Cerita Para WNI Hadapi Gelombang Panas yang Landa Eropa

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Gelombang panas ekstrem melanda Eropa. Suhu yang tinggi ini ikut dirasakan oleh Warga Negara Indonesia yang tinggal di sana.

Berbagai cara mereka lakukan untuk mengurangi udara panas yang mereka rasakan. Di London, Inggris, misalnya, Anton Alifandi (59) memilih tidur dengan seluruh jendela dan pintu rumah terbuka agar udara tetap mengalir.

Anton, diaspora Indonesia yang telah tinggal di London selama 33 tahun, mengatakan suhu di ibu kota Inggris sempat menyentuh pertengahan 30 derajat Celsius.

Menurutnya, angka tersebut menjadi persoalan karena sebagian besar rumah di Inggris memang dibangun untuk menghadapi musim dingin, bukan cuaca panas.

"Rumah-rumah di Inggris dibangun justru untuk menyimpan panas. Rumah saya dibangun tahun 1937 dan memang tidak dilengkapi pendingin ruangan," kata Anton kepada kumparan, Senin (29/6).

"Hari Kamis saya kerja dari rumah, rasanya susah sekali konsentrasi karena panas. Besoknya saya memilih kerja di kantor karena ada AC," lanjutnya.

WNI lainnya, Dandi Yuda (28) yang tinggal di Jenewa, Swiss, lebih sering menghabiskan waktu berenang di danau, bahkan "kabur" sejenak ke Slovenia demi menghindari suhu yang terasa mencapai 40 derajat Celsius.

"Keseharian ya stay di dalam rumah, minum banyak, sama renang di danau, biasanya ke Plage des Eaux-Vives" katanya.

Meski tinggal di negara berbeda, keduanya sama-sama merasakan bahwa heatwave tahun ini jauh lebih ekstrem dibanding biasanya sejak pekan lalu.

Penyebab Gelombang Panas

Gelombang panas yang menghantam Eropa saat ini ialah yang terparah dan terluas sepanjang sejarah modern. Para ilmuwan menyatakan kondisi ekstrem ini kemungkinan besar terjadi karena krisis iklim yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil.

“Ini adalah gelombang panas paling parah dan paling luas yang pernah memengaruhi wilayah sebesar ini di Eropa,” kata Dr Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London sekaligus anggota tim WWA, mengutip The Guardian.

Menurut Keeping, selama 50 tahun terakhir ketika suhu Bumi telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius, peluang terjadinya gelombang panas seperti ini berubah drastis.

“Peristiwa seperti ini tidak mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa perubahan iklim,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak ibu kota di Eropa bukan hanya mengalami periode tiga hari terpanas sepanjang Juni, tetapi juga tiga hari terpanas sepanjang tahun. Setidaknya 100 juta orang di Eropa diperkirakan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius pada Kamis (25/6).

Dalam analisisnya, para ilmuwan menggunakan indikator wet bulb globe temperature, yaitu ukuran yang memperhitungkan suhu sekaligus kelembapan untuk mengetahui kemampuan tubuh manusia melepaskan panas.

“Indikator ini menggambarkan kemampuan tubuh untuk mendinginkan dirinya sendiri. Dengan 45 persen kota berpenduduk lebih dari 50 ribu orang mengalami kondisi terburuk sepanjang sejarah, dampak kesehatan dari gelombang panas ini kemungkinan sangat tinggi,” kata Keeping.

Keeping menambahkan bahwa laju perubahan yang terjadi saat ini sangat mengejutkan.

Kenaikan Suhu di Eropa

Setidaknya ada 191 juta orang yang terpapar gelombang panas ini pada Minggu (28/6) di Eropa. WHO juga mencatat ada 1.300 kematian pada periode gelombang panas yang terjadi sejak 21 Juni 2026 sampai hari ini.

Berdasarkan laporan European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) dan Copernicus Climate Change Service (C3S), sejak 1965 hingga 2025 wilayah di Eropa mengalami kenaikan suhu permukaan rata-rata mencapai 0,1 hingga 1,5 derajat celcius per tahunnya.

Dalam ECMWF juga dilaporkan, benua Eropa mengalami pemanasan lebih cepat daripada benua lain dalam beberapa dekade terakhir.

Tingkat peningkatan suhu rata-rata di Eropa, menurut ERA5 (database cuaca dan iklim bumi), yaitu 0,49 hingga 0,09 derajat celcius per dekade, dari tahun 1979 hingga 2025.

Sementara itu, dari tahun 1996 hingga 2025 kenaikan suhu rata-rata mencapai 0,56 hingga 0,15 derajat celcius.

Bahkan, The Reuters Climate Monitor yang juga mengolah dataset ERA5 dari ECMWF menyebut Eropa menjadi benua yang mengalami kenaikan suhu permukaan paling jauh dari kondisi suhu normalnya.

Jika dibandingkan dengan benua lain, Eropa mengalami kenaikan anomali suhu terbesar mencapai 3,6 derajat celcius dalam periode 1961 hingga 1990.

Meski dalam periode tahun itu, suhu tertinggi di Eropa hanya 24,2 derajat celcius. Artinya, angka tersebut belum melampaui suhu di benua-benua lainnya, seperti Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.

Kenaikan suhu permukaan ini cukup signifikan jika kita melihat kondisi di benua Eropa saat ini. Sebab, dilansir AFP, suhu di ibu kota Republik Ceko, Praha tercatat mencapai 41 derajat celsius.

Hal itu disampaikan oleh institut meteorologi Ceko, CHMI yang mengukur di daerah Doksany, sebelah utara Praha. Tak hanya itu, ternyata suhu yang sama juga dirasakan di Jerman. Dinas Pengamatan Cuaca Jerman (DWD) juga mencatat suhu mencapai 41,7 derajat celsius.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Periksa 3 Legislator TTU dalam Penyelidikan Dugaan Intimidasi terhadap Dokter Icha
• 22 jam lalueranasional.com
thumb
Kritik Komunikasi Publik Komnas Perempuan Usai Sebut Penyekapan YTR Bukan Penyiksaan
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Warga Binaan Lapas Warungkiara Bangun Harapan Baru Lewat Program Bedah Rumah untuk Warga
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Program Magang Nasional 2026 Resmi Dibuka, Kuota Tahun Ini 100.000 Peserta
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Masih Ingat Devi Noviaty Eks Cherrybelle? Lama Tak Muncul, Kini Dicari Lagi Usai FTV Bareng Sarwendah Viral
• 3 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.