JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah dominasi kamera ponsel yang semakin canggih dan mampu menghasilkan gambar tajam hanya dalam sekali sentuh, kamera lawas justru mengalami kebangkitan tak terduga.
Benda yang sempat dianggap usang itu kini kembali diburu, terutama oleh generasi Z.
Fenomena ini terlihat di sejumlah sentra kamera bekas di Jakarta, mulai dari Pasar Baru, Jakarta Pusat, hingga Pasar Loak Jatinegara, Jakarta Timur.
Baca juga: Penerima KJMU Bisa Lanjut S2 dan S3 di Luar Negeri dengan LPDP Jakarta
Di tempat-tempat ini, kamera analog maupun kamera digital compact era 2000-an kembali hidup di tangan generasi baru.
Di deretan kios kamera bekas Pasar Baru, etalase kaca dipenuhi kamera lawas dari berbagai merek, yakni Kodak, Nikon, Sony, Lumix, hingga Casio.
Meski hampir seluruh unit merupakan barang bekas, kondisinya sudah melalui pengecekan dasar.
Fungsi shutter, flash, baterai, dan lensa diperiksa sebelum dijual kembali. Harganya pun tak murah, berkisar antara Rp 800.000 hingga Rp 2,5 juta, tergantung kondisi dan kelangkaan.
Mikael (22), mahasiswa asal Depok, Jawa Barat, menjadi salah satu anak muda yang rela datang ke Pasar Baru demi berburu kamera lawas.
Saat ditemui Kompas.com pada Jumat (26/6/2026), ia sedang memeriksa sebuah kamera analog Kodak.
Ia mengaku baru sekitar setahun terakhir menekuni fotografi analog. Ketertarikannya bermula dari media sosial, terutama setelah sering melihat hasil foto film di Instagram dan TikTok.
“Awalnya lihat di Instagram sama TikTok, kok hasilnya beda ya. Grain-nya dapet, warnanya juga hangat,” ujar Mikael.
Sebelumnya, Mikael hanya memotret menggunakan ponsel. Namun menurut dia, pengalaman menggunakan kamera analog jauh berbeda.
Baca juga: Hakim Tolak Pihak Intervensi Sidang Praperadilan Roy Suryo, Dinilai Tak Berkepentingan
Dengan ponsel, seseorang bisa mengambil ratusan foto dalam waktu singkat, lalu langsung memilih hasil terbaik. Kamera analog justru memaksa penggunanya berpikir sebelum menekan shutter.
“Kalau pakai HP kan motret seratus kali juga bisa. Analog bikin kita lebih hati-hati karena satu frame itu berharga,” kata dia.
Ia juga lebih memilih kamera bekas ketimbang baru. Baginya, build quality atau kualitas material kamera lama sering kali lebih kokoh dibanding produk modern.
Hari itu Mikael datang dengan bujet terbatas. Ia mengaku harga kamera lawas di Pasar Baru memang lebih tinggi dibanding pasar loak.
“Kalau di Jatinegara bisa ketemu sekitar Rp 260.000 buat Kodak basic. Tapi kalau di sini, apalagi yang kondisinya bagus, bisa Rp 800.000 ke atas,” ujar dia.
Pengalaman serupa dirasakan Celine (20), mahasiswi asal Jakarta Barat. Ia datang ke Pasar Baru untuk mencari kamera compact yang ringan dibawa sehari-hari.
Ketertarikannya padakamera analog muncul sejak pertengahan 2024 setelah diajak temannya berburu foto. Saat hasil film dicetak, ia langsung merasakan sesuatu yang berbeda.
Menurut Celine, foto analog memiliki karakter emosional yang sulit ditemukan pada kamera digital.
“Digital terlalu clean. Analog punya imperfections yang bikin fotonya terasa hidup,” kata Celine.
Ia sempat mencari kamera melalui marketplace, tetapi akhirnya memilih datang langsung ke toko fisik.
Baca juga: Modus Baru Promosi Judol: Spam Kolom Komentar hingga Siaran Ilegal Piala Dunia





