Pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan pelatihan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) setelah meninggalnya lima peserta pelatihan Calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Evaluasi itu diikuti perubahan materi pelatihan dengan mengurangi kegiatan fisik dan mengalihkan fokus pembekalan ke kemampuan manajerial.
Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman Kepala Staf Kepresidenan memastikan kegiatan fisik dalam pelatihan SPPI telah dikurangi sebagai bagian dari hasil evaluasi pemerintah.
“Ini sudah mulai dievaluasi, sudah berlangsung, sehingga kegiatan-kegiatan fisik ini sudah ditiadakan, dikurangi semaksimal mungkin, dan dititikberatkan kepada bagaimana manajemen perkoperasian karena kan ini calon-calon manajer nanti. Itu yang dititikberatkan,” kata Dudung usai bertakziah ke rumah duka Muhammad Rifki Renaldi, peserta yang meninggal pada pelatihan SPPI, di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (30/6/2026).
Menurut Dudung, pembekalan peserta ke depan akan lebih diarahkan pada penguatan teori dan praktik manajemen.
Pergeseran materi dilakukan karena lulusan SPPI dipersiapkan untuk menjalankan fungsi manajerial, bukan menjalani pelatihan fisik yang intensif.
Selain mengubah substansi pelatihan, pemerintah juga memangkas durasi pendidikan. Waktu pelatihan yang semula berlangsung selama dua bulan kini dipersingkat menjadi sekitar satu setengah bulan.
“Saya mendapat informasi waktunya diperpendek, sehingga dipotong waktunya yang tadinya dua bulan menjadi sebulan setengah,” ujarnya.
Sebelumnya kasus meninggalnya peserta SPPI KDMP memicu sorotan publik terkait metode pelatihan dan aspek keselamatan peserta selama mengikuti pendidikan.
Dalam kesempatan yang sama, Dudung menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Muhammad Rifki Renaldi.
Ia menegaskan kehadiran pemerintah di rumah duka merupakan bentuk penghormatan sekaligus kepedulian negara terhadap keluarga peserta yang meninggal saat menjalani pelatihan.
“Kami datang ke sini dengan mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya ananda Rifki pada saat pelatihan SPPI. Saya atas nama negara tentunya hadir untuk memberikan ucapan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya,” kata Dudung.
Usai berdialog dengan keluarga, Dudung bersama jajaran pemerintah daerah dan TNI melakukan ziarah ke makam almarhum serta menyerahkan santunan kepada pihak keluarga.
Kelima peserta yang meninggal diketahui berasal dari sejumlah satuan pendidikan (satdik), yakni Yonanda Muhammad Taufiq dari Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Anisa Muyassaroh dari Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, Novia Rahmadhani Sihotang dari Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yon PARAKO 465, serta Nola Dya Sari dari Satdik C Kalimantan.
Katanya kelima peserta tersebut memiliki kondisi medis yang berbeda-beda. Namun sebelum mengikuti pendidikan, seluruh peserta telah menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari tes laboratorium darah dan urine, tes kehamilan, rontgen thoraks, elektrokardiogram (EKG), USG abdomen, hingga pemeriksaan mata, gigi, postur tubuh, dan kesehatan jiwa sesuai ketentuan yang berlaku. (lea/saf/ipg)




