Kekalahan Timnas Jerman lewat adu penalti dari Paraguay pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 menambah catatan buruk Die Mannschaft. Bagi negara yang telah mengoleksi empat gelar dunia, hasil tersebut bukan sekadar kegagalan lolos ke babak berikutnya, melainkan penegasan bahwa dominasi masa lalu telah memudar.
Selama beberapa dekade, Jerman merupakan simbol konsistensi di panggung internasional. Empat gelar Piala Dunia (1954, 1974, 1990, dan 2014), delapan penampilan di final, serta sederet semifinal menjadikan mereka tolok ukur sepak bola modern. Sebelum edisi 2018, mereka bahkan hanya sekali gagal melewati fase grup sepanjang sejarah keikutsertaannya.
Namun, sejak mengangkat trofi di Brasil pada 2014, grafik itu terus menurun. Kai Havertz Cs tersingkir pada fase grup di Rusia 2018 dan Qatar 2022, lalu kembali gagal melangkah jauh setelah disingkirkan Paraguay di Amerika Serikat. Artinya, mereka belum pernah memenangi satu pun pertandingan fase gugur sejak mengalahkan Argentina pada final 2014.
Pelatih Julian Nagelsmann tak berusaha menutupi kenyataan tersebut. Menurutnya, rentetan hasil buruk itu menunjukkan bahwa negaranya sudah tidak lagi berada dalam kelompok elite sepak bola dunia.
"Ini adalah eliminasi ketiga secara beruntun dan itu berarti kami bukan lagi bagian dari tim kelas satu. Ketika Anda tersingkir dari Piala Dunia oleh Paraguay, rasanya sangat menyakitkan. Jika tidak mencetak cukup gol, siapa pun bisa menghukum Anda," ujar Nagelsmann seperti dikutip FIFA.
Selama hampir lima dekade, Jerman juga dikenal sebagai spesialis adu penalti. Mereka keluar sebagai pemenang saat menghadapi Prancis pada 1982, Meksiko pada 1986, Inggris pada 1990, dan Argentina pada 2006. Rekor itu akhirnya berakhir setelah Paraguay menang dari titik putih.
Sulit mengatakan bahwa masalah Jerman terletak pada kualitas pemain. Generasi sekarang dihuni nama-nama seperti Jamal Musiala, Florian Wirtz, Kai Havertz, Leroy Sane, hingga Nick Woltemade, yang tampil menonjol bersama klub masing-masing.
Di atas lapangan, kualitas individu belum menjelma menjadi kekuatan kolektif. Pada Piala Dunia 2026, mereka memang lolos sebagai juara Grup E, tetapi permainan yang ditampilkan tidak meyakinkan. Kesulitan menghadapi Pantai Gading, kalah dari Ekuador, lalu gagal menuntaskan dominasi atas Paraguay menjadi gambaran inkonsistensi yang terus menghantui.





