Rapat di Komisi XIII, dr Boyke Bicara Penanganan Kebutuhan Seksual Napi di Lapas

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pakar seksologi dr. Boyke Dian Nugraha menyoroti tingginya kasus kekerasan seksual yang menurutnya terjadi di lembaga pemasyarakatan (lapas). Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi XIII DPR RI, Rabu (1/7), Boyke mengusulkan penyediaan alat bantu seksual bagi warga binaan sebagai salah satu upaya mencegah kekerasan seksual di dalam lapas.

Menurut Boyke, usulan tersebut muncul berdasarkan pengalamannya mengunjungi sejumlah lapas dan berdialog langsung dengan para warga binaan. Ia menilai persoalan kesehatan seksual di lapas selama ini masih dipandang sebagai isu yang tabu, padahal berkaitan dengan hak asasi manusia dan kesehatan.

"Daripada mereka akhirnya memperkosa temennya, kemudian apa? Lebih baik disalurkan melalui onani ataupun melalui dildo, melalui, momi-momi atau vagina-vagina," kata Boyke.

Ia mengusulkan agar alat bantu seksual tersebut dimiliki secara pribadi oleh masing-masing warga binaan dan tidak digunakan secara bergantian untuk mencegah penularan penyakit.

"Dildo tidak boleh diganti-ganti, dildo itu harus bisa milik sendiri, itu alat bantu seksual," tegasnya.

Boyke mengatakan opsi tersebut dinilainya lebih realistis dibanding pembangunan bilik mesra atau bilik keluarga, mengingat kondisi lapas di Indonesia masih mengalami kelebihan kapasitas.

"Sementara kita aja untuk ruangan lapas sendiri sudah overcrowded, ya," ujarnya.

Selain mengusulkan penyediaan alat bantu seksual, Boyke juga mengungkap adanya dugaan kekerasan seksual yang kerap terjadi di lapas, baik di lapas perempuan maupun laki-laki.

Ia mengaku memperoleh cerita langsung dari warga binaan perempuan mengenai adanya kekerasan seksual yang dilakukan sesama narapidana.

"Banyak sekali wanita-wanita yang mengalami kekerasan seksual oleh para wanita sendiri. Ya, yaitu yang berkaitan nanti dengan lesbianism," kata Boyke.

Menurutnya, banyak korban tidak berani melapor karena khawatir akan mengalami kekerasan yang lebih berat apabila identitas mereka diketahui.

"Saya tanyakan, 'melapor enggak?' Enggak berani. Karena kalau sampai melapor dan ketahuan, mereka akan mendapatkan kekerasan yang lebih lagi, ya, dari teman-temannya," jelasnya.

Boyke juga menyoroti dugaan praktik sodomi yang terjadi di lapas laki-laki, terutama terhadap narapidana yang baru masuk.

"Hampir semua yang saya tanya, apalagi yang masih muda-muda baru masuk itu mereka mengalami kekerasan di dalam lapas yang tidak terlacak, tidak terlacak, ya," ujar Boyke.

Ia bahkan mengaku pernah menangani pasien yang menjadi korban sodomi oleh sesama penghuni lapas.

"Itu saya punya pasien sampai 1 hari melayani 3 laki-laki juga, dilakukan sodomi," katanya.

Boyke menilai persoalan kesehatan seksual di lapas tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan keagamaan semata. Ia menegaskan kebutuhan seksual merupakan bagian dari kesehatan fisik, mental, dan sosial.

Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat edukasi kesehatan seksual, skrining penyakit menular seksual, layanan konseling psikologis, hingga sistem pelaporan yang aman bagi korban kekerasan seksual di lapas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
9.000 Personel Ikuti Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Satlat Brimob Cikeas
• 3 jam lalucumicumi.com
thumb
Ini 6 Pesan Tegas Prabowo di Hari Bhayangkara: Jaga Kepercayaan, Jangan Menyusahkan Rakyat
• 10 menit laludisway.id
thumb
Foto: Tangis Keluarga Korban Jiwa Insiden Atap Roboh di Pakistan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Rupiah Melemah ke Rp17.907 per Dolar AS, Dipicu Ketidakpastian AS-Iran
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Palestina Kecam Dugaan Rencana Pemukim Israel Kuasai Wilayah Strategis
• 7 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.