JAKARTA, KOMPAS.com - Popularitas rokok elektrik atau vape di kalangan anak muda terus meningkat, terutama di kota besar seperti Jakarta.
Jika dulu vape kerap dipromosikan sebagai alternatif “lebih aman” bagi perokok konvensional, kini citranya bergeser menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Bentuk perangkat yang ringkas, desain yang menarik, serta beragam rasa liquid seperti mint, mango, berry, hingga dessert membuat vape semakin mudah diterima generasi muda.
Namun, di balik citra modern itu, para ahli kesehatan mengingatkan bahaya serius yang kerap luput dari perhatian.
Vape bukan sekadar menghasilkan uap beraroma manis.
Baca juga: BPS Catat Jakarta Selatan Tertinggi Pengguna Vape Harian, Tren Anak Muda Jadi Sorotan
Di dalam aerosol yang dihirup pengguna, terdapat nikotin, partikel halus, hingga senyawa kimia berbahaya yang berpotensi memicu penyakit kronis, bahkan kanker.
Dokter Spesialis Paru Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), menilai fenomena vape yang kini berkembang sebagai bagian dari gaya hidup anak muda merupakan kondisi yang memprihatinkan.
Menurut dia, banyak remaja tidak menyadari bahwa vape yang dianggap modern dan lebih aman justru memiliki risiko kesehatan serius.
“Tentunya ini sangat memprihatinkan. Artinya, remaja kita tidak menyadari bahwa vape yang dianggap sebagai gaya hidup sebenarnya memiliki bahaya kesehatan yang serius,” ujar Agus saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Rabu (1/7/2026).
Ia menegaskan, para remaja dan pengguna vape harus diberikan edukasi serta pemahaman bahwa penggunaan vape sama berbahayanya dengan rokok konvensional.
Bahkan, jika digunakan sejak usia dini, risiko kesehatannya dapat muncul lebih cepat.
“Pada rokok konvensional yang sudah digunakan selama ratusan tahun, dampak kesehatan biasanya muncul setelah 10, 15, atau 20 tahun penggunaan. Namun, dengan karakteristik vape yang berbeda, dampak akut atau efek yang cepat muncul justru lebih dini ditemukan, terutama pada remaja,” kata dia.
Baca juga: Vape dan Anak Muda Jakarta: Niat Beralih dari Rokok, Berujung Candu Baru
Menurut Agus, jika penggunaan vape dimulai lebih awal, dampak kronisnya juga dapat muncul lebih cepat, sekitar 10 hingga 15 tahun kemudian.
Dari sisi medis, Agus menjelaskan bahwa dampak jangka pendek vape paling cepat terlihat pada gangguan saluran napas dan paru-paru.
Vape berbentuk uap yang dihirup, dengan partikel sangat halus yang mudah masuk ke saluran napas hingga paru.
“Kalau kita bicara dampak jangka pendek, yang paling cepat muncul adalah gangguan pada saluran napas dan paru,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, ada tiga kelompok komponen utama dalam vape yang perlu diwaspadai. Komponen pertama adalah nikotin.
Menurut Agus, baik vape maupun rokok konvensional sama-sama mengandung nikotin yang bersifat adiktif.
Saat nikotin terhirup dan masuk ke paru-paru lalu ke dalam tubuh, zat ini menyebabkan ketagihan.
Berdasarkan riset yang dilakukan di Rumah Sakit Persahabatan pada 2019, sekitar 72,9 persen pengguna vape mengalami ketagihan.
Ketika kadar nikotin dalam urine mereka diukur, hasilnya setara dengan orang yang merokok sekitar tiga batang rokok konvensional per hari, bahkan pada beberapa kasus sedikit lebih tinggi.
“Artinya, jika seseorang memakai vape secara rutin setiap hari, efek nikotinnya setara dengan merokok beberapa batang rokok biasa. Risiko adiksi ini sangat nyata. Kalau adiksi sudah muncul, pengguna akan sulit lepas dari vape,” kata Agus.
Selain itu, Agus juga menyoroti risiko munculnya dual user, yakni pengguna yang awalnya hanya memakai vape tetapi kemudian juga memakai rokok konvensional.
Riset bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan sekitar 40–50 persen pengguna vape akhirnya menjadi dual user.
Komponen kedua adalah particulate matter atau partikel-partikel halus dalam uap vape. Menurut Agus, partikel ini bersifat iritatif dan memicu peradangan.
Saat terhirup, partikel tersebut dapat menyebabkan iritasi pada saluran napas, memicu radang pada hidung, tenggorokan seperti faringitis dan laringitis, bronkus atau bronkitis, hingga paru-paru.
Jika peradangan berlanjut, produksi dahak meningkat sehingga timbul batuk berdahak.
Kondisi ini juga meningkatkan risiko infeksi karena saluran napas yang meradang lebih mudah dimasuki kuman.
Akibatnya, risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada pengguna vape cukup tinggi.
Agus mengatakan, berdasarkan beberapa riset di Indonesia, pengguna vape cenderung mengalami gejala pernapasan seperti batuk dan berdahak.
Jika ISPA memburuk, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi pneumonia.
“Dalam praktik sehari-hari, saya cukup sering menemui pasien yang sebelumnya sehat, lalu setelah menggunakan vape mengalami batuk berdahak, demam, dan setelah difoto toraks ternyata pneumonia,” tutur dia.
Baca juga: Kenapa Ketua BEM FH UBK Tolak Rp 70 Juta, tapi Terima Rp 20 Juta dari Polisi?
Menurut Agus, pada perokok konvensional, dampak akut seperti ini relatif lebih jarang.
Namun pada pengguna vape, kasusnya muncul lebih cepat dan lebih banyak, terutama pada remaja.
Dampak akut lainnya adalah pada orang yang memiliki penyakit dasar seperti asma.
Pada pasien asma, vape dapat meningkatkan risiko serangan asma berulang karena adanya iritasi pada saluran napas.
“Saya juga merawat beberapa pasien yang mengalami serangan asma setelah menggunakan vape,” ujar dia.
Selain itu, Agus menjelaskan bahwa peradangan tidak hanya terjadi di saluran napas, tetapi bisa sampai ke jaringan paru dan alveoli.
Kondisi ini disebut pneumonitis. Pneumonitis relatif jarang terjadi pada pengguna rokok konvensional, tetapi lebih banyak ditemukan pada remaja pengguna vape.
Di luar negeri, kondisi ini dikenal melalui kasus EVALI atau e-cigarette vaping use-associated lung injury.
Di Indonesia, Agus menyebut ada beberapa laporan kasus yang dicurigai EVALI, termasuk di Medan, Yogyakarta, dan Jakarta.
Dampak akut lain yang cukup khas adalah pneumotoraks atau kebocoran paru.
Baca juga: Ketua BEM FH UBK Terima Uang Rp 20 Juta Usai Demo, Dibagi ke Ketua BEM Lainnya





