Stigma Ini Bikin Gen Z Enggan Meneruskan Profesi Orangtua Jadi Nelayan

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Dulu pekerjaan nelayan diminati banyak orang, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir, karena dianggap sangat menjanjikan.

Melimpahnya hasil laut Indonesia, membuat para nelayan mampu menghidupi keluarga hanya bermodalkan jaring dan perahu kayu sederhana.

Namun, seiring berjalannya waktu, pekerjaan sebagai nelayan justru dihindari banyak orang, terutama kaum muda.

Sebab saat ini, mencari ikan di perairan Indonesia, terutama kawasan Jakarta sudah tidak lagi semudah dulu.

Para generasi muda atau akrab disapa Gen Z cenderung memilih pekerjaan lain, meski dulu orangtuanya merupakan seorang nelayan yang andal.

Baca juga: Kisah Gen Z yang Memilih Jadi Nelayan di Jakarta di Tengah Tren Kerja Kantoran

Faktor penyebab

Organisasi non-pemerintahan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), menilai ada beberapa kondisi yang membuat generasi muda enggan menjadi seorang nelayan.

"Salah satunya adalah karena mereka tidak memiliki perahu sendiri," ucap Sekertaris Jenderal KIARA, Susan Herawati ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (30/6/2026).

Oleh karena itu, ia mengapresiasi nelayan-nelayan muda yang mampu berusaha mandiri hingga memiliki perahu pribadi.

Dengan memiliki perahu pribadi, para nelayan muda bisa mencari tangkapan sendiri secara leluasa.

Di daerah pesisir lain, kata Susan, banyak anak Gen Z yang tidak ingin menjadi nelayan.

Seperti yang terjadi di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, tepatnya di Komunitas Nelayan Tradisional (KNT).

Jumlah nelayan muda di komunitas tersebut hanya sekitar 10 persen dari total nelayan yang ada.

Rata-rata nelayan di komunitas tersebut sudah berusia lanjut dan bukan lagi masuk dalam kategori Gen Z.

"Mereka menganggap profesi nelayan tidak terlalu menguntungkan karena tantangan di pesisir perkotaan, seperti di Cilincing, Kalibaru, hingga Marunda, sangat berat," ungkap Susan.

Pasalnya, para nelayan di pesisir Jakarta harus berhadapan langsung dengan proyek-proyek reklamasi dan tanggul laut.

Baca juga: Gen Z di Cilincing Jakut Pilih Jadi Nelayan, Raup Omzet Puluhan Juta hingga Beli Rumah

Meninggalkan pendidikan formal

Susan mengatakan, kebanyakan anak muda yang menjadi nelayan dan memiliki penghasilan cukup baik, cenderung meninggalkan pendidikan formal.

"Ini menjadi PR besar sejak lama. Jika dalam 10 tahun ke depan kondisi laut sudah tidak lagi menjanjikan, mereka akan kebingungan karena tingkat pendidikan yang rendah," tutur dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Susan bilang, di lapangan banyak menemukan nelayan yang tak bisa baca tulis sejak kecil karena hanya dididik untuk mencari uang di laut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pekerjaan Bergaji Tinggi di Australia untuk WNA Tahun 2026
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Harga Pangan 1 Juli: Cabai Rawit Merah Rp64.250 per Kg, Telur Ayam Rp29.400 per Kg
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Polisi sita uang saku dari belasan "influencer" dalam kasus Hanania
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Momen Kapolri Diberi Tumpeng oleh Prabowo di Hari Bhayangkara Ke-80
• 2 jam laludetik.com
thumb
Ade Darmawan Heran Jaksa Tangguhkan Penahanan Roy Suryo: Kok Bisa, Ada Apa?
• 19 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.