Bisnis.com, JAKARTA — Pemegang saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) resmi menyetujui rencana pembagian dividen tunai tahun buku 2025 dengan total nilai mencapai kisaran Rp2,7 triliun. Keputusan tersebut disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Selasa (30/6/2026).
Total dividen yang digelontorkan oleh entitas Harita Group ini setara dengan rasio pembayaran (dividend payout ratio) sebesar 30% dari laba bersih tahun buku 2025. Persentase rasio itu tercatat stabil dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Berdasarkan publikasi data dari Stockbit Group, nilai pembagian tersebut mengindikasikan dividen sebesar Rp42,64 per lembar saham bagi para investor.
Merujuk pada harga saham NCKL yang bertengger di level Rp800 per lembar pada perdagangan intraday Selasa (30/6/2026), Stockbit memperkirakan indikasi tingkat imbal hasil dividen alias dividend yield yang dihasilkan berada di kisaran 5,3%.
Hingga saat ini, manajemen perseroan belum mengumumkan lebih lanjut terkait jadwal perdagangan saham dengan hak dividen serta tanggal resmi pendistribusian atau pembayaran dividen tunai tersebut ke rekening pemegang saham.
Di sisi lain, perseroan akan melanjutkan pengelolaan operasional secara terukur di seluruh rantai nilai, mulai dari penambangan hingga pengolahan sepanjang 2026.
Baca Juga
- Siasat Harita Nickel (NCKL) Jaga Daya Saing di Tengah Tekanan Harga Nikel
- Harita Nickel (NCKL) Siapkan Buyback Saham Jumbo Rp1 Triliun
- Kilau Harga Saham Harita Nikel (NCKL) Menuju Rp2.100 Seiring Lonjakan Produksi
Head of Investor Relations Harita Nickel Lukito Gozali mengatakan penguatan ketahanan usaha dalam menghadapi perkembangan industri ke depan akan bertumpu pada optimalisasi operasional dan penguatan daya saing jangka panjang.
“Saat ini industri nikel global sangat dinamis dan penuh tantangan, fokus kami adalah tetap menjaga operasional tetap berjalan secara efisien, terukur, dan bertanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
Di tengah tekanan harga nikel global, NCKL terus menjaga kesinambungan kegiatan usaha. Sebagai catatan, perseroan membukukan pendapatan Rp29,63 triliun sepanjang 2025 dan mengantongi Rp6,81 triliun pada kuartal I/2026.
Dari sisi operasional, seluruh lini produksi berjalan sesuai target, mencakup segmen penambangan bijih nikel, pengolahan pirometalurgi melalui jalur Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), serta pengolahan hidrometalurgi melalui jalur High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menghasilkan MHP dan nikel sulfat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





