama Juni 2026, terdapat 339 keluarga (2.069 jiwa) terdampak dengan status siaga darurat yang telah ditetapkan sejak 22 Juni hingga 19 September 2026. Sedangkan di Cilacap ada 667 keluarga (2.386 jiwa). BPBD setempat telah menyalurkan 25.000 liter air bersih kepada 523 kepala keluarga atau 1.932 jiwa di Kecamatan Adipala, Patimuan, Kampung Laut, dan Gandrungmangu.
Bergeser ke Jawa Barat, krisis air terjadi di Kabupaten Bekasi dengan jumlah terdampak 2.172 keluarga (5.425 jiwa) terdampak. BPBD Kabupaten Bekasi juga telah mendistribusikan air bersih kepada 30 warga di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibasurah, dengan akumulasi 130.000 liter.
Kemarau di Kabupaten Bogor, Jabar, berdampak terhadap 1.141 keluarga (4.092 jiwa). BPBD setempat menyalurkan bantuan air bersih, termasuk 5.000 liter yang telah didistribusikan ke wilayah Kecamatan Nanggung. Seperti halnya Bekasi, status siaga darurat di Bogor ditetapkan sejak 10 Juni hingga 30 September 2026.
Melompat ke Jawa Timur (Jatim), sejumlah daerah di provinsi paling timur di Pulau Jawa ini juga mulai mengalami krisis air, seperti Pasuruan, Bondowoso, dan Bojonegoro.
“Untuk tanggap darurat kekeringan masih belum. Namun, ada dua desa yang mulai kekurangan air, debit air menurut. Keduanya adalah Desa Kedungrejo di Kecamatan Winongan dan Karangjati di Kecamatan Lumbang. Kita masih siaga kekeringan, belum darurat,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi melalui sambungan telepon.
Menurut Sugeng, pihaknya telah menyuplai air bersih sesuai kebutuhan masyarakat. Distribusi air bersih dilakukan sejak sebulan lalu namun tidak setiap hari. Jika ada kekurangan air, kepala desa setempat langsung menghubungi BPBD.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satrio Nurseno memberikan data ada empat kabupaten yang melakukan dropping air, yakni Pasuruan, Probolinggo, Bojonegoro, dan Bondowoso.
Di Bondowoso, ada 16 desa di 13 kecamatan terdampak dengan jumlah air yang diberikan 38 tanki (190.000 liter). Sedangkan tiga wilayah lainnya masih relatif sedikit, tak lebih dari satu desa di satu kecamatan.
Di Jatim, ada sembilan kabupaten yang telah menetapkan status keadaan darurat kekeringan di wilayah masing-masing. Daerah-daerah itu, di antaranya adalah Bondowoso, Lamongan, Trenggalek, Bangkalan, dan Lumajang. Status siaga darurat di berbagai daerah itu bervariasi, mulai dari 14 April sampai 31 Oktober 2026.
Prakirawan yang sedang bertugas pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Retno Wulandari, mengatakan, sebagian besar wilayah Jatim sudah masuk musim kemarau, termasuk empat kabupaten di Pulau Madura.
Sedangkan beberapa lainnya, sampai 20 Juni, belum masuk sepenuhnya, seperti sebagian Lamongan (tengah dan selatan), sebagian Jombang, Pasuruan bagian barat, sebagian kecil Mojokerto, serta sebagian Lumajang dan Banyuwangi (sekitar Gunung Ijen-Raung). Daerah tersebut, seperti Banyuwangi diprediksi baru masuk kemarau pada akhir Juni.
“Ini baru terindikasi, curah hujannya sudah menurun di dua dasarian kemarin. Kan, BMKG mengategorikan kemarau dalam tiga dasarian. Satu dasarian di antaranya curah hujan kurang dari 50 milimeter, diikuti dua dasarian berikutnya,” ujar Retno saat ditemui di kantornya, di Karangploso, Malang.
Jika saat ini masih ada daerah yang sudah memasuki kemarau namun masih terlihat mendung dan turun hujan, menurut Retno, hal itu lebih dipicu oleh dinamika atmosfer. Kendati demikian, curah hujannya relatif di bawah 50 milimeter per hari.
Adapun puncak musim kemarau pada umumnya diprediksi berlangsung pada Agustus-September 2026. Namun, ada beberapa daerah yang berlangsung mulai Juli, seperti sebagian Bojonegoro, sebagian Ngawi, Kediri bagian utara, dan Jember selatan-barat, dan sebagian Gresik, serta Bondowoso-Situbondo, juga Bangkalan.
Tak hanya di Jawa saja krisis air mulai melanda. Di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, ada 4.245 keluarga (12.008 jiwa) terdampak di Kecamatan Sekotong, Lembar, Gerung, Kuripan, dan Batu Layar. Distribusi air bersih dilakukan secara bertahap di wilayah tersebut.
Selain krisis air, tentu saja kebakaran hutan dan lahan perlu menjadi kewaspadaan. Menyikapi kondisi hidrometeorologi kering ini, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengimbau warga untuk tetap bijak dalam memanfaatkan air.
Distribusi air menggunakan tangki merupakan penanganan jangka pendek. Bila masih ada peluang hujan, masyarakat bisa memanen air hujan sebagai cadangan.
Muhari juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan. Pemerintah daerah diharapkan terus memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat terdampak serta memperkuat langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana.





