Jangan Abaikan! Sering Kencing Lebih dari 8 Kali Sehari Bisa Jadi Tanda Penyakit

tabloidbintang.com
2 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Terlalu sering buang air kecil, sulit menahan kencing, hingga harus berlari ke toilet bukan sekadar gangguan sepele.

Menurut Prof. dr. Harrina Erlianti Rahardjo, Sp.U(K), Ph.D, kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan kandung kemih yang memerlukan pemeriksaan sejak dini agar tidak menurunkan kualitas hidup.

Prof. Harrina menjelaskan, pada kondisi normal seseorang buang air kecil setiap empat hingga lima jam. Kandung kemih akan menyimpan urine hingga penuh sebelum mengirim sinyal ke otak untuk berkemih.

"Kalau dari bangun pagi sampai malam frekuensi buang air kecil sudah lebih dari delapan kali, atau harus bangun satu hingga dua kali setiap malam untuk kencing, itu sudah menjadi tanda yang perlu dievaluasi," ujar Prof. Harrina memberikan dalam sesi Health Talk pada acara peresmian Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic di Jakarta, Senin (29/06) pagi. 

Selain frekuensi yang meningkat, dorongan buang air kecil yang datang tiba-tiba hingga sulit ditahan, bahkan menyebabkan kebocoran urine saat belum sempat mencapai toilet, juga tidak boleh dianggap sebagai proses penuaan yang normal.

Menurutnya, masih banyak pasien menunda berobat karena menganggap keluhan tersebut wajar, padahal sebagian besar gangguan kandung kemih dapat ditangani apabila penyebabnya diketahui lebih awal.

Terapi Tak Selalu Diawali Obat

Tak hanya itu, Prof. Harrina menegaskan penanganan gangguan berkemih tidak selalu harus diawali dengan obat. Justru langkah pertama yang sering terlupakan adalah terapi perilaku atau perubahan gaya hidup.

"Kebiasaan sehari-hari sangat memengaruhi gejala. Misalnya konsumsi kopi atau teh berkafein dalam jumlah berlebihan, minum air terlalu banyak, atau kebiasaan buang air kecil setiap melihat toilet meski kandung kemih belum penuh," jelasnya.

Prof. Harrina lebih lanjut memaparkan, pasien juga dapat menjalani bladder retraining untuk melatih kembali kandung kemih mengenali waktu yang tepat untuk berkemih. 

Bila diperlukan, terapi dilanjutkan dengan pelvic floor muscle training untuk memperkuat atau merelaksasi otot dasar panggul sesuai kondisi pasien.

Apabila perubahan gaya hidup, fisioterapi, dan obat-obatan belum memberikan hasil optimal, tersedia terapi lanjutan seperti injeksi botulinum toxin (Botox) untuk kandung kemih yang terlalu aktif, pemasangan sling pada kasus kebocoran urine akibat kelemahan dasar panggul, hingga neuromodulasi saraf menggunakan alat stimulasi khusus pada kasus tertentu.

"Semua terapi harus disesuaikan dengan penyebabnya. Karena itu, jangan mengobati sendiri. Datanglah untuk diperiksa agar diagnosisnya tepat dan terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien," pungkas Prof. Harrina.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Fakta Unik Hiu Martil, Predator Laut dengan Penglihatan Hampir 360 Derajat-Serius Ini Hewan?
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pertamina Geothermal (PGEO) Catat All Time High Produksi Tiga Tahun Berturut-turut di PLTP Kamojang
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Tak Hanya Apresiasi Kunjungan Wisatawan Indonesia ke Kelantan, Datuk Mohamed Fadzli Kutip Surat Al Hujurat Ayat 13
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Jazakallahu Khairan Artinya? Simak Makna, Hadis, dan Cara Menjawabnya
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman dr Icha di Kupang
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.