BEKASI, KOMPAS.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengakui kemacetan di kawasan Stasiun Bekasi masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi meski penertiban rutin terus dilakukan.
Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengatakan, petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setiap hari diterjunkan untuk menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan serta aktivitas yang mengganggu kelancaran lalu lintas di sekitar stasiun.
Namun, menurut Harris, kondisi tersebut kerap kembali seperti semula setelah petugas meninggalkan lokasi.
"Setiap hari kami rapikan itu. Kami juga meminta Dishub dan Satpol PP akan terus berjaga. Tapi terkadang begitu tidak ada petugas sedikit, langsung parkir lagi," ujar Harris saat ditemui Kompas.com di Plaza Pemkot Bekasi, Senin (29/6/2026).
Baca juga: Truk Tabrak 5 Motor di Simpang Unisma Bekasi, 9 Orang Luka, 1 Tewas
Pemkot Bekasi Andalkan JPO untuk Kurangi KemacetanHarris mengatakan, keberadaan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang saat ini sedang dibangun di kawasan Stasiun Bekasi diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.
Dengan adanya fasilitas tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi menyeberang langsung di badan jalan sehingga arus kendaraan dapat mengalir lebih lancar.
"Sehingga nantinya tidak ada lagi orang menyeberang, mereka lewat jembatan. Para ojol juga sudah kami imbau terus untuk tidak boleh parkir di situ," katanya.
Selain itu, Pemkot Bekasi juga berencana menata lokasi parkir khusus bagi pengemudi ojek online (ojol) dan angkutan kota (angkot) agar kendaraan tidak lagi berhenti atau menunggu penumpang di badan jalan.
"Kami juga akan melakukan perapihan dan menyiapkan tempat khusus parkir ojol dan angkot agar mereka tidak berkerumun di sekitar jalan," ujar Harris.
Baca juga: Daftar Korban Truk Tabrak 6 Motor di Simpang Unisma Bekasi: 1 Tewas, 9 Orang Luka-luka
Pengguna Jalan Soroti Sejumlah Penyebab KemacetanSebelumnya, sejumlah pengguna jalan mengeluhkan kemacetan yang hampir setiap hari terjadi di kawasan Stasiun Bekasi, tepatnya di Jalan Ir H Juanda, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.
Salah seorang pengguna jalan, Yudis (38), mengatakan kepadatan lalu lintas umumnya terjadi pada jam berangkat dan pulang kerja, terutama saat palang pintu perlintasan kereta ditutup.
Menurut dia, kendaraan yang masih berada di area perlintasan ketika palang mulai ditutup menyebabkan antrean memanjang dan menghambat arus kendaraan di belakangnya.
"Otomatis yang di belakang ikut tertahan. Dari situ macetnya mulai panjang," ujar Yudis saat ditemui di Stasiun Bekasi, Rabu (24/6/2026).
Selain penutupan palang kereta, aktivitas penumpang yang menyeberang langsung di badan jalan juga dinilai memperparah kemacetan karena membuat kendaraan harus memperlambat laju bahkan berhenti.
Baca juga: Sopir Truk Sempat Kurangi Kecepatan Sebelum Tabrak 6 Motor di Simpang Unisma Bekasi
Yudis juga menyoroti angkutan kota yang kerap berhenti menunggu penumpang di sekitar stasiun hingga memakan sebagian badan jalan.
Tak hanya itu, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di trotoar, sepeda motor ojek online yang diparkir di atas trotoar, hingga taksi online yang menaikkan dan menurunkan penumpang di badan jalan dinilai semakin mempersempit ruang lalu lintas.
"Jadi penyebabnya banyak. Angkot ngetem, ojol parkir di trotoar, taksi online berhenti di tengah jalan, ditambah PKL. Akhirnya jalan makin sempit," katanya.
Meski terdapat petugas Dishub dan Pos Polisi yang mengatur arus lalu lintas di lokasi, Yudis menilai kemacetan masih sulit diatasi karena banyak pengguna jalan yang belum tertib.
"Petugas sebenarnya ada, tapi kalau pengendaranya masih banyak yang melanggar ya tetap saja macet," ujar Yudis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




