Menkeu Sebut Cadangan Devisa Jadi Penyangga Ekonomi RI di Tengah Gejolak Global

suarasurabaya.net
9 jam lalu
Cover Berita

Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) menyebut cadangan devisa menjadi salah satu penyangga yang menjaga ketahanan ekonomi Indonesia, di tengah ketidakpastian global.

Menkeu mengklaim, fundamental ekonomi nasional masih tetap kuat meski dunia dibayangi gejolak ekonomi dan geopolitik. Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen dengan inflasi yang terkendali di level 3,08 persen.

“Di tengah dinamika ekonomi global, fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2026 mencapai 5,61 persen dengan inflasi sebesar 3,08 persen. Stabilitas tersebut didukung oleh surplus perdagangan, cadangan devisa yang memadai, pertumbuhan kredit yang tetap kuat, serta sektor manufaktur yang masih berada pada zona ekspansif,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Menkeu menegaskan, reformasi fiskal terus dilaksanakan secara konsisten. Hingga Mei 2026, pendapatan negara menunjukkan peningkatan yang signifikan, sementara belanja negara dipercepat secara lebih proporsional untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Kemudian defisit APBN dijaga pada level yang aman, sehingga kesehatan fiskal nasional tetap terpelihara

“Pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal yang adaptif, sehingga APBN mampu melindungi masyarakat dari berbagai risiko global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” kata Purbaya.

Bendahara Negara mengatakan, APBN 2026 akan difokuskan mendukung berbagai program prioritas, seperti penguatan ketahanan pangan dan energi.

“APBN Tahun 2026 difokuskan untuk mendukung berbagai agenda prioritas pemerintah, antara lain penguatan ketahanan pangan dan energi, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, pemberdayaan desa, koperasi dan UMKM, penguatan pertahanan negara, serta percepatan investasi dan perdagangan. Berbagai program tersebut diarahkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan fiskal yang adaptif diperlukan agar ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan dari tekanan eksternal sekaligus menjaga momentum pertumbuhan menuju target pembangunan jangka panjang.

“Pemerintah akan terus memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan masyarakat agar APBN benar-benar menjadi instrumen pembangunan yang mampumengantarkan Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.(lea/bil/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Lebih dari 1.300 Orang, WHO Keluarkan Peringatan
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Roy Suryo Ngaku Bertemu SBY Jelang Praperadilan Kasus Ijazah Jokowi, Apa yang Dibahas?
• 7 jam laludisway.id
thumb
Viral Konvoi Motor di JLNT Antasari, Polisi Kaji Opsi Penutupan saat Malam Hari
• 8 jam laludisway.id
thumb
Khofifah Jamin Pasokan Biosolar Cukup di Jatim
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Profil Mufli Budi Ananda, Asisten Raffi Ahmad yang Jadi Komisaris Krakatau Posco, Pendidikannya Ramai Disorot
• 9 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.