Toyota yakin industri otomotif RI punya daya tahan kuat

antaranews.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) meyakini industri otomotif dan komponen Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat di tengah berbagai tantangan global maupun domestik.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam menyampaikan besarnya pasar domestik, kinerja ekspor yang tetap terjaga, serta peluang penguatan orientasi ekspor dinilai menjadi modal penting bagi industri nasional untuk terus berkembang.

Dirinya dalam pernyataan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Senin mengatakan, meski penjualan otomotif mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir yang turut memengaruhi industri komponen, kondisi sektor tersebut tetap menunjukkan daya tahan yang baik.

"Industri otomotif itu punya resilience yang bagus. Kita punya pasar ekspor, dan pasar domestik kita juga masih besar," ujar Bob.

Menurut dia, industri komponen saat ini menghadapi tantangan karena merupakan sektor yang padat modal sekaligus padat karya. Kenaikan upah, biaya energi, serta kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas produksi menjadi sejumlah faktor yang perlu diantisipasi agar daya saing tetap terjaga.

Di sisi lain, Bob menilai industri komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) masih membutuhkan kepastian arah kebijakan pemerintah.

Menurutnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diberikan kepada kendaraan listrik, sementara ekosistem komponen kendaraan listrik sebagian besar masih berada di luar Indonesia.

Ia mengatakan, kepastian kebijakan menjadi faktor penting untuk mendorong pelaku industri terus berinvestasi. Menurutnya, pembaruan teknologi dan modernisasi fasilitas produksi merupakan kebutuhan agar industri tetap kompetitif di tengah persaingan global.

Bob juga menepis kabar yang menyebut sejumlah perusahaan besar komponen otomotif akan segera merelokasi investasinya dari Indonesia. Berdasarkan penelusuran pemerintah, informasi tersebut tidak terbukti.

Ia menjelaskan, perusahaan multinasional saat ini memang tengah mengevaluasi peta industri otomotif beberapa tahun ke depan, termasuk mempertimbangkan efisiensi operasi di kawasan ASEAN.

Dalam proses tersebut, faktor daya saing, ekosistem industri, dan kebijakan pemerintah di masing-masing negara menjadi pertimbangan utama.

Meski Vietnam dinilai semakin menarik bagi investor karena pertumbuhan ekonomi dan berbagai insentif investasi, Bob menegaskan Indonesia masih memiliki keunggulan berupa pasar otomotif terbesar di ASEAN, dengan penjualan mendekati satu juta unit per tahun serta ekspor kendaraan sekitar 500 ribu unit.

"Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita yang lumayan besar. Jadi sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan," kata Bob.

Ia menambahkan, Asia Tenggara telah berkembang menjadi basis produksi dunia, tidak hanya untuk industri otomotif, tetapi juga elektronik dan berbagai sektor manufaktur lainnya.

Oleh karena itu, Indonesia dinilai dirinya memiliki peluang besar untuk terus memperkuat daya saing industri otomotif nasional melalui iklim investasi yang kondusif serta penguatan orientasi ekspor.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menepis isu rencana hengkang atau relokasi fasilitas produksi dua industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam, serta menyatakan kedua perusahaan tetap beroperasi normal dan justru berkontribusi pada ekspor nasional.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (23/6) menyampaikan, menindaklanjuti pemberitaan yang berkembang terkait dugaan relokasi perusahaan industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita pada Minggu tanggal 21 Juni 2026 memerintahkan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Dirjen ILMATE) untuk menelusuri kebenaran informasi relokasi produksi PT. S dan PT.J serta Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada dua industri tersebut

“Pada hari Minggu sore tanggal 21 Juni 2026, Bapak Menteri Perindustrian telah memerintahkan Dirjen ILMATE untuk menelusuri kebenaran informasi relokasi perusahaan industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam. Mempertimbangkan kehati-hatian dan sensitifitas isu ini bagi industri dan investasi asing pada sektor industri otomotif Indonesia, maka pada hari ini kami menyampaikan temuan lapangannya pada publik,” ujar dia.



Baca juga: Gaikindo ingin pemerintah perluas stimulus untuk beragam kendaraan

Baca juga: GIAMM tekankan industri komponen otomotif tangguh di pasar global

Baca juga: Mensesneg sebut tidak ada perusahaan otomotif hengkang ke Vietnam


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polresta Banyumas fokus pulihkan kerugian korban investasi bodong
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Ramalan Keuangan Shio 30 Juni 2026: Kuda Untung, Naga Hati-hati
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Persebaya Mulai Kumpulkan Pemain Awal Juli untuk Persiapan Musim 2026/2027
• 13 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Rumus Luas dan Keliling Lingkaran: Unsur Beserta Contoh Soalnya
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global, BI Pastikan Stabilitas Pasar Keuangan Tetap Terjaga | JMP
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.