Meski angka stunting di Indonesia terus menunjukkan penurunan, tantangan untuk mencegah gangguan tumbuh kembang anak masih belum selesai. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting tercatat sebesar 19,8 persen, atau sekitar 1 dari 5 balita di Indonesia masih mengalami stunting.
Stunting bukan hanya membuat anak bertubuh lebih pendek dibandingkan usianya. Kondisi ini juga dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Salah satu faktor yang berperan besar terhadap stunting adalah anemia defisiensi besi (ADB).
Ketua Umum Akselerasi Puskesmas Indonesia, Kusnadi, SKM, M.Kes, mengatakan bahwa anemia masih menjadi penyebab utama stunting di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar kasus anemia di Tanah Air dipicu oleh kekurangan zat besi.
"Anemia masih menjadi penyebab tertinggi dari stunting. Jadi perlu diatasi dari awal, dari anemianya kita tangani. Nah, anemia di Indonesia rata-rata karena kekurangan zat besi. Anak-anak yang kekurangan zat besi, pertumbuhannya berbeda," ujar Kusnadi saat launching Puskesmas Siap SEDIA, Senin (29/6).
Zat Besi Berperan Penting dalam Tumbuh Kembang AnakMengutip Kementerian Kesehatan, zat besi memiliki peran penting dalam metabolisme energi, perkembangan dan fungsi sistem saraf, pembentukan jaringan, hingga sintesis hormon.
Ketika anak mengalami anemia defisiensi besi, bukan hanya pertumbuhan fisiknya yang terganggu. Kondisi ini juga dapat menghambat perkembangan kognitif, motorik, sensorik, dan kemampuan sosial anak. Selain itu, daya tahan tubuh anak menjadi lebih lemah sehingga lebih rentan terkena infeksi. Bila tidak ditangani sejak dini, dampaknya bahkan dapat bersifat permanen.
Penyebab Anemia pada AnakMenurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko anemia pada anak, di antaranya:
- Cadangan zat besi rendah sejak lahir karena ibu mengalami anemia - saat hamil
- Tidak mendapatkan ASI eksklusif
- Asupan makanan yang rendah zat besi
- Kehilangan zat besi akibat infeksi parasit, seperti malaria atau cacingan
- Sanitasi lingkungan yang buruk, air minum yang tidak aman, serta kebersihan diri yang kurang memadai.
Pencegahan Dimulai Sejak Remaja PutriUpaya mencegah stunting sebenarnya sudah bisa dimulai jauh sebelum seorang perempuan menjadi ibu, yakni sejak masa remaja.
Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia akibat kehilangan darah saat menstruasi setiap bulan. Risiko tersebut semakin meningkat apabila kebutuhan zat besi dari makanan sehari-hari tidak terpenuhi.
Karena itu, menjaga remaja putri tetap bebas anemia menjadi bagian penting dalam memutus rantai stunting antargenerasi. Remaja yang sehat berpeluang menjadi calon ibu yang sehat dan melahirkan bayi dengan tumbuh kembang yang optimal.
Untuk mencegah anemia, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan kaya zat besi, seperti daging, ayam, ikan, telur, tempe, tahu, kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Penyerapan zat besi juga dapat ditingkatkan dengan mengonsumsi makanan tinggi vitamin C, seperti jambu biji, jeruk, tomat, dan nanas.
Selain itu, remaja putri dianjurkan mengonsumsi tablet tambah darah (Fe) sesuai anjuran, terutama saat menstruasi. Apabila muncul gejala anemia, seperti tubuh lemas, pucat, pusing, sesak napas, atau sulit berkonsentrasi, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.





