Pantau - Penataan kawasan Makam Sunan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh para peziarah, terutama dengan berkurangnya aktivitas pengemis di jalur menuju kompleks makam sehingga suasana beribadah menjadi lebih nyaman.
Peziarah Rasakan Perubahan SignifikanPada Sabtu (27/6), kawasan Makam Sunan Gunung Jati dipadati rombongan peziarah dari berbagai daerah yang datang menggunakan bus pariwisata untuk berziarah dan berdoa.
Di tengah meningkatnya jumlah pengunjung, kawasan menuju kompleks makam kini terasa lebih tertata sehingga peziarah dapat berjalan lebih leluasa tanpa harus berkali-kali dihampiri orang yang meminta sedekah.
Aris, peziarah asal Semarang, mengaku merasakan perubahan besar saat kembali berkunjung setelah sekitar empat tahun.
“Rasanya berbeda sekali. Dulu baru turun dari bus sudah banyak yang menghampiri minta sedekah. Sekarang kami bisa jalan sampai ke gerbang dengan tenang,” ungkapnya.
Ia mengatakan suasana yang lebih tertib membuat dirinya bersama keluarga dapat berziarah dengan lebih khusyuk dan memutuskan untuk menikmati wisata kuliner serta bermalam di Cirebon sebelum kembali ke Semarang.
Peziarah asal Tegal, Ikhwan, juga mengaku sempat mendengar cerita bahwa kawasan tersebut dipenuhi pengemis sehingga ia menyiapkan uang receh sebelum datang.
“Yang saya lihat sekarang rapi. Orang datang bisa langsung berziarah tanpa merasa sungkan atau terus dihampiri. Suasananya jadi lebih tenang,” ujarnya.
Dorong Citra Wisata Religi CirebonMenurut Ikhwan, penataan kawasan tidak hanya membuat lingkungan lebih tertib, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi peziarah untuk beribadah sekaligus memperkuat citra Cirebon sebagai salah satu destinasi wisata religi di Pulau Jawa.
Ramainya kunjungan peziarah turut memberikan dampak positif bagi aktivitas ekonomi masyarakat sekitar, mulai dari pedagang bunga tabur, tasbih, hingga pelaku usaha kuliner dan jasa penginapan.
Penataan kawasan Gunung Jati diharapkan dapat menjaga marwah salah satu destinasi religi bersejarah di Indonesia sekaligus mempertahankan nilai-nilai warisan Sunan Gunung Jati yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat.




