JAKARTA, KOMPAS.com - Industri hijau disebut menjadi jalan keluar agar produk-produk Indonesia bisa bersaing di pasar global.
Sebab, saat ini, banyak negara yang mulai menerapkan “regulasi hijau”.
Aturan itu mengharuskan negara pengekspor menghasilkan produk yang minim emisi karbon.
“Misalnya kita ingin menjadi negara yang mengekspor produk-produk industri kita, pasar di luar negeri itu menuntut industri yang hijau,” kata CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, dalam podcast Gaspol! yang tayang di YouTube Kompas.com.
Baca juga: Gaspol! Mahfud MD Bicara Kasus-kasus yang Diusut Demi Sesuatu
Di Uni Eropa misalnya, berlaku aturan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).
Sementara, Australia juga akan menerapkan aturan serupa, yakni Carbon Leakage Tariffs.
Dengan adanya regulasi ini, barang yang diekspor Indonesia ke negara-negara tetangga sangat mungkin terkena pajak tambahan jika prosesnya menghasilkan emisi tinggi.
Akibatnya, harga barang melambung tinggi dan berpotensi kalah saing.
Oleh karenanya, demi bisa bersaing di pasar global, green industry dinilai makin mendesak.
“Kita enggak punya pilihan. Kalau mau kompetitif, kita harus menerapkan prinsip-prinsip industri hijau,” ujar Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo, dalam kesempatan yang sama.
Baca juga: Gaspol Hari Ini: Industri Hijau Jalan Keluar Prabowo Genjot Ekonomi RI
Fabby bilang, upaya industri hijau ini sejalan dengan cita-cita Presiden Prabowo Subianto untuk Indonesia mencapai emisi nol bersih (net zero emission) sebelum 2060.
Namun, kata Fabby, untuk mencapai target itu, harus ada komitmen politik atau political commitment yang mendukung dari pemerintah.
“Jadi ketika presiden bilang, ‘Kita mau net zero emission 2060 atau lebih awal’, Kementerian Perindustrian bilang, ‘Kita mau dekarbonisasi industri 2050’, harusnya energi bersihnya, energi terbarukannya harus siap,” kata Fabby.
Upaya Indonesia menuju Net Zero Emission 2050 juga diyakini mampu memperluas kesempatan kerja.
Fabby mengatakan, dari revitalisasi industri hijau saja, diperkirakan tercipta lebih dari 3 juta lapangan kerja.
“Saya punya keyakinan bahwa menuju ke net zero akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja ketimbang stagnan sekarang,” ujar dia.
Baca juga: Gaspol Hari Ini: Melawan Prabowo, Melawan Misi Kenabian
Sementara, Lilik menyebut, anak-anak muda sekarang punya minat tinggi terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.
“Anak-anak muda zaman sekarang juga lebih senang bekerja di area-area yang tentang green industry, tentang dekarbonisasi,” tutur dia.
Simak obrolan selengkapnya dalam tayangan Gaspol “Industri Hijau Salah Satu Jalan Genjot Ekonomi RI”, hanya di YouTube Kompas.com.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




