Sebanyak 175 lulusan SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat, dilepas untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri, dengan mayoritas menuju China. Selain itu, sebagian lulusan juga akan menempuh pendidikan di Tunisia, Rusia, dan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Pelepasan para lulusan dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Dalam kesempatan tersebut, ia berpesan agar para santri membekali diri dengan tiga hal utama untuk menghadapi tantangan masa depan.
Menurut Cak Imin, santri harus memiliki kemampuan atau keterampilan, menjunjung tinggi integritas, serta taat pada ilmu pengetahuan. Ketiga bekal tersebut dinilai penting agar para lulusan mampu berkontribusi bagi bangsa setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia tengah memasuki masa bonus demografi yang akan menjadi penentu arah pembangunan nasional dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, para lulusan diharapkan dapat memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya.
"Kalau sekarang kalian lulus, berarti pada 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA pada 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian," ujarnya Senin, (29/6/2026) dikutip dari ANTARA.
Cak Imin optimistis lulusan pesantren, termasuk dari BIMA, mampu berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan.
Sementara itu, Pengasuh BIMA Imam Jazuli mengatakan selain 175 lulusan yang melanjutkan studi ke luar negeri, terdapat pula 99 santri yang diterima di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mayoritas memilih program studi umum yang disesuaikan dengan kebutuhan strategis bangsa.
Baca Juga: Tambah Lima Ruas Jalan di Papua, Gubernur Papua hingga Bupati Jayapura Sampaikan Pesan untuk Prabowo
Menurut Imam, pesantren saat ini tidak hanya berperan mencetak santri yang saleh, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang menguasai berbagai bidang ilmu dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional.
"Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, melainkan juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara," kata Imam.





