Merawat Kepercayaan dan Menjawab Tantangan Bangsa

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Selama lebih dari enam dekade, Harian Kompas (Kompas.id) terus merawat kepercayaan publik. Dalam usia yang tidak lagi muda, Kompas juga dituntut tetap mampu menjawab berbagai tantangan yang datang dari perkembangan teknologi, dinamika ekonomi, dan masalah geopolitik. 

Harapan agar media massa ini tetap menjaga kepercayaan masyarakat itu kembali disuarakan dalam perayaan HUT Ke-61 Harian Kompas di Menara Kompas, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Komisaris, direksi, awak redaksi Kompas, hingga Alissa Wahid, putri sulung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid turut hadir. 

Alissa menuturkan, bapaknya, Gus Dur sangat dekat dan kerap berinteraksi dengan Jakob Oetama, salah satu pendiri Harian Kompas. Gus Dur pun sangat menghormati Kompas sebagai institusi karena telah menjaga kepercayaan publik melalui sajian informasi dan pemberitaan.  

“Saya rasa, Kompas sudah menunjukkan bagaimana menjaga trust (kepercayaan) itu dan semoga bisa seterusnya begitu, selamanya. Kompas akan terus memegang trust karena Kompas adalah Amanat Hati Nurani Rakyat,” ujar Alissa yang meraih penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2026 dari Kompas. 

Digagas Jakob Oetama, penghargaan ini diberikan khusus untuk para ilmuwan yang berdedikasi melayani kepentingan masyarakat melalui keahlian mereka. Sejak diluncurkan tahun 2008, penghargaan ini telah diberikan kepada puluhan cendekiawan yang berkontribusi besar dalam ilmu pengetahuan dan inovasi di Indonesia.

Selain Alissa, ekonom M Chatib Basri juga meraih Cendekiawan Berdedikasi 2026. Penyerahan piagam penghargaan berbentuk pigura yang bergambar Chatib dengan bingkai halaman depan koran Kompas diberikan kepada Dana Iswara, yang mewakili suaminya karena berhalangan hadir.

Alissa melanjutkan, Kompas sudah identik dengan slogan Amanat Hati Nurani Rakyat. Saking melekatnya hal itu, ia sampai terinspirasi oleh Kompas saat mendirikan Gerakan Nurani Bangsa, forum para tokoh bangsa dan lintas iman. “Kalau bicara nurani, rakyat, itu asosiasinya ke Kompas,” ucapnya.

Baca Juga”Kompas” dalam Lintasan Sejarah

Ia pun mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepadanya sebagai Cendekiawan Berdedikasi. Alissa mengaku agak ragu ketika terpilih sebagai cendekiawan karena ia bukanlah akademisi yang menguasai beragam teori. Namun, baginya, teori harus berujung pada perubahan sosial. 

“Teori-teori yang dibuat para ahli itu penting. Tetapi, yang tidak kalah penting adalah menerjemahkan teori-teori tersebut ke dalam perubahan sosial. Ini pengalaman saya selama bekerja bersama masyarakat,” ujarnya.

Alissa berharap, media massa ini tetap menjaga amanat hati nurani rakyat, terlebih di usia yang tidak lagi muda. Menapaki 61 tahun, Kompas diibaratkan sebagai warga lanjut usia. Namun, jika berkaca pada klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), katanya, Kompas masih dalam kategori usia produktif. 

“Selamat ulang tahun ke-61 untuk Kompas. Usia ini sudah punya kematangan yang luar biasa,” ucapnya. Itu sebabnya, Alissa mendorong media yang namanya diberikan oleh Presiden RI-1 Soekarno ini tetap bertahan dan merawat kepercayaan publik. 

“Saya tidak ingin hanya mendoakan Kompas dengan ucapan ‘semoga'. Bagi saya, Kompas  harus tetap ada. Sebab, amanat hati nurani rakyat itu adalah Kompas. Media ini harus bertahan, harus berkembang, dan harus terus menyelesaikan PR (pekerjaan rumah) kemerdekaan Indonesia. Ini keharusan, bukan lagi pilihan,” ujarnya. 

Selamat ulang tahun ke-61 untuk Kompas. Usia ini sudah punya kematangan yang luar biasa

Dalam ucapannya melalui video, Chatib juga mengucapkan terima kasih kepada Kompas atas penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2026. “Penghargaan ini sangat berarti bagi saya. Tapi, di sisi lainnya, ketika kita mendapatkan kehormatan sebagai cendekiawan, pertanyaan apakah ini pencapaian akhir?” ucapnya. 

Menurut dia, jawabannya adalah seseorang harus terus berangkat dari keraguan sesuai prinsip dalam ilmu pengetahuan. Penghargaan ini, lanjutnya, adalah sebuah tantangan agar dirinya terus berpikir dan bertanya terhadap berbagai hal. 

Tantangan

Putra dari salah satu pendiri Kompas Jakob Oetama, Irwan Oetama, mengatakan, di usia 61 tahun, Kompas menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya pesatnya perkembangan teknologi dari disrupsi digital hingga kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI). Kondisi ini berpengaruh terhadap strategi media. 

“Jangankan 10 tahun, membuat perencanaan dalam lima tahun saja, kondisinya sudah berubah. Jadi, perubahannya begitu cepat dan segala sesuatunya serba tidak pasti. Ini baru pengaruh dari teknologi,” ucap Irwan dalam ziarah ke makam Jakob Oetama di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Tantangan lainnya adalah kondisi geopolitik dunia, seperti perang Amerika Serikat dan Iran yang terjadi akhir Februari lalu. Di dalam negeri, keadaan ekonomi juga menjadi tantangan dalam keberlangsungan bisnis media. “Jadi, ada masalah ketidakpastian ekonomi,” ucapnya. 

Meski demikian, menurut dia, Kompas telah menjalani beragam masalah sejak lahir pada 28 Juni 1965 dan media ini tetap bertahan. Irwan pun mengingatkan pesan Jakob Oetama tentang Providentia Dei, yakni segala sesuatu ada kaitannya dengan penyelenggara Ilahi. 

Putri salah satu pendiri Kompas Petrus Kanisius (PK) Ojong, Mariani Ojong, menambahkan, Kompas terus berupaya melakukan yang terbaik di tengah berbagai tantangan. “Kita berupaya menangani tantangan itu dan terus hidup,” ucapnya saat ziarah ke makam PK Ojong di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir. 

Baca JugaHarian Kompas: Untaian Cerita Pernah Dibredel hingga Serba Kekurangan

Mariani berterima kasih atas kerja keras serta dedikasi para pendahulu dan rekan-rekan yang masih berjuang di Kompas. “Mari bersama-sama membangun, merajut masa depan bersama, dan tetap berserah kepada Sang Pencipta,” ujarnya. 

Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas (Kompas.id) Andy Budiman mengatakan, di usia ke-61 tahun, Kompas terus bertransformasi dari media cetak menjadi multi platform, termasuk digital dan video. Kompas juga tetap memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengisi titik-titik vakum pada lanskap media saat ini. 

“Jadi, memasuki usia ke-61 tahun, mari merawat harapan, merawat masa depan, dan menjaga harapan bahwa selama Republik Indonesia berdiri, Kompas juga harus tetap ada,” ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Istana Jelaskan Alasan Prabowo Ajak Akademisi Kerja Sama Selesaikan Masalah Bangsa
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Rumah Seharusnya Menjadi Tempat Paling Aman Bagi Anak
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Bakal Panggil 3 Anggota DPRD TTU soal Dugaan Intimidasi Dokter Icha
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kasus Dugaan Pemerasan Pengusaha Muda, Ini Tanggapan Kuasa Hukum Tersangka
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Purbaya Sebut Kebikan Berbsis Riset Jadi Kunci Stabilitas Ekonomi, MBG Masuk Kajian
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.