AS Balas Serang Iran Targetkan Infrastruktur Militer

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat (AS) melayangkan serangan balasan kepada Iran sejak Sabtu (27/6/2026), setelah sejumlah drone menyerang kapal minyak di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menegaskan pihaknya akan terus menggempur Teheran jika nota kesepahaman perdamaian diabaikan.

Menurut keterangan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), serangan tersebut berdasarkan arahan panglima tertinggi.

"Pasukan CENTCOM melancarkan serangan hari ini sebagai respons langsung terhadap agresi Iran yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial," tulis pusat komando tersebut, dilansir Al-Jazeera, Minggu (28/6/2026).

CENTCOM menyampaikan serangan menargetkan infrastruktur militer Iran, sistem komunikasi hingga penyimpanan drone. Dilaporkan sejumlah ledakan terjadi di Desa Tahrui yang terletak di bagian selatan Iran.

"Pesawat militer AS menargetkan infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau," jelasnya.

Donald Trump telah menegaskan bahwa serangan pada hari Sabtu itu menjadi awalan setelah nantinya serangan masif dilakukan jika Iran gagal memenuhi harapan Washington.

Baca Juga

  • Tak Ada Angin, Tak Ada Hujan: Militer AS Tiba-tiba Serang Iran
  • Harga Minyak Turun ke Level Sebelum Perang Iran, Lalu Lintas Selat Hormuz Mulai Pulih
  • AS Balas Serangan Iran di Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Kesepakatan Damai?

Trump menuding Iran telah berulang kali melanggar nota kesepahaman gencatan senjata yang disepakati pada 17 Juni. Dalam unggahan di media sosial, dia memperingatkan bahwa Washington dapat mengambil langkah militer yang lebih besar apabila Teheran terus mengabaikan kesepakatan tersebut.

"Mungkin akan tiba saatnya ketika kami tidak lagi dapat bersikap rasional dan terpaksa menyelesaikan secara militer apa yang telah kami mulai dengan sangat berhasil. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" jelas Trump.

Pada Sabtu dini hari, sekitar pukul 04.30 waktu Pantai Timur AS (08.00 GMT), kapal tanker berbendera Panama, Kiku, sedang melintasi Selat Hormuz ketika dilaporkan dihantam drone yang tidak teridentifikasi.

Tidak ada awak kapal yang terluka dan tidak ada kebocoran muatan. CENTCOM menyatakan, kapal tersebut membawa lebih dari 2 juta barel minyak mentah ketika dihantam oleh drone serangan satu arah.

Situs MarineTraffic.com menunjukkan bahwa kapal tanker itu meninggalkan Al Shaheen pada Kamis dan dijadwalkan berlabuh di Fujairah, Uni Emirat Arab, pada Minggu.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia yang dilalui hampir 20% pasokan minyak global. Konflik yang kembali memanas berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

Eskalasi Konflik Dinilai akan Kembali Meningkat

Dilansir dari Al-Jazeera, menurut Hassan Ahmadian seorang Profesor dari Universitas Teheran, rangkaian serangan adalah akibat dari ketidakpercayaan antara ke dua negara.

Dia menjelaskan, tindakan Iran adalah langkah defensif di mana kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz harus memperoleh izin otoritas dari negaranya.

"Saya pikir Iran tidak akan melepaskan persoalan ini karena, jelas, mereka hanya menginginkan kapal-kapal komersial, sesuai dengan nota kesepahaman (MoU), yang melintasi selat tersebut. Jadi, kapal apa pun yang tidak melakukan koordinasi bisa jadi merupakan kapal militer atau membawa perlengkapan militer," kata Ahmadian.

Ahmadian menuturkan, rangkaian serangan AS bisa saja membuat Iran tidak lagi ingin berunding mengenai kesepakatan perdamaian.

Di sisi lain, pensiunan perwira Angkatan Laut AS sekaligus Ketua The Killowen Group, Harlan Ullman menilai pemerintahan Trump berpotensi akan menghadapi tekanan berupa kenaikan harga minyak.

Bahkan, menurutnya, eskalasi konflik dapat lebih buruk sehingga nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara seolah tidak berlaku.

"Kesepakatan ini sangat, sangat rapuh, dan aksi balas-membalas ini bisa lepas kendali," kata Ullman.

Menurut dia, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menjadi faktor yang mendorong AS untuk kembali mengedepankan jalur negosiasi. Namun, dia menilai arah perkembangan konflik saat ini masih sulit diprediksi.

Sementara itu, salah satu anggota parlemen dari California, Ro Khanna mendesak Trump menghentikan perang dan tetap berpegang teguh terhadap nota kesepahaman.

"Trump harus menghentikan perang ini sekarang juga, atau kami akan membawanya ke pengadilan untuk memaksanya melakukan hal tersebut," tulis Ro Khanna di media sosial X, dikutip Minggu (28/6/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Pastikan Tarif KRL Tak Naik, Penumpang Justru Berpeluang Nikmati Ongkos Lebih Murah Lewat Integrasi
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Jadwal Lengkap Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Demam Hyrox: Mengapa Ribuan Orang Rela Merogoh Jutaan Rupiah demi Bertanding?
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Jalankan Arahan Bahlil, AMPI Gelar Kegiatan Sosial di Kantor Golkar
• 1 jam laludisway.id
thumb
Polri Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judol Hayam Wuruk, Ini Daftarnya
• 17 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.