Tak Lagi Nama, Ketika Calon Manajer Kopdes Merah Putih Dipanggil dengan Angka

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Suasana kelas di Pusat Pendidikan Kesehatan Pusat Kesehatan Angkatan Darat atau Pusdikkes Puskesad, Jakarta Timur, Selasa (30/6/2026), terasa sedikit unik. Saat materi teori Peraturan Baris Berbaris berlangsung, instruktur atau yang biasa disapa guru militer atau gumil tidak memanggil para siswa dengan nama depan mereka. Alih-alih menyebut nama, sang gumil justru merujuk pada deretan angka.

Ketika gumil melemparkan pertanyaan atau memberikan instruksi untuk mempraktikkan gerakan baris-berbaris di dalam kelas, para peserta Pendidikan dan Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) merespons panggilan berupa nomor peserta mereka.

Di tengah riuhnya instruksi, sang gumil tampak jeli mengamati gerakan tiap-tiap individu. Sembari memberikan komando untuk berganti posisi, ia terlihat mencatat nomor-nomor peserta tersebut di buku pegangannya. Deretan angka itu rupanya bukan sekadar pengganti sapaan, melainkan juga instrumen untuk memberikan penilaian.

Komandan Pusat Pendidikan Kesehatan Puskesad Kolonel Shohibul Hilmi, menjelaskan, pemanggilan menggunakan angka sama sekali bukan bertujuan untuk menghilangkan identitas personal siswa, melainkan murni demi efisiensi dan keakraban di ruang kelas. Pasalnya, terdapat 229 siswa SPPI yang tengah menjalani pendidikan di sana.

”Itu untuk memudahkan mekanisme hubungan antara siswa dan yang mengajar (gumil). Kita pakai istilah angka itu jauh lebih mudah, karena tidak mungkin kita menyebut namanya satu-satu,” tutur Hilmi.

Baca JugaLatsarmil Koperasi Merah Putih Diubah Jadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial

Hilmi menambahkan, tenaga pengajar atau gumil memiliki keterbatasan waktu interaksi karena mereka hanya datang ke kelas saat jadwal mengajar tiba. Hal ini berbeda dengan para perwira atau bintara pendamping dari Satuan Siswa yang melekat 24 jam dan mengenal profil tiap-tiap individu.

Itu untuk memudahkan mekanisme hubungan antara siswa dan yang mengajar (gumil). Kita pakai istilah angka itu jauh lebih mudah, karena tidak mungkin kita menyebut namanya satu-satu.

"Saya kira yang paling hafal dengan siswa itu tentu para pendamping dan Satsis masing-masing. Kalau gumil ini, kan, datang hanya pada saat mengajar saja,” ujar Hilmi.

Di sisi lain, pencatatan nomor tersebut merupakan bagian dari penilaian normatif terkait keaktifan siswa di kelas. Para siswa yang notabene merupakan calon manajer koperasi bakal mendapatkan penghargaan ketika aktif dalam kegiatan pelatihan.

Baca JugaJatuh Korban Jiwa, DPR Desak Evaluasi Serius Pelatihan Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih

”Kalau penilaian secara khusus untuk aspek pelajaran, iya, memang (ada). Jadi, bagaimana keaktifan siswa itu dalam menerima pelajaran. Siswa yang aktif tentu dapat reward (penghargaan) lebih daripada siswa yang masih belum aktif. Itu normatif,” tutur Hilmi.

Penghargaan tersebut, lanjut dia, biasanya akan diberikan dalam bentuk sertifikat. Ia juga memastikan bahwa program pelatihan ini tidak membebani peserta dengan sistem pemeringkatan atau ranking maupun ujian atau tes akhir.

Meski disapa menggunakan angka saat berhadapan dengan gumil, suasana pelatihan di Pusdikkes terpantau cair dan jauh dari kesan militeristik yang kaku. Pendekatan pelatihan bagi para calon manajer Koperasi Desa Merah Putih menitikberatkan pada kedisiplinan dan kekompakan.

Bagi para peserta pelatihan yang disiapkan menjadi calon manajer koperasi ini, rutinitas berseragam, berbaris, hingga penyeragaman identitas di kelas rupanya tidak menjadi beban kultural. Tiara Novela (32), peserta asal Kabupaten Bengkalis, Riau, awalnya sempat membayangkan bahwa pelatihan ini akan memberikan tekanan keras layaknya pendidikan militer murni. Namun, bayangan menyeramkan itu luntur saat ia menjalaninya.

Baca JugaKorban Meninggal Latsarmil Bertambah Jadi Lima Orang, Kemenhan Klaim Porsi Latihan Masih Terukur

”Ternyata tidak seperti itu. Terlebih lagi pada saya yang memang punya penyakit bawaan, lebih diperhatikan,” ujar Tiara.

Senada dengan Tiara, Yuliza Hasni Estevania (24), peserta dari Dumai, Riau, menuturkan, para gumil selalu mengaitkan materi militer seperti baris-berbaris dengan kesiapan manajerial di dunia kerja. Menurut dia, kedisiplinan dalam bersikap, bertutur kata, dan berpakaian yang diajarkan dalam pelatihan akan menjadi bekal dan contoh bagi seorang manajer dalam memimpin rekan kerjanya nanti.

Meski di ruang kelas mereka disapa menggunakan angka, perlakuan yang diterima para peserta di lapangan, setidaknya di Pusdikkes Puskesad, sangat baik. Institusi itu mengenal kondisi personal setiap peserta, terutama dalam aspek medis. Hal ini dirasakan langsung oleh Yuliza yang diberi keringanan untuk tidak mengenakan sepatu lars karena kuku kakinya bernanah.

Selain itu, Pusdikkes Puskesad juga menangani peserta yang tengah mengandung, seperti Wahyuni Fitri dan Berlianti Hasibuan. Alih-alih dipulangkan, kedua ibu hamil ini tetap diizinkan mengikuti pendidikan dengan didampingi secara khusus oleh personel berkualifikasi bidan. Mereka bahkan hanya diminta menyaksikan jalannya latihan dari pinggir lapangan.

Baca JugaBayang-bayang Tragedi di Barak Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih
Mengikis nalar kritis

Meski diklaim humanis, Direktur Eksekutif Imparsial Ardi Manto Adiputra, mengkritik konsep pendidikan beraroma militer bagi warga sipil. Ia menyebutkan, penerapan sistem pendidikan militer untuk mencetak manajer koperasi sangat tidak relevan dan berpotensi mematikan budaya inovasi.

Menurut Ardi, pelibatan instrumen militer dalam program pengelolaan koperasi justru berisiko mengikis kemampuan berpikir kritis peserta. Ekosistem koperasi menuntut iklim kepemimpinan yang partisipatif, ruang dialog, dan kreativitas, yang bertolak belakang dengan doktrin militer.

”Nilai-nilai yang dominan dalam lingkungan militer seperti kepatuhan, komando, dan hierarki, dapat mengikis nilai-nilai yang seharusnya ada dan diajarkan kepada masyarakat sipil, yaitu critical thinking, kreativitas, kebebasan berpikir, dan ruang untuk berargumentasi,” ucap Ardi.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa pendekatan yang militeristik cenderung mengedepankan pendekatan komando atau koersif dalam pemecahan masalah. Mengingat sempat jatuhnya korban jiwa pada awal pelaksanaan latihan dasar militer, Imparsial menilai program ini memiliki cacat konsep sejak awal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FULL! Sidang Praperadilan! Ini Alasan Polda Metro Tolak Seluruh Replik Roy Suryo
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Periksa Dito Ariotedjo, Dalami Pemberian Kuota Haji Tambahan
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Melihat Peragaan Kolone Senapan Berbentuk '80 Tahun Polri' di Hari Bhayangkara
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Mengapa Changan Bawa Teknologi REEV ke Indonesia, Bukan PHEV? Ini Penjelasannya
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ditanya Soal Kemungkinan Melatih Jerman Menggantikan Nagelsmann, Klopp Malah Beri Isyarat Begini
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.