Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan peristiwa kekeringan dampak musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah saat ini dalam penanganan maksimal. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa upaya penanganan darurat melalui distribusi air bersih terus diintensifkan oleh BPBD di daerah terdampak.
"Upaya penanganan darurat kekeringan akibat dampak musim kemarau terpantau masih terus dilakukan di sejumlah daerah di Jawa Tengah, di antaranya Kabupaten Banyumas, Boyolali, dan Klaten," kata dia, melansir Antara, Selasa, 30 Juni 2026.
Abdul memaparkan, penanganan maksimal di Kabupaten Banyumas dilakukan BPBD setempat dengan menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 5.000 liter untuk masyarakat di Desa Taman Sari, Kecamatan Karanglewas.
Baca Juga :
BMKG: 83 Zona Musim di Indonesia Capai Puncak Kemarau pada Juli 2026Langkah penanganan paling masif dilaporkan berlangsung di Kabupaten Klaten, di mana BPBD setempat menyuplai 60.000 liter air bersih atau setara 12 tangki mobil air dalam sehari untuk 301 KK di Desa Sidorejo.
Dia menjelaskan secara kumulatif, total bantuan air bersih yang telah disalurkan di wilayah Klaten telah mencapai 169 tangki atau setara 845.000 liter, yang manfaatnya dirasakan oleh 2.970 KK di empat desa rawan.
Ilustrasi krisis air. (Dok BNPB)
Adapun sebaran wilayah yang mendapat pasokan air di Klaten meliputi Desa Tlogowatu, Desa Tegalmulyo, Desa Kendalsari, dan Desa Sidorejo yang secara berkala terus dipantau oleh petugas lapangan.
Menyikapi perkembangan tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemarau dengan menggunakan air secara bijak serta menghindari aktivitas pembakaran lahan.
"Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat mitigasi melalui pemantauan wilayah rawan, kesiapan sumber daya, serta memastikan ketersediaan logistik air bersih bagi masyarakat yang berpotensi terdampak kekeringan," kata Abdul.




