HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Jejak peradaban awal metalurgi di kawasan Danau Matano menjadi salah satu pembahasan utama dalam seminar nasional yang digelar di Aula Lantai 1 Gedung LPPM Unhas. Dalam pemaparannya, penggerak sejarah dan budaya Matano, Sharon T., menjelaskan bahwa Matano merupakan kawasan penting dalam sejarah perkembangan teknologi pengolahan besi di Nusantara yang didukung oleh temuan arkeologi, dokumen sejarah, dan hasil penelitian lintas disiplin.
Sharon mengatakan rekam jejak sejarah Matano tidak hanya bersumber dari dokumen lokal, tetapi juga dari arsip luar negeri, termasuk catatan para peneliti Belanda yang meneliti budaya Matano dan wilayah sekitarnya pada awal abad ke-19. Menurutnya, Matano memiliki peran penting sebagai pusat peradaban awal besi di Sulawesi Selatan, di mana hasil olahan besi dari kawasan sekitar Danau Matano diduga telah memberi pengaruh terhadap perkembangan berbagai daerah di Nusantara, termasuk pada masa Kerajaan Majapahit.
Dalam seminar tersebut dijelaskan bahwa tradisi metalurgi di Nusantara berkembang melalui kemampuan masyarakat mengolah logam menjadi berbagai peralatan dan senjata yang kemudian menjadi bagian dari identitas budaya. Berdasarkan hasil penelitian, teknologi metalurgi di Indonesia diperkirakan lebih banyak dipengaruhi India dibandingkan Tiongkok. Pengaruh tersebut diduga masuk melalui jalur perdagangan yang tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga teknologi, budaya, dan agama ke Nusantara.
Untuk mengungkap sejarah perkembangan industri logam tersebut, tim peneliti melakukan penelitian di kawasan Danau Matano pada periode 2016–2021 dengan menggunakan berbagai pendekatan, seperti arkeologi bawah air, survei arkeologi, analisis geologi, serta analisis X-Ray Fluorescence (XRF) untuk mengetahui komposisi material artefak. Penelitian dilakukan di sejumlah lokasi, antara lain Pulau Apat, Kontanda, dan Pulau Umma. Salah satu temuan penting berada di Situs Pulau Apat yang diduga merupakan bagian dari daratan utama pada masa lampau sebelum terpisah akibat perubahan lingkungan.
Selain itu, Sharon menjelaskan bahwa berbagai temuan artefak dan tembikar kuno yang tersebar di kawasan Danau Matano semakin memperkuat bukti keberadaan peradaban masa lalu. Beberapa di antaranya telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya, seperti Situs Pulau Empat Danau Matano, yang diperkirakan merupakan bekas kampung tua yang tenggelam dengan artefak berasal dari abad ke-7 Masehi. Penelitian juga menemukan mata tombak yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi. Meski demikian, pelestarian kawasan bersejarah tersebut masih menghadapi tantangan akibat keberadaan wilayah konsesi tambang nikel yang berdampingan dengan tanah adat Matano.
Sharon menegaskan bahwa pelestarian sejarah Matano memerlukan kolaborasi lintas disiplin melalui penelitian, seminar, kajian ilmiah, dan kerja sama berbagai pihak agar terbentuk narasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Ia juga merekomendasikan agar sejarah lokal Matano dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Luwu Timur. “Yang paling penting adalah mewariskan kepada anak cucu kita bahwa di Matano pernah berdiri sebuah peradaban dengan pengetahuan metalurgi kuno yang berjaya. Sejarah adalah brankas masa lalu untuk menata masa depan yang lebih baik. Think Global – Act Local,” jelas.
Rina Agustina
Magang FAJAR





