Penasihat Presiden Buka Suara Soal Efek BI Rate 5,75% ke Industri

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Said Iqbal usai dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal menanggapi perihal kenaikan suku bunga acuan, BI Rate hingga mencapai 5,75%, yang dinilai sejumlah pihak tidak pro-industri dan pekerja.

Said Iqbal mengungkapkan kenaikan suku bunga acuan tidak bisa dihindari. Hal ini, menurutnya, merupakan langkah untuk menstabilkan nilai tukar terhadap dolar AS. Menurutnya, Bank Indonesia (BI) selama ini telah melakukan intervensi di pasar dengan memanfaatkan cadangan devisa.


Namun, hal tersebut tidak bisa terus menerus dilakukan BI. Pasalnya masalah fundamental yang terjadi adalah soal kepercayaan investor asing.

Baca: RI Beruntung Punya Ekonomi Solid, Konsumsi Masyarakat Jadi Penyelamat!

"Investor asing kan yang setiap hari menarik modalnya atau keluar, outflow dalam sistem pasar modal di Indonesia, maka cara yang kedua yang digunakan BI. Mau tidak mau, untuk sementara ini, sebelum ekonomi normal atau kepercayaan masih pada titik yang rendah, maka (langkahnya) adalah menaikkan suku bunga," papar Said.

Menurutnya, kondisi ini bak 'buah simalakama', tetapi BI sudah mempertimbangkan langkah ini. Dia yakin kebijakan BI ini untuk jangka pendek, ketika kondisi kembali normal, suku bunga acuan akan dikembalikan.

"Tidak untuk jangka selamanya. Karena satu ketika kalau ekonomi sudah mulai normal, dolar sudah mulai, rupiah mulai menguat terhadap dolar, ya dikembalikan ke suku bunga agar industri bisa meminjam kredit usaha dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah," paparnya.

Dia mengakui banyak perusahaan yang mengalami tekanan akibat kenaikan dolar AS, terutama perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor. Contohnya, perusahaan obat-obatan PT Molex Ayus Pharmaceutical yang dikabarkan melakukan ancaman PHK akibat tidak mampu memenuhi permintaan kenaikan upah minumum pekerja.

Menurut Said, perusahaan seperti Molex Ayus kesulitan karena bahan baku produksi dibeli dengan dolar AS, sementara produknya dijual di dalam negeri dalam rupiah. Hal ini cukup memberatkan perusahaan.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Jelang Pengumuman BI Rate, Rupiah Anjlok ke Rp 17.850 per USD

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Drama 32 Besar Piala Dunia 2026, Siapa Bertahan Siapa Tersingkir?
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jokowi Injak Kepala Kerbau, Netizen Heboh: Simbol atau Sindiran?
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mempertahankan Tarif Integrasi Rp 10 Ribu dan mempercepat KRL Cikampek
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo: Teknologi Belum Tentu Selalu Positif, Nuklir Bisa Langsung Habiskan Peradaban Manusia
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Grup Bakrie dan Barito Jadi Saham Konglo Paling Terpukul Sepekan
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.