Di Balik Ancaman AI, Perusahaan Teknologi Justru Menambah Karyawan

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Di tengah gelombang adopsi kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI) yang mengancam pekerja, sejumlah perusahaan teknologi global justru menambah karyawan. Fenomena ini menunjukkan, AI tidak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi membuka peluang kerja baru.

Ketika mobil bermunculan di jalan, akhir abad ke-19, para penunggang dan pemelihara kuda mulai kehilangan mata pencaharian. Keahlian mereka tidak lagi dibutuhkan kala itu. Namun, pada saat yang sama, lahir profesi baru, seperti mekanik hingga perancang jalan raya. 

”Pemelihara kuda itu digantikan oleh mekanik, karena seiring waktu kita membutuhkan mekanik untuk merawat mobil, bukan kuda,” ucap Chief Executive Officer International Business Machines Corporation (IBM) Arvind Krishna di New York, Amerika Serikat, Selasa (2/6/2026) waktu setempat.

Krishna menyampaikan hal itu dalam siniar Master of Scale di sela-sela rangkaian New York Tech Week, acara pekan teknologi. Fenomena tentang pemelihara kuda yang digantikan mekanik itu, menurut dia, merupakan ciri khas dalam pengembangan teknologi, termasuk AI saat ini. 

Ia menuturkan, AI memang menggusur sejumlah bidang pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan back office atau di belakang layar. Misalnya, di bidang administrasi, sumber daya manusia, akuntansi, pengadaan barang, dan kepatuhan. Peran mereka perlahan digantikan AI dan sistem otomasi.

Baca JugaKemajuan AI ”Makan Korban” di IBM

”Perkiraan saya, sekitar 30 persen posisi di bidang tersebut tidak lagi dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan,” ungkap Krishna. Bahkan, Daron Acemoglu, peraih Nobel bidang ekonomi pada 2024, memperkirakan komposisi pengurangan karyawan bisa mencapai 50 persen.

Pada 2023, IBM pun pernah mengumumkan, dalam lima tahun ke depan, sekitar 30 persen dari jumlah karyawan yang tidak berhubungan langsung dengan pelanggan dan atau teknologi akan digantikan AI. Adapun jumlah karyawan di bidang itu mencapai 26.000 orang (Kompas.id, 3/5/2023).

Penambahan karyawan

Meski demikian, pekerjaan di bidang penjualan, pemasaran, konsultasi, dan pengembangan perangkat lunak berpotensi tumbuh. Mereka juga telah memanfaatkan AI. Krishna mencontohkan, pengembang perangkat lunak lebih produktif 40 persen dibandingkan dengan dua tahun lalu.

Produktivitas yang meningkat itu sebenarnya dapat menjadi alasan untuk mengurangi tenaga kerja secara besar-besaran. ”Kami justru melipatgandakan perekrutan karyawan baru untuk lulusan perguruan tinggi tahun ini. Jumlahnya hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya.  

Krishna tidak menyebut detail pasti jumlah karyawan yang akan direkrut tahun ini. Namun, ia meyakini, keputusan itu sudah tepat. Menurut dia, jika biaya pengembangan perangkat lunak IBM turun, berarti produk yang dihasilkan lebih terjangkau secara ekonomi dibandingkan dengan tiga tahun lalu.

”Jika bisa melakukan itu, kami akan mendapatkan lebih banyak pendapatan dan menambahkan margin (selisih pendapatan dan biaya produksi) yang sesuai. Jadi, mengapa saya tidak merekrut lebih banyak orang?” ujar Krishna. 

Menurut dia, jika suatu industri lebih produktif, permintaan untuk produk-produknya bakal naik karena harganya menjadi lebih murah. Seiring dengan meningkatnya permintaan tersebut, perusahaan sebenarnya membutuhkan lebih banyak orang untuk menghasilkan lebih banyak produk.

AI mungkin bisa melakukan sesuatu dengan tepat dan cepat. Tetapi, ia masih bisa melenceng jauh. Ketika ini terjadi, serahkan kepada manusia.

Di sisi lainnya, peran manusia tetap dibutuhkan di tengah meluasnya adopsi AI. ”AI mungkin bisa melakukan sesuatu dengan tepat dan cepat. Tetapi, ia masih bisa melenceng jauh. Ketika ini terjadi, serahkan kepada manusia,” ucap Krishna.

Tren perekrutan di industri teknologi ini tidak hanya terjadi di IBM. Laporan State of the Software Engineering Job Market 2026 yang diterbitkan firma analisis Pragmatic Engineer mencatat sejumlah raksasa teknologi yang meningkatkan perekrutan karyawan, terutama di bidang perangkat lunak.

Apple, misalnya, disebut membuka lowongan untuk 2.995 posisi di bidang itu tahun ini, atau meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan 2.177 posisi. Lowongan untuk pengembang perangkat lunak di Google bahkan melonjak dari 810 posisi pada 2025 menjadi 1.313 posisi tahun ini. Data itu dikumpulkan TrueUp berdasarkan lowongan yang diiklankan. 

Tidak hanya pengembang perangkat lunak, lowongan untuk pengembang AI (AI engineer) bahkan melonjak signifikan. ”Saat ini, banyak perusahaan teknologi besar memiliki 50-100 persen lebih banyak lowongan AI engineering dibandingkan dengan setahun lalu,” tulis analis Gergely Orosz dan Jessica Salmon dalam laporan itu akhir Mei.

Jensen Huang, CEO Nvidia (perusahaan semikonduktor asal AS), menilai, berbagai data menunjukkan bahwa AI tidak menghancurkan semua pekerjaan yang berhubungan dengan pengembang (engineer). Alih-alih menggantikan, AI justru mendorong penambahan karyawan.

”Kini, setelah semua engineer di Nvidia menggunakan agen AI, pengembang perangkat lunak menjadi lebih sibuk dari sebelumnya. Sebab, meskipun agen AI menulis kode hampir secara instan, mereka terus-menerus mendorong para engineer menghasilkan ide berikutnya,” ujarnya dalam di Stanford Graduate School of Business pada April, seperti dikutip dari TechCrunch.

Pemutusan hubungan kerja

Meskipun lowongan di bidang perangkat lunak dan terkait AI terus meningkat, pada saat yang sama, perusahaan teknologi global juga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Potret PHK itu, antara lain, terekam dalam Layoffs.fyi, platform yang melacak PHK di industri teknologi. 

Dalam laman Layoffs.fyi yang dikutip, Jumat (26/6/2026), sebanyak 121.516 pekerja dari 202 perusahaan teknologi di dunia mengalami PHK. Jumlah ini hampir sama dengan total karyawan yang terkena PHK pada 2025, yakni 124.636 pekerja dari 276 perusahaan teknologi di dunia.

AI bukanlah satu-satunya penyebab PHK. Analis media Nikkei Asia menilai, kontribusi AI dan otomasi dalam gelombang PHK di perusahaan teknologi sekitar 47,9 persen pada triwulan I. Analisis sebelumnya dari RationalFX, lembaga yang meneliti soal pasar dan keuangan, bahkan menetapkan kontribusi AI terhadap kasus PHK itu pada periode serupa hanya 20,4 persen.

CEO OpenAI Sam Altman menyebut fenomena perusahaan yang menggunakan AI sebagai alasan PHK sebagai AI washing. ”Yaitu, kondisi di mana orang-orang menyalahkan AI atas PHK yang sebenarnya akan mereka lakukan bagaimanapun juga,” ujarnya dikutip laman Invezz, media yang fokus pada isu keuangan dan pasar.

Masalahnya, menurut Invezz, terdapat sejumlah peran yang mulai digantikan otomatisasi. Misalnya, dukungan pelanggan, jaminan kualitas, peninjau konten, dan manajemen menengah. Sebaliknya, pengembang model AI, peneliti keamanan AI, dan spesialis infrastruktur data justru jadi incaran perusahaan.

Ketatnya perebutan talenta itu terekam dalam data pengangguran Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Pada triwulan pertama 2026, tingkat pengangguran administrator jaringan dan sistem hanya 0,4 persen, analis keamanan siber 2,7 persen, dan pengembang perangkat lunak 3,1 persen. Angka ini di bawah tingkat pengangguran di AS, 4,3 persen.

Pelatihan

Krishna menilai, berbagai pihak perlu berperan untuk menjembatani antara gelombang PHK dan perekrutan di industri teknologi. Perusahaan, misalnya, memberikan kesempatan pelatihan kepada karyawan untuk meningkatkan keterampilan (upskilling) dan mempelajari keterampilan baru (reskilling).

”Di IBM, kami tidak memaksa orang keluar dari pekerjaannya dalam satu hari. Kami memberikan kesempatan reskilling. Namun, jika enam atau sembilan bulan mereka tidak mau mempelajari keterampilan yang dibutuhkan, itu sebenarnya buruk bagi 90 persen pekerja lainnya,” ujar Krishna.

Bagi karyawan yang memutuskan keluar dari pekerjaannya, lanjutnya, pemerintah perlu bertanggung jawab dengan menyediakan jaring pengaman sosial. ”Jadi, saya pikir, rasa ingin tahu dan kemauan untuk beradaptasi saat ini lebih penting untuk tetap bertahan,” ucapnya. 

Baca JugaPHK Perusahaan Teknologi, AI, dan Perubahan Lanskap Kerja



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemampuan Model AI Cina Zhipu DeepSeek Makin Setara ChatGPT tapi Lebih Murah
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Mendagri Tito Klarifikasi Isu 2 Desa di Nunukan Kaltara Masuk Malaysia
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
OJK Bongkar Modus Penipuan Nonton Dracin, Kasus YUDIA Naik ke Tahap Penyelidikan
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Menteri ESDM: Program E20 Butuh 4 Juta Kiloliter Etanol
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Wakil Ketua DEN sebut Ekonomi Indonesia Masih Baik Meski Dihadapkan dengan Pelemahan Rupiah
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.