Bisnis.com, MAKASSAR — Surplus neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menyusut 54,62% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada periode Januari–Mei 2026. Pelemahan tersebut dipicu lonjakan impor yang tidak diimbangi oleh kinerja ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulsel mencatat nilai impor Sulsel sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$418,75 juta atau naik 35,72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Provinsi Sulsel Aryanto mengatakan kenaikan impor didorong oleh meningkatnya pembelian sejumlah komoditas utama yang menjadi kebutuhan industri di daerah tersebut.
"Lima komoditas yang rutin mendominasi impor Sulsel mengalami kenaikan pembelian sepanjang tahun ini hingga Mei 2026. Kelimanya mendorong melonjaknya impor Sulsel secara keseluruhan," ujarnya dalam konferensi pers di Makassar, Rabu (1/7/2026).
Kelompok gandum-ganduman menjadi penyumbang impor terbesar dengan nilai US$80,31 juta atau naik 54,59% dibandingkan periode Januari–Mei 2025.
Sementara itu, impor bahan bakar mineral meningkat 65,45% menjadi US$70,92 juta. Disusul olahan makanan hewan senilai US$64,29 juta atau naik 36,99%, gula dan kembang gula sebesar US$53,41 juta atau naik 6,05%, serta mesin dan pesawat mekanik senilai US$30,93 juta atau meningkat 40,55%.
Baca Juga
- KUR di Sulsel Tersalurkan Rp7,78 Triliun per Mei 2026, BRI Tertinggi
- Rumah Subsidi Baru Diluncurkan di Palu Jelang HUT RI, DP Cuma Rp81.000!
Dari sisi negara asal, China masih menjadi pemasok utama barang impor Sulsel dengan nilai US$112,08 juta. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebesar US$64,05 juta, Thailand US$58,29 juta, Brasil US$55,48 juta, dan Australia US$55,11 juta.
Di sisi lain, kinerja ekspor Sulsel justru melemah. Nilai ekspor selama Januari–Mei 2026 tercatat US$567,63 juta atau turun 10,84% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ekspor terutama dipengaruhi melemahnya nilai pengiriman komoditas nikel serta besi dan baja. Ekspor nikel tercatat sebesar US$341,05 juta atau turun 1,25% secara tahunan.
"Meskipun persentase penurunannya cukup kecil, nikel sangat memengaruhi ekspor Sulsel secara keseluruhan karena pengaruhnya yang cukup besar, lebih dari setengah nilai ekspor berasal dari komoditas ini," tegas Aryanto.
Adapun ekspor besi dan baja turun paling tajam, yakni 80,05%. Nilainya menyusut dari US$144,29 juta pada Januari–Mei 2025 menjadi hanya US$28,78 juta pada periode yang sama tahun ini.
"Adapun untuk peta pasar ekspor, arus komoditas asal Sulsel sejauh ini masih didominasi oleh negara-negara tradisional, dengan tujuan utama ke Jepang, China, Taiwan, Amerika Serikat, dan Vietnam," tambahnya.
Kombinasi lonjakan impor dan pelemahan ekspor tersebut menekan surplus neraca perdagangan Sulsel.
Aryanto mengatakan neraca perdagangan Sulsel pada Januari–Mei 2026 masih mencatat surplus sebesar US$148,88 juta. Namun, nilainya turun 54,62% dibandingkan surplus periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$328,11 juta.





