JAYAPURA, KOMPAS — Operasi pencarian dan pertolongan atau SAR empat nelayan yang hilang kontak di perairan Kabupaten Mimika, Papua Tengah, belum membuahkan hasil. Hingga Senin (29/6/2026) atau hari ketiga operasi SAR, upaya pencarian melalui laut dan udara telah diperluas hingga radius 40 mil laut atau sekitar 74 kilometer.
Empat nelayan tersebut, yakni Holman Limbe, John, Rohman, dan Mail dilaporkan hilang kontak sejak Kamis (25/6/2026). Keempat nelayan asal Mimika ini diketahui mencari ikan di sekitar perairan Atuka, Mimika, dengan longboat bermesin ganda.
“SAR telah melakukan koordinasi kapal-kapal nelayan serta meminta bantuan armada udara dari TNI untuk memaksimalkan pencarian,” kata kata Kepala Kantor SAR Timika I Wayan Suyatna dalam keterangannya.
Dari informasi yang dihimpun SAR Timika, keempat nelayan ini berangkat melaut dari salah satu dermaga di pesisir Mimika, Selasa (23/6/2026). Mereka menggunakan longboat bermesin ganda menuju sekitar 30 kilometer ke perairan Atuka.
Keesokan harinya, salah seorang nelayan berkomunikasi dengan keluarga akan kembali pada Kamis (25/6). Namun, hingga Kamis, keempat nelayan belum kunjung pulang. Bahkan, ponsel keempatnya tidak aktif lagi.
Pada Kamis-Jumat, inisiatif pencarian secara mandiri dilakukan oleh keluarga bersama masyarakat. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil.
Di perairan Atuka, kondisi gelombang dan arus laut bervariasi. Saat pagi hingga siang, ketinggian gelombang 0,5-1,25 meter. Namun, memasuki sore hingga malam hari, gelombang bisa mencapai tiga meter.
Pada akhirnya, pihak keluarga melaporkan kejadian ini kepada Kantor SAR Timika. Kepala Subseksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Timika Charles Y Batlajery mengatakan, laporan tersebut diterima, Sabtu (27/6/2026).
“Dari laporan itu, pihak keluarga mengatakan tidak ada kabar terkait kedaruratan dari para nelayan ini. Namun, mereka khawatir karena tidak ada kabar sehingga mencari dan melapor kepada Kantor SAR Timika,” ujar Charles.
Pada Sabtu, SAR Timika menerjunkan tim gabungan menuju lokasi menggunakan kapal Rigid Buoyancy Boat (RBB) 600 PK. Berdasarkan pantauan SAR Timika di lokasi perairan Atuka, kondisi gelombang dan arus laut bervariasi.
Saat pagi hingga siang, ketinggian gelombang 0,5-1,25 meter. Namun, memasuki sore hingga malam hari, gelombang bisa mencapai tiga meter.
”Hari pertama nihil dan tidak ada tanda atau informasi terkait para nelayan ini,” ucap Charles.
Selanjutnya, keesokan harinya atau hari kedua operasi SAR, pencarian diperluas hingga radius 40 kilometer. Dengan menggunakan data cuaca dan arus laut, tim mencari ke sejumlah titik yang diyakini sebagai lokasi jika para nelayan hanyut. Namun, hasilnya masih nihil.
Adapun, pada hari ketiga, SAR Timika turut berkoordinasi TNI melalui Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III untuk bantuan pencarian melalui udara. Pencarian melalui udara ini hingga radius 40 mil laut atau sekitar 74 kilometer.
“Namun, belum juga membuahkan hasil. Pencarian akan terus dilakukan dengan maksimal untuk hingga hari ketujuh. Untuk penggunaan armada udara TNI Kogawilhan III kami masih perlu koordinasi lagi,” katanya.
Untuk saat ini, lanjut Charles, pihaknya akan memperluas potensi SAR. Koordinasi dilakukan dengan nelayan dan kapal di perairan Mimika serta personel kepolisian yang berada di wilayah Mimika.
“Hingga saat ini belum ada tanda-tanda apakah perahu tenggelam atau kecelakaan lain. Jadi, kami SAR menyatakan para nelayan hilang kabar, karena kondisi mereka belum diketahui. Bisa saja mereka terdampar atau diselamatkan kapal lain. Oleh karena itu, koordinasi dengan berbagai pihak kami terus lakukan,” ujarnya.





