TPN XIII Hadir di Makassar-Gowa, Perkuat Kolaborasi Bangun Ekosistem Pendidikan Berbasis Kewargaan Desa Dunia

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Pendidikan yang mampu menjawab tantangan perubahan sosial, teknologi, dan dinamika global tidak cukup hanya mengandalkan perubahan kurikulum maupun kebijakan. Dibutuhkan kolaborasi yang melibatkan guru, sekolah, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat untuk saling belajar, berbagi praktik baik, dan melahirkan inovasi pembelajaran yang berdampak.

Semangat tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII yang mengusung tema “Cita-cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia.” Kegiatan yang digelar Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) ini akan berlangsung selama dua hari, yakni pada 4 Juli 2026 di Sekolah Islam Athirah, Makassar, dan 5 Juli 2026 di Rumah Sekolah Cendekia, Kabupaten Gowa.

Sejak pertama kali diselenggarakan, Temu Pendidik Nusantara telah menjadi ruang belajar dan kolaborasi bagi puluhan ribu guru di berbagai daerah di Indonesia. Forum ini mempertemukan guru, kepala sekolah, akademisi, pemimpin pendidikan, pemerhati pendidikan, hingga para pengambil kebijakan untuk berbagi pengalaman, memperkuat jejaring, dan merumuskan masa depan pendidikan Indonesia.

Kontribusi tersebut bahkan mendapat pengakuan dunia melalui penghargaan Hamdan Prize for Teacher Development dari UNESCO sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya mendorong inovasi pembelajaran dan pemberdayaan guru.

Mengangkat tema “Cita-cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia”, TPN XIII mengajak seluruh pemangku kepentingan memandang pendidikan sebagai tanggung jawab bersama. Pendidikan yang berkualitas diyakini lahir dari kolaborasi berbagai pihak untuk membentuk generasi yang berakar pada nilai-nilai lokal, namun memiliki kemampuan menjadi warga dunia yang adaptif, berkarakter, dan berdaya saing.

Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara, Ari Wibowo, menegaskan bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dengan memberikan ruang bagi guru untuk terus berkembang.

“Selama ini guru hanya menjadi objek kebijakan. Karena itu kami berkomitmen memperjuangkan kemerdekaan belajar guru. Mensejahterakan guru adalah dengan memberdayakannya, sebab mutu pembelajaran tidak bisa diperintahkan dari atas, melainkan tumbuh dari guru yang berdaya,” ujarnya.

Sementara itu, Penggerak Komunitas Guru Belajar Nusantara, Zaid Buri Prahastyo, menilai pendidikan sejatinya dibangun melalui hubungan belajar yang setara antara guru dan murid.

“Saya percaya murid adalah kitab yang belum selesai ditulis. Yang mereka butuhkan adalah orang yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan, menemani membaca, dan belajar bersama,” katanya.

Penyelenggaraan TPN XIII juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Gowa. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa, Taufiq Mursad, berharap forum ini mampu memperkuat ekosistem pendidikan yang adaptif, kreatif, dan berorientasi pada pembangunan karakter serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Mari bersama bergerak, belajar, dan berkolaborasi untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik bagi generasi masa depan,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, yang mengajak para pendidik dan pemangku kepentingan memanfaatkan TPN XIII sebagai ruang kolaborasi dalam menghadirkan pendidikan yang inovatif dan berpihak kepada murid.

“Saya mengajak seluruh pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan untuk hadir di TPN XIII dan bersama membangun ekosistem pendidikan yang semakin berkualitas,” ujarnya.

Kepercayaan kepada Sekolah Islam Athirah dan Rumah Sekolah Cendekia sebagai tuan rumah menjadi wujud komitmen kedua institusi dalam menghadirkan ruang belajar yang kolaboratif sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan di Sulawesi Selatan.

Pembina Rumah Sekolah Cendekia, Ratna Juita, menyebut TPN XIII sebagai wadah lahirnya inovasi dan transformasi pendidikan melalui kolaborasi komunitas belajar. Sementara Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, menegaskan bahwa kepercayaan tersebut menjadi bagian dari komitmen Athirah dalam meningkatkan mutu guru melalui budaya belajar yang berkelanjutan.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai agenda, mulai dari Bincang Pendidikan bersama tokoh dan pengambil kebijakan, Berbagi Praktik Baik, Kelas Kompetensi, hingga Cerdas Cermat Guru (CCG) yang mengangkat pengembangan kompetensi pendidik di masa depan.

Melalui penyelenggaraan TPN XIII di Makassar dan Gowa, Komunitas Guru Belajar Nusantara berharap semakin banyak praktik baik lahir dari daerah, menginspirasi wilayah lain, dan memperkuat kualitas pendidikan nasional. Sebab, perubahan besar dalam dunia pendidikan tidak selalu dimulai dari pusat, melainkan dari ruang-ruang belajar yang hidup, guru yang terus bertumbuh, dan kolaborasi yang tidak pernah berhenti. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Deretan Pasal yang Menjerat Taufik Hidayat, dari Penganiayaan hingga Perampasan Kemerdekaan
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
John Herdman Terima Kabar Buruk dari Media Belanda, Maarten Paes Terancam Lengser
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Tumpukan Sampah Liar Meluber ke Jalan, Ganggu Pengendara
• 14 jam laludetik.com
thumb
Mendagri: Komisi II DPR Mendorong BNPP Punya Kewenangan Imperatif Urus Perbatasan
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Ricuh usai Sidang Bupati Pati Nonaktif Sudewo, Massa Pendukung Adang Mobil Tahanan
• 10 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.