CILACAP, KOMPAS.com - Stigma seram Lapas Nusakambangan kini mulai sirna di benak Rahmat (32 tahun), seorang narapidana kasus narkotika di Nusakambangan yang menjalani pembinaan untuk mengurus tambak udang vaname.
Dengan perangkat GPS yang melingkar di kakinya, Rahmat diberikan ruang menumbuhkan keterampilan baru sebagai bekalnya agar lebih bertanggung jawab dan siap kembali ke tengah masyarakat.
Ayah dua anak ini sesungguhnya bukan penghuni lama Nusakambangan.
Ia baru masuk ke Lapas Nusakambangan pada tahun lalu setelah dipindahkan dari Lapas Bentiring, Bengkulu, gara-gara kedapatan menggunakan ponsel di dalam penjara.
Baca juga: Menjaga Penghuni Jeruji Nusakambangan dari Makhluk Penyerang Paru-paru
Saat pertama menginjakkan kaki di Nusakambangan, Rahmat pun sempat ditempatkan selama delapan bulan di Lapas Ngaseman dengan maximum security.
Namun, seiring waktu berjalan, hasil asesmen menunjukkan Rahmat mulai memiliki sikap taat aturan yang membuatnya ditawari untuk mengurus tambak udang.
Tawaran itulah yang mengubah hidup Rahmat sehingga kini malah merasa nyaman berada di Nuskambangan.
"Lebih nyaman di sinilah, sudah kayak kita kayak sudah kayak semi bebas sih, santai di luar," cerita Rahmat di Nusakambangan, Cilacap, Jateng, Senin (29/6/2026).
Baca juga: Menkes Puji Lapas Nusakambangan: Tidak Seseram yang Saya Bayangkan
Hari-hari Rahmat di Nusakambangan memang tidak seperti narapidana di benak kebanyakan orang.
Meski berstatus narapidana dari Lapas Kelas IIA Permisan Nusakambangan yang berkeamanan menengah (medium risk/security), sebagian waktu Rahmat justru dihabiskan di luar sel.
Rahmat begitu senang diberikan kepercayaan untuk mengelola tambak udang, mulai dari pemberian pakan, obat hingga membersihkan kolam.
Perlahan-lahan, stigma menyeramkan dari Lapas Nusakambangan yang terkenal dengan pengamanan super ketat ini perlahan memudar di kepala Rahmat.
Baca juga: Nusakambangan Disulap dari Pulau Penjara Jadi Sentra Pangan, Titiek Soeharto: Ternyata Friendly
"Bayangan saya ya Nusakambangan, siapa yang enggak tahu Nusakambangan kan? Benar-benar wah, takut. Tapi setelah saya di tambak ini, ya rasa serem di Nusakambangan ini sudah hilang, tidak seseram yang dibayangkan," kata dia.
Rahmat tidak menampik bahwa nasibnya tergolong beruntung karena tidak semua napi memiliki kesempatan yang sama untuk bisa "bebas" mengelola ketahanan pangan.
Ia pun menjadikan keistimewaan yang ia peroleh sebagai tabungan ilmu dan keterampilan yang bakal menjadi bekalnya saat benar-benar menghirup udara bebas kelak.





