El Nino Godzila Tak Cuma Bikin Gerah, Waspadai Risiko DBD bagi Keluarga, Moms

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Beberapa waktu belakangan cuaca sedang panas-panasnya. Setuju, Moms?

Melihat si kecil gampang berkeringat, rewel, atau tiba-tiba badannya sumeng sedikit saja, rasanya bikin kita langsung overthinking. Apalagi dengan ramainya pemberitaan soal "El Niño Godzilla" yang melanda sejumlah wilayah dunia sejak pertengahan 2026, istilah populer untuk menggambarkan El Niño dengan intensitas yang sangat kuat.

Meski terjadi di Samudra Pasifik, dampaknya turut dirasakan Indonesia, dengan BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Di tengah cuaca panas menyengat ini, beberapa orang tua berpikir risiko Demam Berdarah Dengue (DBD) ikut menurun karena nyamuk lebih identik dengan musim hujan. Sayangnya, anggapan itu ternyata keliru, Moms. Ternyata ada risiko DBD yang tetap mengintai.

Kenapa El Nino Godzilla Bikin Nyamuk Lebih Ganas?

El Niño merupakan fase hangat dari El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yaitu interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik ekuator. Saat El Niño terjadi, suhu permukaan laut meningkat dan pola angin perdagangan berubah. Akibatnya, wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, cenderung lebih panas dan kering, meskipun beberapa daerah juga dapat mengalami perubahan pola hujan.

Berbeda dari musim panas biasa, El Niño "Godzilla" merujuk pada El Niño dengan intensitas yang sangat kuat, di mana dampak panas dan kekeringan lebih ekstrem dan berlangsung lebih lama. Kondisi ini dapat turut mengubah pola hujan, memperpanjang kekeringan di beberapa wilayah, sekaligus memicu cuaca yang tidak menentu di wilayah lain. Hal inilah yang membuat orang tua perlu lebih waspada, mengingat kondisi ini turut memengaruhi siklus hidup dan membuat aktivitas nyamuk Aedes aegypti meningkat.1

Alih-alih membuat nyamuk tidak aktif, suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk dan meningkatkan frekuensi gigitan. Akibatnya, nyamuk yang sudah terinfeksi dapat lebih cepat menularkan virus dengue kepada manusia.1

Perubahan pola hujan akibat El Niño dapat menciptakan risiko dari dua sisi. Saat cuaca kering berlangsung lebih lama, sebagian air dapat tertahan di area yang jarang diperhatikan, seperti saluran air yang tidak mengalir lancar, tatakan pot tanaman, ember kecil di area servis, penampungan air dispenser, hingga sudut balkon atau taman.

Ketika hujan kembali turun, genangan air juga dapat muncul di sekitar rumah dan lingkungan, terutama bila saluran air tersumbat atau benda-benda terbuka menampung air hujan. Kondisi inilah yang dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak dan meningkatkan risiko penyebaran DBD, baik saat cuaca kering maupun setelah hujan.1

Analisis dari Dengue Academy yang diterbitkan pada 20 Mei 2026 menunjukkan, pada tahun-tahun dengan El Niño kuat, insiden DBD meningkat hingga 96 persen dibanding tahun-tahun saat cuaca normal. Data ini diperoleh dari 34 provinsi di Indonesia antara 2010 dan 2024. Pada 2024, tercatat sekitar 250 ribu kasus DBD dengan lebih dari 1.400 kematian. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih waspada dengan kesehatan keluarga, terutama anak.

Perlindungan Terbaik untuk Keluarga

Jadi, Moms, DBD bukan penyakit musiman yang hanya muncul saat hujan, ya. Risikonya bisa ada sepanjang tahun, terutama ketika perubahan cuaca membuat nyamuk lebih mudah berkembang biak.

Pencegahan menjadi langkah yang paling penting karena belum ada obat khusus untuk membunuh virus dengue. Anda bisa memulainya dari kebiasaan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Sedangkan Langkah “Plus” bisa dilakukan antara lain dengan menggunakan lotion atau obat anti nyamuk, memasang kelambu atau kawat kasa, menaburkan larvasida pada tempat air yang sulit dikuras, memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk, dan tidak menggantung pakaian di dalam rumah.

Namun, perlindungan keluarga kini perlu lebih menyeluruh. Anda juga perlu memperkuat perlindungan dari dalam tubuh, salah satunya dengan berkonsultasi dengan dokter mengenai vaksin DBD.

Hal ini penting, tidak hanya untuk yang belum pernah terjangkit DBD, tetapi juga untuk yang sudah pernah terjangkit, karena seseorang bisa terkena DBD lebih dari satu kali. Virus dengue memiliki empat serotipe berbeda, sehingga pernah terinfeksi satu jenis virus tidak otomatis membuat tubuh kebal terhadap jenis lainnya.

Pada beberapa kasus, infeksi kedua atau berikutnya juga dapat meningkatkan risiko gejala yang lebih berat. Karenanya, Anda perlu mulai membangun perlindungan yang lebih lengkap untuk keluarga melalui 3M Plus dan vaksin DBD, ya.

Untuk informasi lebih mendalam tentang DBD, kunjungi cegahdbd.com dan konsultasi lebih lanjut seputar pencegahan DBD dengan dokter ya, Moms. #Ayo3MPlusVaksinDBD

C-ANPROM/ID/QDE/1197 | Juni 2026


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peneliti Pecahkan Misteri Lama Jam Tidur yang Cukup Bagi Manusia
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
AS dan Iran Kirim Tim ke Qatar di Tengah Kabar Rencana Negosiasi
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Google Batasi Akses Model AI Gemini buat Meta, Tak Mampu Penuhi Permintaan Besar
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Prediksi Brasil Vs Jepang: Statistik, Head to Head, dan Perkiraan Skor
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Ratusan Lulusan Pesantren Jawa Barat Dilepas ke China hingga Rusia
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.