Kepala Diskop UKM Bali, Tri Arya Dhyana Kubontubuh, menjelaskan bahwa pada penyelenggaraan tahun lalu hanya 52 pelaku UMKM kuliner yang berjualan penuh selama sebulan. Kini, total 72 UMKM mendapat kesempatan yang dibagi dalam dua kloter, masing-masing 36 pelaku usaha.
"Kalau tahun lalu 52 pelaku UMKM kuliner berjualan penuh sebulan, sekarang 72 dibagi 36 pertama, sekarang masuk kloter kedua, jadi lebih banyak kesempatan dan lebih rapi tempat menikmati hidangannya karena lebih luas, potensi pembeli juga lebih banyak," ujar Tri Arya di Denpasar, Selasa.
Transaksi Tembus Rp2,5 Miliar di Kloter PertamaPada kloter pertama yang berlangsung sejak 13 hingga 27 Juni 2026, sebanyak 36 UMKM kuliner berhasil membukukan total transaksi mencapai Rp2.507.173.000. Capaian ini terbilang impresif mengingat periode tersebut bertepatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Meskipun terbentur hari raya besar umat Hindu, para pelaku usaha tetap mampu mengumpulkan transaksi hingga separuh dari total capaian tahun 2025 lalu. Diskop UKM Bali optimistis kloter kedua akan menghasilkan transaksi yang lebih besar lagi sehingga manfaat ekonomi PKB 2026 dapat dirasakan lebih banyak pelaku usaha mikro.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Selain memberikan lapak gratis kepada UMKM, Tri Arya memastikan bahwa seluruh pelaku usaha yang terlibat telah melalui proses kurasi ketat. Hal ini dilakukan untuk memastikan produk kuliner yang dijual memenuhi standar dan menonjolkan kekayaan kuliner lokal Bali.
Kuliner Khas Kabupaten/Kota Jadi AndalanPemerintah Provinsi Bali berkomitmen menonjolkan produk lokal dari berbagai daerah di Pulau Dewata. Sama seperti kloter pertama, 36 UMKM di kloter kedua juga menjual kuliner lokal yang mewakili kabupaten/kota se-Bali.
"Kami mengupayakan di setiap kloter ini memang ada makanan khas dari kabupaten/kota masing-masing, jadi yang diwakili itu adalah jenis makanannya, mungkin yang khas dari Tabanan sekarang ada entil, kemudian di Klungkung sekarang ada serombotan," kata Tri Arya.
Sejauh ini, Diskop UKM Bali mencatat beberapa kuliner yang masih menjadi incaran utama pengunjung PKB 2026, antara lain babi guling, minuman cendol daluman, serta jajanan tradisional seperti laklak dan jajan Bali.
Pemprov Bali berharap hingga 11 Juli mendatang, jumlah pengunjung festival seni terbesar di Bali itu semakin meningkat sehingga kuliner sebagai pendukung aktivitas pengunjung juga ikut terangkat. "Tahun lalu Rp5 miliar, kalau bisa lebih dari itu kami bersyukur, tapi yang jelas para pedagang sudah pasti untung karena mereka tidak ada dikenakan biaya sewa, cuma biaya produksinya saja, saya sudah sempat tanya katanya mereka di sini jauh lebih tinggi penjualannya," tutur Tri Arya.
Tri Arya juga mengimbau para pelaku UMKM yang telah terpilih untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dengan berusaha secara optimal, mengikuti aturan yang berlaku, dan menjual produk dengan harga yang wajar sehingga masyarakat maupun wisatawan yang hadir dapat menikmati kuliner lokal Bali dengan nyaman.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.




