Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mengatakan penurunan harga regasifikasi gas alam cair (LNG) untuk industri bisa menekan hingga 40% total biaya produksi.
Pemerintah telah menurunkan harga LNG yang awalnya mencapai US$ 20-23 per MMBTU menjadi US$ 13 per MMBTU, yang berlaku mulai hari ini (29/6).
“Dengan penyesuaian kebijakan tersebut, rata-rata biaya gas industri keramik diperkirakan turun menjadi sekitar US$ 9,5-10 per MMBTU, atau (turun) sekitar 38%-40% dari total biaya produksi,” kata Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto dalam keterangan tertulis, Senin (29/6).
Dia menyebut penurunan biaya ini dinilai penting karena dapat membantu industri menjaga keberlanjutan operasional sekaligus menekan risiko pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
Selain itu, Edy menyampaikan kebijakan ini mampu mengurangi tekanan biaya energi yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri keramik nasional. Sebelumnya, biaya energi gas tercatat mencapai sekitar 50% dari total biaya produksi keramik.
“Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," ujarnya.
Meski harga LNG sudah turun, ASAKi mengharapkan pemerintah dapat meningkatkan kembali porsi alokasi HGBT menjadi sekitar 70%-80%, seperti yang pernah diterapkan sebelumnya. Langkah itu dianggap penting untuk memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya arus produk impor, terutama dari Cina dan India.
Selain berpotensi menyelamatkan industri dari ancaman PHK, ASAKI menilai kebijakan ini juga akan memberikan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian.
Menurutnya dengan membaiknya kepastian pasokan gas dan iklim usaha, industri keramik nasional dapat melanjutkan rencana ekspansi pada periode 2025-2029. Rencana tersebut mencakup tambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, nilai investasi mencapai Rp 12 triliun, serta potensi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja baru.
“Pelaku industri berharap kebijakan energi yang lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional,” ucapnya.
Potensi PHK SebelumnyaPresiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea sebelumnya menyebut dua pabrik keramik besar di Bekasi terancam berhenti beroperasi akibat tingginya harga gas industri.
Ia mengatakan dua perusahaan tersebut merupakan anggota serikat pekerja yang memiliki jumlah pekerja besar, yakni pabrik granit, Milan Keramik, dan Mulia Keramik. Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu gelombang PHK.
"Dua pabrik anggota saya yang terbesar di Bekasi tutup karena gas industri. Ini bahaya sekali," ujar Andi Gani dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa (23/6).
Apabila tidak ada solusi dalam waktu dekat, sekitar 55 ribu pekerja berpotensi terkena PHK dalam waktu 10 hari ke depan. Menurutnya, kekhawatiran tersebut muncul setelah perusahaan mulai melakukan pembahasan terkait keberlanjutan operasional.
"Kalau kita tidak serius dalam waktu 2-3 hari ke depan, dapat dipastikan 55 ribu buruh akan di-PHK. Dua perusahaan sudah dipanggil dan kami sudah diminta memberikan tawaran, tetapi kami menolak," katanya.




