Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan untuk menyampaikan data ekspor impor serta neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026, Rabu (1/7/2026). Ada peluang rekor surplus 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 berakhir.
Berdasarkan data performa neraca dagang beberapa bulan sebelumnya, tren penyempitan surplus diketahui terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Pada April 2026, neraca dagang kembali mencatatkan surplus ke-72 kalinya secara beruntun. Namun, nilainya mengecil bahkan sampai enam tahun terakhir yaitu US$89,1 juta.
Proyeksi defisit itu disampaikan oleh Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual. Dia memprakirakan neraca dagang mencatatkan defisit sebesar US$1,04 miliar. Hal ini tidak lepas dari efek penurunan ekspor maupun impor secara bulanan karena hari kerja Mei yang lebih sedikit dari April 2026.
David mencatat bahwa harga komoditas ekspor unggulan Indonesia naik seperti batu bara dan logam, sedangkan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) stagnan. Namun demikian, ekspor diprakirakan cenderung turun lebih dalam dibandingkan impor.
"Namun, indikasi awal dari data negara-negara lain yang menjadi importir utama produk-produk Indonesia, ekspor cenderung turun lebih dalam dibandingkan impor, terutama untuk ekspor ke Malaysia, Thailand, dan China," jelas David kepada Bisnis, Selasa (30/6/2026).
David memproyeksikan ekspor pada dua bulan lalu turun baik secara bulanan maupun tahunan yakni 15,44% (MoM) dan 13,07% (YoY). Sementara itu, impor secara tahunan naik 10,50% (YoY) meski turun 10,98% (MoM).
Berbeda dengan David, Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Myrdal Gunarto memproyeksikan neraca dagang Indonesia masih akan membukukan surplus, bahkan meningkat pesat dari bulan sebelumnya ke US$2,19 miliar.
Di sisi lain, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan kenaikan surplus yang lebih moderat dibandingkan April 2026, yakni ke US$738 juta atau US$0,74 miliar.
"Kondisi ini menunjukkan resiliensi eksternal yang kuat, di mana performa volume ekspor mampu meredam dampak melambatnya pertumbuhan ekspor ke level 20,54% (YoY) akibat mulainya tren normalisasi atau koreksi harga komoditas unggulan seperti CPO dan batubara di pasar global. Sementara kenaikan impor diperkirakan mencapai 34,91% (YoY)," terangnya kepada Bisnis.
Adapun proyeksi Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro juga lebih moderat yakni pelebaran surplus ke US$451 juta pada Mei 2026. Dia mengestimasikan ekspor sebesar US$24,3 miliar atau turun 3,9% (MoM) dan 1,2% (YoY).
Namun demikian, impor diproyeksikan anjlok lebih dalam yakni sebesar 5,3% (MoM) ke US$23,9 miliar. Hal ini kendati ekspor secara tahunan diproyeksikan masih tumbuh hingga 17,5% (YoY).
"Secara keseluruhan, neraca dagang Indonesia diprakirakan tetap surplus pada Mei 2026 didukung oleh ekspor komoditas yang resilien dan kontraksi yang lebih dalam pada impor. Bagaimanapun, pertumbuhan ekspor yang melandai dan pertumbuhan impor yang masih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya mengindikasikan momentum yang tidak seimbang ke depannya," jelas Andry melalui keterangan tertulis.
Berdasarkan tujuannya, Andry memproyeksikan ekspor ke China masih akan tumbuh kuat sebesar 52,3% (YoY) serta ke Vietnam dan China masing-masing tumbuh 10,2% (YoY) dan 25,1% (YoY).
Harga komoditas dinilai masih mendukung valuasi harga ekspor terutama untuk komoditas utama seperti batu bara, CPO, nikel dan logam besi.
Di sisi lain, impor pada dua bulan lalu diproyeksikan untuk mengalami kontraksi lebih dalam dari ekspor dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kinerja impor tetap kuat dengan pertumbuhan 17,5% (YoY).





