Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan langkah pemerintah untuk menekan beban biaya gas bagi industri, termasuk memangkas harga gas berbasis liquefied natural gas (LNG) menjadi USD 13 per MMBTU dari sebelumnya mencapai USD 20-23 per MMBTU.
Kebijakan tersebut merupakan hasil koordinasi pemerintah dengan asosiasi pelaku industri, sektor keramik, hingga Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dalam 10 hari terakhir guna menjaga keberlangsungan dunia usaha dan lapangan kerja.
"Dalam waktu 10 hari terakhir kami menerima aspirasi dari asosiasi pelaku industri, sektor keramik, dan KSPI. Atas dasar koordinasi yang baik, telah kita rumuskan beberapa langkah solutif untuk mengatasi masalah yang dihadapi teman-teman industri," kata Bahlil dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, Senin.
Bahlil menegaskan pemerintah memandang keberlanjutan lapangan kerja sebagai tanggung jawab bersama. Karena itu, pemerintah memutuskan skema harga gas industri dibagi menjadi tiga kategori.
Pertama, harga gas bumi tertentu (HGBT) tetap dipertahankan di kisaran USD 6,5-7 per MMBTU. Keputusan yang diambil usai rapat dengan Pertamina dan PGN.
"HBGT tetap USD 6,5-7 per MMBTU. Memang ini tidak mengenakkan semua, tetapi kita harus ikat pinggang untuk menyelamatkan lapangan pekerjaan," ujarnya di DPR, Senin (29/6).
Kedua, bagi industri non-HGBT yang menggunakan gas pipa dan berada di wilayah Jawa, pemerintah menetapkan harga sebesar USD 9,6 per MMBTU.
Sementara itu, kategori ketiga berlaku bagi industri yang menggunakan LNG. Bahlil menjelaskan pasokan gas pipa di Jawa Barat mengalami penurunan akibat produksi kilang yang menurun, sehingga kebutuhan industri di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten harus dipenuhi melalui LNG yang didatangkan dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan wilayah lain di luar Pulau Jawa.
Kondisi tersebut membuat harga gas untuk industri melonjak hingga USD 20-23 per MMBTU dan memicu permintaan agar pemerintah turun tangan.
"Masukan dari industri itu maunya di kisaran USD 15-16 per MMBTU. Setelah kami hitung, kami turunkan menjadi USD 13 per MMBTU. Jadi dari USD 23 menjadi USD 13 per MMBTU," kata Bahlil.
Ia menjelaskan harga LNG lebih mahal karena terdapat tambahan biaya transportasi, regasifikasi, dan distribusi. Menurutnya, produksi gas di Jawa Timur masih sesuai target, sementara pasokan di Jawa Barat mengalami kekurangan.
"Gas itu tidak kita impor, gasnya ada. Tetapi harga LNG-nya mahal karena ada biaya transportasi, regasifikasi, dan lain-lain. Jadi untuk LNG industri kami tetapkan di USD 13 per MMBTU," ujar Bahlil.





