Bisnis.com, JAKARTA — Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 diperkirakan masih bertahan di zona ekspansi, tetapi laju perbaikannya terbatas seiring dengan langkah dunia usaha yang masih menahan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memproyeksikan PMI Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 berada di kisaran 50 hingga 50,2. Level tersebut mengindikasikan sektor manufaktur masih tumbuh, meski belum menunjukkan akselerasi yang kuat.
"PMI diproyeksikan pada 50–50,2. Faktor pendukungnya adalah nilai tukar rupiah yang relatif terkontrol dan harga minyak dunia yang melandai. Ini mendongkrak optimisme," jelas Wijayanto saat dihubungi, Selasa (30/6/2026).
Meski demikian, Wijayanto menilai kalangan industri masih bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan bisnis. Menurutnya, para pelaku usaha masih berada dalam posisi wait and see sehingga belum masuk ke fase ekspansi yang agresif.
Dia menjelaskan pergerakan PMI sepanjang semester I/2026 masih mencerminkan pola musiman yang lazim terjadi setiap tahun. Aktivitas manufaktur meningkat menjelang Lebaran, kemudian melemah setelah periode Hari Raya, sebelum kembali pulih secara bertahap.
Fenomena tersebut terlihat dari kenaikan PMI menjelang Lebaran, penurunan pada Maret 2026 setelah periode libur, lalu perbaikan secara gradual atau bertahap pada April dan Mei yang berlanjut hingga Juni.
Baca Juga
- Angin Segar Harga Gas Industri untuk Redam PHK
- Indonesia Mulai Tunjukkan Gejala Kutukan Sumber Daya Alam, Ini 3 Indikatornya
- Permasalahan Kawasan Industri Belum Tuntas, Ini Delapan Tantangan Utama
Wijayanto menilai dinamika tersebut merupakan konsekuensi faktor siklikal yang umum terjadi dalam aktivitas manufaktur nasional.
Meski PMI masih berpeluang bertahan di zona ekspansi pada Juni, prospek sektor manufaktur pada paruh kedua tahun ini diperkirakan lebih menantang.
Dia memperkirakan rata-rata PMI manufaktur pada semester II/2026 akan lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejumlah risiko dinilai masih membayangi aktivitas industri dalam beberapa bulan mendatang.
Faktor eksternal berupa dinamika ekonomi global dan ketidakpastian regulasi menjadi tantangan utama. Di dalam negeri, pelemahan daya beli masyarakat berpotensi menahan permintaan terhadap produk manufaktur.
Selain itu, potensi kemunculan fenomena El Nino juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi dan rantai pasok sejumlah sektor industri.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715578/original/043189700_1782810581-ChatGPT_Image_30_Jun_2026__16.03.17.jpg)



