Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia akan menutup semester pertama 2026 dengan wajah baru yang cukup seragam. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada enam emiten yang akan melantai pada Juli 2026.
Hal ini terjadi akibat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama 2026 yang cukup parah hingga sekitar 35,7% dari titik tertinggi IHSG di level 9.174,47 ke level 5896,13 di penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (26/6/2026).
Yang menarik, tiga dari enam perusahaan itu, atau setara 50% dari total Initial Public Offering (IPO) merupakan dari sektor healthcare. Ini bukan kebetulan semata, melainkan cerminan dari perubahan yang tengah terjadi di industri kesehatan Indonesia bahkan budaya masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Kondisi ini juga didorong oleh kebijakan pemerintah, masuknya modal konglomerat, dan pergeseran perilaku masyarakat pasca pandemi.
Siapa Saja yang Akan Listing?Setidaknya ada enam calon emiten tersebut antara lain PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), dan PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS)
Dari total estimasi penggalangan dana seluruh emiten yang mendekati Rp2,14 triliun, kontribusi ketiga emiten healthcare saja mencapai sekitar Rp1 triliun atau hampir 50% dari total keseluruhan. JECX menjadi yang terbesar, dengan nilai penawaran diperkirakan mencapai hingga Rp683,18 miliar.
Warisan COVID-19 yang Masih TerasaAkar dari tren ini bisa ditelusuri ke masa pandemi Covid-19. Indonesia saat itu mengalami krisis infrastruktur kesehatan secara langsung di mana ventilator langka, alat diagnostik terbatas, kapasitas rumah sakit jauh dari memadai.
Pemerintah belajar dari pandemi Covid-19, di mana Indonesia mengalami berbagai krisis ketersediaan alat kesehatan dan obat-obatan. Pengalaman itu memaksa percepatan investasi di ekosistem kesehatan nasional.
"Pemerintah rencananya kita sekarang sedang kerja menindaklanjuti amanah Bapak Presiden membangun dan memperbaiki 400 rumah sakit di seluruh kabupaten kota sehingga merata. Bukan hanya industrinya masuk ke sana, yang menarik juga layanan kesehatannya jadi rata. Kan orang dulu mesti operasi mesti ke Jakarta, orang kena jantung mesti ke Bandung, sekarang enggak usah." ujar Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan RI dalam Economic Update CNBC Indonesia.
Dampak dari strategi ini langsung terasa nyata hingga gaya kehidupan masyarakat pada saat ini guna meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia. Anggaran kesehatan dalam APBN terus meningkat, dari Rp218,5 triliun pada 2025 menjadi Rp244 triliun pada 2026.
Di sisi lain, pemerintah juga menjalankan Program Cek Kesehatan Gratis yang hingga akhir 2025 telah dimanfaatkan lebih dari 70 juta peserta dan ditargetkan menjangkau 140 juta peserta.
Bagi emiten yang bergerak di bidang healthcare, hal ini menjadikan pangsa pasar yang sangat menarik untuk memastikan adanya kenaikan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia secara luas.
Pergeseran ini juga diperkuat oleh masuknya kelompok usaha besar ke sektor kesehatan. Salah satu pemegang saham utama JECX adalah Sarana Meditama Metropolitan (SAME), anak usaha Elang Mahkota Teknologi (EMTK), yang memiliki 28% kepemilikan pra-IPO.
EMTK selama ini lebih dikenal sebagai konglomerat media dan teknologi, namun kehadirannya di JECX menegaskan bahwa ekspansi ke layanan kesehatan bukan lagi sekadar diversifikasi melainkan ini adalah strategi jangka panjang yang serius.
Selain grup Emtek, emiten Prajogo Pangestu Chandra Asri Pacific (TPIA) juga memiliki saham sebesar PRDA atau PT Prodia Widyahusada Tbk yang merupakan induk dari IPO PRDL itu sendiri walaupun kepemilikan TPIA di PRDA hanyalah sebesar 1,48% dan masuk dalam investasi keuangan non strategis.
Pilihan ini tidak datang tanpa kalkulasi. Dibandingkan sektor lain, kesehatan memiliki karakter permintaan yang relatif inelastis yaitu masyarakat tetap membutuhkan layanan medis terlepas dari kondisi ekonomi makro.
Ditambah dengan perluasan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan pertumbuhan kelas menengah yang terus mengakses layanan kesehatan formal, basis konsumen potensialnya semakin besar.
Bagi pengusaha besar yang mencari pertumbuhan jangka panjang dengan risiko lebih terukur, sektor ini menawarkan kombinasi yang sulit ditolak: demand yang stabil, margin yang bisa dikelola, dan dukungan anggaran negara.
Selain pengusaha besar di atas, beberapa grup konglomerasi ini juga sudah banyak melakukan investasi di sektor kesehatan RI terutama dalam lima tahun terakhir pasca Covid-19 mulai dari grup Astra, Djarum, hingga Saratoga.
Dapat dilihat dalam 2 tahun terakhir, pertumbuhan PDB sektor kesehatan RI mengalami kenaikan yang sangat signifikan melebihi pertumbuhan PDB nasional secara konsolidasi secara masif memberikan dorongan potensi return yang menjanjikan bagii Indonesia bagi para pengusaha tersebut.
Kesadaran Masyarakat yang Bergeser
Di luar faktor institusional, ada perubahan perilaku yang tidak bisa diabaikan. Pascapandemi, masyarakat urban Indonesia terbukti lebih sadar terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan layanan spesialis. Dalam tiga tahun terakhir, volume kunjungan pasien JECX terus bertumbuh.
Pendapatan perseroan pada 2025 meningkat sekitar 9,8% dibandingkan 2024, ditopang oleh peningkatan jumlah pasien, layanan bedah mata, serta pengembangan layanan spesialis.
Tren serupa terlihat di segmen diagnostik dan distribusi alat medis, yang menjadi ceruk bisnis EMMI dan PRDL. EMMI sendiri telah melayani lebih dari ratusan rumah sakit dan institusi kesehatan di Indonesia.
Dominasi healthcare dalam gelombang IPO Juli 2026 bukan fenomena sektoral sesaat. Ini adalah pertemuan antara momentum kebijakan, modal konglomerat, dan perubahan perilaku konsumen yang semuanya bergerak ke arah yang sama.
BEI melaporkan masih ada 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham hingga akhir 2026. Dengan kondisi itu, pertanyaannya bukan apakah healthcare akan terus mendominasi warna IPO Indonesia, melainkan seberapa cepat.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls) Add as a preferredsource on Google




