Meredam Tawuran Lewat Seni, Perjalanan Teater Dermaga di Belawan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah rawannya konflik tawuran di Belawan, Kota Medan, Teater Dermaga hadir sebagai ruang alternatif bagi para remaja.

Bukan sekadar tempat berlatih seni, komunitas ini menjadi wadah bagi anak-anak muda, termasuk mereka yang pernah terlibat tawuran antar geng, untuk menyalurkan kreativitas dan menemukan arah baru.

Lewat seni peran, puisi, tari, hingga berbagai aktivitas kesenian lainnya, Teater Dermaga berupaya mengurangi jumlah remaja yang terlibat tawuran sekaligus mengembangkan minat dan bakat mereka.

Komunitas ini pertama kali berdiri pada 1986. Sejak awal, Teater Dermaga menjadi tempat berkumpul bagi para remaja, termasuk mantan anggota tawuran antargeng di kawasan Belawan. Meski sempat vakum, komunitas tersebut kembali aktif pada 2013 dan terus berkembang hingga sekarang.

"Sebenarnya salah satu tujuan kami mau merangkut minat bakat untuk anak-anak Belawan. Ada juga yang awalnya ikut-ikutan tawuran, terus tertarik dengan Teater Dermaga, ikut di Teater Dermaga. Alhamdulillah sekarang sudah enggak ikut kayak gitu (tawuran) lagi," kata Ardiansyah, pembina Teater Dermaga, saat dihubungi, Rabu (1/7).

Ke depan, Teater Dermaga juga berencana membuka program bagi anak-anak usia dini. Langkah ini diharapkan menjadi upaya pencegahan agar mereka memiliki ruang berekspresi sejak kecil dan tidak tertarik mengikuti tawuran ketika menginjak usia remaja.

"Jadi harapannya nanti ada program untuk anak-anak kecil. Jadi bisa memutus minat bakat mereka untuk perang. Jadi ikut teater dari kecil," ujar Ardiansyah.

Saat ini, Teater Dermaga memiliki berbagai pelatihan dasar, mulai dari akting sebagai persiapan pementasan drama hingga latihan membaca puisi. Namun, aktivitas mereka tidak berhenti di panggung drama semata.

"Teater Dermaga ini bukan hanya berdrama di atas panggung aja. Kami sudah berkembang di tari-tarian. Jadi siapa pun yang kayak sudah-sudah sering ke mana-mana ikut lomba, mengisi acara-acara pesta," ucap Ardiansyah.

Kini, Teater Dermaga diikuti sebanyak 52 remaja di Belawan, Kota Medan. Para anggotanya dikenal dengan sebutan Laskar.

Berbagai pertunjukan telah mereka tampilkan. Salah satunya adalah pementasan drama berjudul 'Ibu Air Mata Sungai' yang dipentaskan di atas Sungai Deli, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Drama tersebut mengangkat kisah tentang kondisi alam yang rusak akibat ulah manusia.

Bagi setiap remaja yang telah bergabung, ada satu komitmen yang harus dijaga, yakni meninggalkan tawuran. Menurut Ardiansyah, aturan itu menjadi prinsip utama yang diterapkan di dalam komunitas.

"Jadi, kami setiap ada siapa pun yang sudah bergabung di Teater itu, paling pantang untuk ikut tawuran kayak gitu. Kalau ketahuan sama kami, ya sudah siap-siap lagi gitu. Antusias orang tua Alhamdulillah oke saja. Masyarakat mendukung, bahkan kalau kami buat acara gitu, orang itu yang paling antusias, dari membantu dana dan lain sebagainya," jelas Ardiansyah.

Dukungan masyarakat pun terus mengalir. Bagi banyak orang tua di Belawan, Teater Dermaga menjadi harapan agar anak-anak mereka memiliki ruang untuk berkarya, menjauhi tawuran antar geng, dan terhindar dari penyalahgunaan narkoba. Di tengah lingkungan yang masih rawan konflik, panggung teater menjadi tempat lahirnya harapan-harapan baru bagi generasi muda.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Data BPKN Soal Usia Galon Dipertanyakan DPR: “Tak Ada Evidence Base, Klaim Berbahaya Mengada-ada”
• 20 jam laluerabaru.net
thumb
Wakil Menteri Pertahanan Mengajak untuk Bersyukur karena Indonesia Dianugerahi Kekayaan Alam dan Sumber Daya yang Melimpah
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ketika Pengawasan DPR Berubah Jadi Dewan Penerangan Presiden
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Indonesia dan Prancis Perkuat Strategi Pengembangan Kakao Berkelanjutan
• 16 jam laluliputan6.com
thumb
IPO Perusahaan Tambang Otonom Pertama di Dunia Gaet Investor Terkemuka, Termasuk Fidelity, J.P. Morgan, dan Barings
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.