Gelombang Panas Eropa Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang, Suhu Tembus Rekor

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa terus menimbulkan dampak serius.

Dikutip dari Al-Jazeera, lebih dari 1.000 kematian berlebih (excess deaths) dilaporkan di Prancis, sementara suhu di sejumlah negara Eropa Tengah dan Timur mencetak rekor baru serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Berdasarkan laporan otoritas kesehatan Prancis, gelombang panas yang berlangsung pada akhir Juni menyebabkan lebih dari 1.000 kematian berlebih. Kelompok lanjut usia, penderita penyakit kronis, dan masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan menjadi kelompok paling rentan terhadap suhu ekstrem tersebut.

Di Jerman, suhu tinggi bahkan menyebabkan rel trem di sejumlah wilayah melengkung akibat pemuaian logam. Kondisi itu memicu gangguan layanan transportasi umum karena operator terpaksa mengurangi kecepatan perjalanan hingga menghentikan sementara beberapa rute demi alasan keselamatan.

Sementara itu, Slovakia dan Ceko mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni. Di beberapa wilayah, temperatur melampaui 38 derajat Celsius, memicu peringatan cuaca ekstrem dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Otoritas setempat juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari.

Gelombang panas juga berdampak pada negara-negara Balkan dan Eropa Timur lainnya. Pemerintah di sejumlah negara membuka pusat pendinginan (cooling centers), memperketat layanan darurat kesehatan, serta mengeluarkan peringatan kepada kelompok rentan agar tetap terhidrasi dan menghindari paparan sinar matahari langsung.

Baca Juga

  • Panas Ekstrem dan Kekeringan Bisa Perlebar Kesenjangan Pendapatan di Eropa
  • Jutaan Orang di Asia Terdampak Cuaca Ekstrem Sepanjang 2025

Para ilmuwan menilai frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim disebut memperbesar kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem, termasuk periode suhu tinggi yang berlangsung lebih lama dan lebih intens dibandingkan rata-rata historis.

Badan meteorologi di sejumlah negara memperkirakan suhu tinggi masih akan bertahan dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut dikhawatirkan memperburuk risiko kesehatan masyarakat, mengganggu jaringan transportasi, serta meningkatkan tekanan terhadap sistem kelistrikan akibat lonjakan penggunaan pendingin udara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
GovTech Bakal Hemat Rp1.500 Triliun Uang Negara, Ini Kata Luhut
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Indonesia-Inggris Teken Kerja Sama Manufaktur Senilai Rp 1,17 T
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Polres Cianjur: Jalur Bandung-Cianjur kembali normal dapat dilalui
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Seluruh Provinsi Alami Inflasi per Juni 2026, Maluku Utara Paling Tinggi
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Panggil Lagi Bos Maktour dan 3 Biro Travel Jadi Saksi Kasus Kuota Haji
• 6 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.