“Untuk mencetak atlet-atlet Indonesia yang berprestasi di tingkat dunia, dibutuhkan pembinaan jangka panjang. Ini tentu membutuhkan anggaran yang multiyears, bukan dianggarkan per tahun,” ujar Anindya.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu menegaskan, tidak ada atlet berprestasi dunia yang lahir secara tiba-tiba.
Negara-negara yang selama ini menjadi lumbung juara di ajang-ajang internasional seperti Asian Games dan Olimpiade, telah mempersiapkan atlet mereka sejak usia dini melalui sistem pembinaan berkelanjutan dan kompetisi yang terstruktur. Baca juga: Kemenpora Dorong Pencak Silat Jadi Industri Olahraga dan Targetkan Olimpiade 2032 Anindya menjelaskan, pihaknya juga telah menyusun peta jalan (road map) pengembangan olahraga akuatik yang diselaraskan dengan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), yang menjadi acuan pemerintah dalam pembangunan olahraga nasional. Pembibitan dan Pembinaan Berencana Menurutnya, dukungan pendanaan tidak hanya diperlukan untuk program pemusatan latihan nasional (Pelatnas), tetapi juga untuk pembibitan dan pembinaan atlet di setiap cabang olahraga. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan regenerasi atlet nasional.
“Bukan hanya untuk pelatnas saja, masing-masing cabang olahraga juga membutuhkan dukungan pendanaan untuk melakukan pembibitan dan pembinaan,” katanya.
Lebih lanjut, Anindya optimistis, dengan sistem pembinaan yang kuat sejak usia dini serta dukungan pemerintah melalui skema pendanaan jangka panjang, Indonesia akan mampu melahirkan lebih banyak atlet berprestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di pentas global.
“Dengan pembibitan dan pembinaan yang baik serta dukungan dari pemerintah, saya yakin atlet-atlet kita akan mampu mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di arena dunia,” pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)





