Grid.ID - KG Media ikut serta dalam GSDC yaitu Global Sustainable Development Congress, sebuah forum kongres internasional yang mempertemukan ribuan pemimpin dari kalangan pendidikan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil. Ajang ini diselenggarakan di ICE BSD pada hari Senin (22/6/2026) hingga Kamis (25/6/2026).
Chief Executive Officer KG Media Andy Budiman memaparkan bagaimana perusahaan media perlu membangun keberlanjutan bisnis di tengah dua disrupsi besar, yakni perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan krisis iklim, dalam sesi "Sustainability Leadership in a Transforming Media Business".
Dalam paparannya, Andy menjelaskan bahwa industri media telah mengalami perubahan fundamental sejak kemunculan internet hingga era AI. Selama lebih dari 400 tahun sejak surat kabar pertama diterbitkan, model hubungan antara media dan audiens terjadi secara langsung. Audiens berlangganan media cetak berlandaskan kepercayaannya terhadap jurnalisme, kemudian para pengiklan bersedia membayar premium untuk menjangkau audiens media yang aktif dan kredibel.
Namun, model tersebut berubah ketika platform digital menjadi perantara antara media dan audiens. Menurut Andy, perusahaan teknologi kini menguasai sebagian besar rantai nilai, sementara organisasi media tetap memproduksi konten jurnalistik tanpa memperoleh nilai ekonomi yang sepadan.
"Di era platform, media masih memperoleh sebagian value capture melalui traffic dan pendapatan iklan. Namun di era AI, jurnalisme diserap, diproses, dan direproduksi, sering kali tanpa atribusi maupun kompensasi. Saat hubungan dengan audiens hilang, kemampuan media untuk menangkap nilai dari karya jurnalistiknya pun ikut hilang," ujar Andy.
Selain disrupsi teknologi, Andy menyoroti bagaimana perubahan iklim turut mempengaruhi keberlangsungan industri media. Menurutnya, belanja iklan yang masih menjadi salah satu sumber pendapatan utama media cenderung jauh lebih tidak stabil dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Ketika krisis iklim memicu perlambatan ekonomi, industri media turut merasakan dampaknya.
Di tengah berbagai perubahan tersebut, Andy mengajak peserta kembali kepada makna kata "disrupsi". Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia, ia menjelaskan bahwa disrupsi berarti "tercabut dari akarnya".
Andy kemudian mengulas perjalanan Kompas sejak pertama kali terbit pada 28 Juni 1965. Menurutnya, meskipun teknologi, platform, dan model bisnis terus berubah, tujuan Kompas sebagai institusi jurnalistik tetap sama, yakni menjadi "Harian untuk Umum" dan mengemban "Amanat Hati Nurani Rakyat" dengan mengingatkan masyarakat dan pemerintah terhadap berbagai persoalan yang mengancam kesejahteraan bersama.
Salah satu tantangan tersebut adalah lambatnya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Hingga saat ini, Indonesia berada di peringkat ke-77 dari 167 negara dalam pencapaian SDGs dan menempati posisi keempat di Asia Tenggara. Di tingkat global, hanya sekitar 15 persen target SDGs yang berada pada jalur pencapaian menuju 2030.
Berangkat dari tantangan tersebut, KG Media meluncurkan platform keberlanjutan Lestari pada 2023 sebagai upaya memperkuat literasi publik sekaligus mempercepat pencapaian SDGs melalui seluruh kanal media Kompas Gramedia.
Selain itu, Andy menjelaskan bahwa AI juga dimanfaatkan untuk menganalisis distribusi liputan berdasarkan 17 tujuan SDGs. Hasil analisis menunjukkan bahwa isu seperti pertumbuhan ekonomi, industri, kesehatan, dan perubahan iklim mendominasi pemberitaan. Sebaliknya, isu seperti pengentasan kelaparan, ekosistem laut, perdamaian, dan kelembagaan masih relatif kurang mendapat perhatian.
"Temuan ini menjadi pengingat bahwa media tidak cukup hanya mengikuti isu yang ramai dibicarakan. Justru isu-isu yang kurang mendapatkan perhatian publik sering kali merupakan tantangan terbesar yang harus terus diangkat," jelasnya.
Untuk memperkuat kualitas pemberitaan, KG Media juga terus meningkatkan kapasitas jurnalis melalui pelatihan dan sertifikasi peliputan keberlanjutan agar mampu menghasilkan liputan berbasis data sekaligus menghindari praktik greenwashing maupun klaim keberlanjutan yang berlebihan.
Komitmen tersebut juga diterapkan dalam operasional perusahaan melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, termasuk target karbon netral untuk emisi Scope 1 dan Scope 2, serta kolaborasi dengan berbagai mitra dari sektor swasta, akademisi, yayasan, hingga organisasi media di kawasan Asia guna memperluas dampak keberlanjutan.
Di sisi bisnis, KG Media terus melakukan diversifikasi sumber pendapatan melalui penyelenggaraan acara, penerbitan buku, layanan riset, creative marketing, pelatihan, subscription, hingga berbagai layanan berbasis pengetahuan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan iklan sekaligus membangun ketahanan finansial yang memungkinkan perusahaan terus berinvestasi pada jurnalisme berkualitas.
Menutup paparannya, Andy menegaskan bahwa keberlanjutan media tidak hanya berarti menjaga keberlangsungan perusahaan, tetapi juga memastikan institusi jurnalistik tetap mampu menjalankan misinya dalam jangka panjang.
"To secure the sustainability of media is to secure the sustainability of the world we report on. Keberlanjutan berarti memastikan kita tetap mampu menjalankan misi jurnalistik dalam jangka panjang. Sebab, menjaga keberlanjutan media pada akhirnya juga berarti menjaga keberlanjutan dunia yang kita beritakan.”
Melalui transformasi bisnis, penguatan kapasitas jurnalistik, serta kolaborasi lintas sektor, KG Media berupaya memastikan bahwa media tidak hanya melaporkan berbagai tantangan keberlanjutan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi dalam mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan
Artikel Asli




