Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut Eropa kembali menghadapi gelombang panas luar biasa yang memecahkan berbagai rekor suhu pada pengujung Juni 2026. Fenomena ini disertai dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan, kekeringan, badai lokal, hingga gangguan terhadap kesehatan masyarakat, pertanian, infrastruktur, dan produktivitas tenaga kerja.
WMO mencatat lebih dari 150 juta penduduk Eropa terdampak oleh gelombang panas tersebut. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan menyebut lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) telah tercatat sejak 21 Juni 2026 yang berkaitan dengan cuaca panas ekstrem.
Kepala Informasi Iklim WMO John Kennedy mengatakan fenomena tersebut sejalan dengan proyeksi perubahan iklim.
"Gelombang panas seperti inilah yang akan kita hadapi di tengah perubahan iklim yang berlanjut,” kata Kennedy.
Menurut Kennedy, Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Dalam sekitar 50 tahun terakhir sejak gelombang panas besar pada 1976, suhu rata-rata kawasan tersebut telah meningkat sekitar 2 derajat Celsius sehingga kejadian suhu ekstrem kini semakin sering terjadi.
Penyebab Suhu EkstremGelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dan Inggris dalam beberapa hari terakhir dipicu kombinasi sistem tekanan tinggi di atmosfer, aliran udara panas dari selatan, serta dampak perubahan iklim yang membuat kejadian serupa makin sering dan intens.
Baca Juga
- WHO: 1.300 Orang Lebih Diperkirakan Meninggal akibat Panas Ekstrem di Eropa
- Panas Ekstrem dan Kekeringan Bisa Perlebar Kesenjangan Pendapatan di Eropa
- Fenomena Panas "Omega Block" di Prancis Makan Puluhan Korban
Untuk wilayah Inggris, Badan Meteorologi Inggris (Met Office) menjelaskan pemicu utama gelombang panas kali ini adalah terbentuknya sistem tekanan tinggi yang menetap di sekitar kawasan.
Sistem tersebut diperkuat oleh belokan (dip) aliran jet stream di sebelah barat kawasan, sehingga memungkinkan massa udara panas dari Eropa Selatan dan Afrika Utara bergerak ke arah utara.
Dalam kondisi tekanan tinggi, udara bergerak turun menuju permukaan bumi. Saat turun, udara mengalami kompresi sehingga suhunya meningkat. Kondisi ini diperkuat oleh radiasi matahari yang sedang berada pada puncaknya selama musim panas di belahan bumi utara.
Akibatnya, suhu udara terus meningkat dari hari ke hari dengan puncak panas terjadi pada akhir pekan keempat Juni 2026.
Met Office juga menyebut pola atmosfer tersebut membuat cuaca tetap stabil dan cerah sehingga proses pemanasan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Selain suhu tinggi, tingkat kelembapan udara menjadi faktor lain yang membuat gelombang panas kali ini terasa lebih menyengat.
Met Office menjelaskan massa udara yang mencapai Inggris kali ini bergerak melintasi Samudra Atlantik sehingga membawa kandungan uap air lebih tinggi dibandingkan gelombang panas sebelumnya.
Kelembapan yang tinggi meningkatkan suhu titik embun (dew point) yang membuat tubuh manusia lebih sulit melepaskan panas melalui keringat.
Dengan demikian, meskipun suhu udara tidak jauh berbeda dibandingkan kejadian panas ekstrem sebelumnya, kondisi yang lebih lembap membuat cuaca terasa jauh lebih menyesakkan sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas.
Suhu Panas Pecahkan RekorGelombang panas tersebut tercatat telah memecahkan rekor suhu di berbagai negara Eropa.
Di Jerman, suhu tercatat mencapai 41,7 derajat Celsius pada 28 Juni 2026 dengan 252 stasiun cuaca mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang pengamatan. Badan Meteorologi Jerman (DWD) menyebut peristiwa tersebut sebagai gelombang panas bersejarah.
Hungaria mencatat rekor suhu untuk Juni sebesar 40,7 derajat Celsius, sementara Polandia dan Republik Ceko juga mencatat rekor suhu nasional baru yang masing-masing menembus 40 derajat Celsius.
Di Inggris, suhu mencapai 37,3 derajat Celsius di wilayah bagian selatan pada 25 Juni 2026. Met Office bahkan mengeluarkan peringatan merah (Red Warning) selama tiga hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak sistem peringatan cuaca tersebut diberlakukan.
Belanda, Denmark, Austria, Swiss, Prancis, dan Spanyol juga mencatat rekor suhu baru sepanjang Juni.
Prancis mengalami suhu rata-rata nasional harian tertinggi dalam sejarah sebesar 30 derajat Celsius, sedangkan suhu maksimum mencapai 43,8 derajat Celsius di wilayah barat negara tersebut. Pemerintah Prancis menetapkan status peringatan merah di 58 departemen serta memperingatkan meningkatnya risiko kebakaran hutan akibat kondisi kekeringan yang memburuk.
Sementara itu, Spanyol mencatat hari terpanas sepanjang sejarah untuk bulan Juni dengan suhu di sejumlah wilayah melampaui 40 derajat Celsius. Kota Bilbao bahkan mencatat suhu hingga 42,7 derajat Celsius, tertinggi sepanjang pencatatan pada bulan Juni.




