JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi pelemparan batu yang menimpa Puteri Indonesia Pariwisata 2022, Adinda Cresheilla, di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, pekan lalu, membangkitkan kembali ingatan pada kasus serupa yang pernah terjadi empat tahun lalu di wilayah yang sama.
Peristiwa yang dialami Adinda pada Rabu (24/6/2026) bukan kali pertama pengendara mobil menjadi sasaran pelemparan batu di kawasan Kebayoran Lama dan sekitarnya.
Pada 2022, dua mobil juga menjadi korban aksi serupa. Namun, hingga kini, kasus tersebut belum diketahui kelanjutannya.
Teror siang bolong
Adinda menceritakan, insiden terjadi sekitar pukul 16.11 WIB, beberapa menit setelah meninggalkan sebuah klinik kecantikan di kawasan Pondok Indah.
Baca juga: Mobil Puteri Indonesia Pariwisata 2022 Dilempar Batu di Jaksel, Kaca Depan Pecah
Saat melintas, sebuah batu tiba-tiba meluncur dari arah berlawanan dan menghantam kaca depan mobil tepat di sisi pengemudi.
"Pas kena batu itu rasanya kencang banget dan memang mengarah ke pengemudi, posisinya bukan di tengah," ujar Dinda.
Benturan keras itu membuat kaca depan mobil pecah. Serpihan kaca mengenai bagian pelipisnya, meski matanya selamat karena secara refleks ia memejamkan mata.
"Alhamdulillah-nya aku merem, jadi serpihan kacanya enggak kena mata, tapi banyak banget di pelipis," tuturnya.
Usai kejadian, Dinda berupaya mencari bantuan ke pos polisi terdekat.
Namun, pos tersebut dalam keadaan kosong sehingga ia diarahkan menuju Polsek Kebayoran Lama untuk membuat laporan.
Bersama penyidik, Dinda kemudian kembali ke lokasi kejadian guna mencari titik pasti pelemparan batu.
Polisi juga mencoba menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi, tetapi belum menemukan petunjuk karena kamera di titik kejadian tidak tersedia.
Baca juga: Kronologi Mobil Puteri Indonesia Pariwisata 2022 Dilempar Batu di Pondok Indah Jaksel
Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Kukuh Islami mengatakan, penyidik masih mengumpulkan rekaman CCTV dari sejumlah lokasi lain di sekitar tempat kejadian.
"Ya nanti kami dalami lagi (CCTV-nya), kan karena kami ngecek di sekitar TKP.
Jadi bukan kalau tidak ada CCTV tidak bisa bikin laporan, bukan. Jadi kami memastikan ada enggak CCTV di sekitar untuk mengidentifikasi pelaku," kata Kukuh.