JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah dominasi kamera ponsel yang semakin canggih, kamera-kamera lawas justru kembali diminati.
Menariknya, mayoritas pembeli bukanlah kolektor atau fotografer senior, melainkan anak muda dari kalangan mahasiswa hingga pekerja muda.
Psikolog Klinis dari Personal Growth, Virginia Hanny, menilai fenomena itu tidak bisa dilepaskan dari perubahan ritme kehidupan generasi muda yang hidup di tengah dunia digital serba cepat.
Menurut Virginia, kehidupan digital membuat hampir seluruh aktivitas berlangsung secara instan.
Baca juga: Kala Gen Z Berburu Kamera Lawas, Menikmati Proses di Balik Setiap Jepretan
Informasi mengalir tanpa henti, komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, dan hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan cepat melalui gawai.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian generasi Z justru mulai mencari pengalaman yang menawarkan ritme berbeda, salah satunya melalui penggunaan kamera analog.
Ia menjelaskan, secara proses kamera analog memang menuntut waktu lebih panjang dibandingkan kamera digital.
Pengguna harus menentukan lebih dulu momen yang benar-benar ingin diabadikan, memperhitungkan sisa frame dalam satu roll film, menunggu hasil cetak, sekaligus menerima bahwa tidak semua foto akan berakhir sempurna.
"Proses yang lebih lambat tersebut terkadang membuat pengalamannya menjadi lebih bermakna, karena mereka membutuhkan kesadaran, kesabaran, perhatian dan keterlibatan yang besar dari individu yang melakukannya," ujar Virginia saat dihubungi Kompas.com, Senin (29/6/2026).
Baca juga: Hakim Tolak Pihak Intervensi Sidang Praperadilan Roy Suryo, Dinilai Tak Berkepentingan
Menurut dia, proses tersebut membuat seseorang benar-benar hadir pada momen yang sedang dijalani sebelum akhirnya menekan tombol shutter.
Kesadaran untuk menikmati proses inilah yang membuat kamera analog kembali menarik bagi sebagian anak muda.
Virginia menilai ketertarikan tersebut juga dapat dikaitkan dengan kebutuhan psikologis yang berkembang di tengah kehidupan digital, meski alasan setiap individu tentu berbeda-beda.
Ia mengatakan, banyak anggota Gen Z tumbuh di lingkungan media sosial yang dipenuhi notifikasi, tuntutan untuk selalu terhubung, serta dorongan untuk terus mendokumentasikan dan membagikan kehidupan mereka kepada orang lain.
Kamera analog menghadirkan pengalaman yang berbeda karena hasil foto tidak bisa langsung dilihat ataupun diunggah ke media sosial.
"Karena hasilnya tidak bisa langsung dilihat atau diunggah, perhatian menjadi lebih terfokus pada pengalaman itu sendiri dibandingkan bagaimana pengalaman tersebut akan dinilai oleh orang lain," kata Virginia.
Dari sudut pandang psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan kebutuhan akan mindfulness, yakni kemampuan seseorang untuk benar-benar hadir pada momen yang sedang dijalani.
Selain itu, penggunaan kamera analog juga dapat menjadi bentuk digital respite, yaitu jeda sementara dari paparan dunia digital yang terus-menerus.
Meski demikian, Virginia mengingatkan bahwa kamera analog bukanlah solusi untuk mengatasi stres.
Namun, bagi sebagian orang, aktivitas tersebut dapat menghadirkan pengalaman yang lebih tenang karena tidak menuntut kecepatan maupun validasi sosial sebagaimana yang kerap ditemui di media digital.
Baca juga: Daftar Korban Truk Tabrak 6 Motor di Simpang Unisma Bekasi: 1 Tewas, 9 Orang Luka-luka
Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan nostalgia.
Namun, Virginia menilai nostalgia yang dirasakan Gen Z berbeda dengan generasi yang pernah mengalami langsung masa kejayaan kamera analog.
Menurut dia, dalam psikologi dikenal konsep vicarious nostalgia, yakni rasa rindu terhadap suatu masa yang sebenarnya tidak pernah dialami secara langsung.
Gen Z, kata Virginia, mengenal era analog melalui cerita orangtua, film, musik, media sosial, maupun berbagai tren yang menggambarkan masa tersebut sebagai periode yang lebih sederhana, lebih lambat, dan lebih nyata.
"Nostalgia memang berperan, tapi belum tentu artinya nostalgia akan pengalaman pribadi. Dalam psikologi, dikenal konsep vicarious nostalgia, yakni rasa rindu terhadap suatu masa yang sebenarnya tidak pernah kita alami secara langsung," ujarnya.
Baca juga: Sopir Truk Penabrak 6 Motor di Simpang Unisma Bekasi Ditangkap, Sempat Pingsan
Gambaran mengenai masa lalu yang dianggap lebih sederhana itu kemudian memunculkan ketertarikan emosional, meskipun mereka tidak pernah benar-benar hidup pada era tersebut.
Namun, Virginia mengingatkan bahwa nostalgia yang muncul saat ini juga dapat berupa gambaran yang telah teridealisasi.
Artinya, yang dirindukan bukan semata-mata teknologi analog, melainkan nilai yang dilekatkan pada teknologi tersebut, seperti kesederhanaan, kedekatan antarmanusia, dan kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam sebuah momen.
Virginia melihat tren penggunaan kamera analog juga tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan estetika maupun gaya hidup.
Menurut dia, fenomena tersebut kemungkinan merupakan kombinasi antara daya tarik visual dan kebutuhan psikologis yang lebih mendalam.




