Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Suharyanto menyatakan peringatan seabad Istri Proklamator Bangsa, Rahmi Hatta menjadi momen untuk merawat ingatan kolektif Nusantara.
"Peringatan satu abad Rahmi Hatta menjadi upaya penting untuk merawat ingatan kolektif terhadap tokoh bangsa. Mengenang sosok Rahmi Hatta bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan ikhtiar untuk menyambung narasi kebudayaan bangsa," katanya di Gedung Perpusnas, Jakarta Pusat, Rabu.
Melalui perayaan seabad Rahmi Hatta tersebut, masyarakat diajak mengubah cara pandang terhadap perpustakaan yang bukan lagi sebagai gedung arsip yang dingin atau membosankan, melainkan sebagai ruang publik yang hidup dan menjadi tempat berbagai aktivitas masyarakat.
"Perpustakaan menjadi ruang peradaban, tempat lahir dan berkembangnya memori kolektif tentang narasi bangsa Indonesia. Kehadirannya menjadi pusat (epicentrum) pengetahuan sekaligus penyimpan sumber sejarah perjalanan bangsa. Perpusnas saat ini mengelola lebih dari sembilan juta eksemplar koleksi yang tersebar di gedung berlantai 27," tuturnya.
Suharyanto menegaskan, perpustakaan kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi juga sebagai ruang untuk berkreasi, berinovasi, dan menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial maupun publik.
Siti Rahmiati Hatta (16 Februari 1926 – 13 April 1999) adalah istri Wakil Presiden Pertama Indonesia, Mohammad Hatta. Ia menikah dengan Mohammad Hatta di Megamendung, Bogor pada tanggal 18 November 1945.
Gelar Wicara Satu Abad Rahmi Hatta diselenggarakan di Perpusnas dengan menghadirkan putri Proklamator Bangsa itu, Meutia Farida Hatta, yang mengenang ibunya sebagai sosok pecinta kebudayaan, seni, busana, dan dikenal sebagai sosok sederhana yang konsisten melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan.
"Sebagai sosok yang mencintai kebudayaan dan seni, ibu saya selalu mengajarkan arti tentang kesederhanaan kepada anak-anaknya. Kami tumbuh di lingkungan itu, yang selalu merawat kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama," ucap Meutia.
Baca juga: Menteri PPPA: Seabad Rahmi Hatta bukti perempuan berdaya bagi bangsa
Baca juga: Perpusnas dan Goethe-Institut tingkatkan literasi kebudayaan
Baca juga: Pemerintah dukung pelestarian warisan sejarah milik Bung Hatta
"Peringatan satu abad Rahmi Hatta menjadi upaya penting untuk merawat ingatan kolektif terhadap tokoh bangsa. Mengenang sosok Rahmi Hatta bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan ikhtiar untuk menyambung narasi kebudayaan bangsa," katanya di Gedung Perpusnas, Jakarta Pusat, Rabu.
Melalui perayaan seabad Rahmi Hatta tersebut, masyarakat diajak mengubah cara pandang terhadap perpustakaan yang bukan lagi sebagai gedung arsip yang dingin atau membosankan, melainkan sebagai ruang publik yang hidup dan menjadi tempat berbagai aktivitas masyarakat.
"Perpustakaan menjadi ruang peradaban, tempat lahir dan berkembangnya memori kolektif tentang narasi bangsa Indonesia. Kehadirannya menjadi pusat (epicentrum) pengetahuan sekaligus penyimpan sumber sejarah perjalanan bangsa. Perpusnas saat ini mengelola lebih dari sembilan juta eksemplar koleksi yang tersebar di gedung berlantai 27," tuturnya.
Suharyanto menegaskan, perpustakaan kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi juga sebagai ruang untuk berkreasi, berinovasi, dan menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial maupun publik.
Siti Rahmiati Hatta (16 Februari 1926 – 13 April 1999) adalah istri Wakil Presiden Pertama Indonesia, Mohammad Hatta. Ia menikah dengan Mohammad Hatta di Megamendung, Bogor pada tanggal 18 November 1945.
Gelar Wicara Satu Abad Rahmi Hatta diselenggarakan di Perpusnas dengan menghadirkan putri Proklamator Bangsa itu, Meutia Farida Hatta, yang mengenang ibunya sebagai sosok pecinta kebudayaan, seni, busana, dan dikenal sebagai sosok sederhana yang konsisten melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan.
"Sebagai sosok yang mencintai kebudayaan dan seni, ibu saya selalu mengajarkan arti tentang kesederhanaan kepada anak-anaknya. Kami tumbuh di lingkungan itu, yang selalu merawat kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama," ucap Meutia.
Baca juga: Menteri PPPA: Seabad Rahmi Hatta bukti perempuan berdaya bagi bangsa
Baca juga: Perpusnas dan Goethe-Institut tingkatkan literasi kebudayaan
Baca juga: Pemerintah dukung pelestarian warisan sejarah milik Bung Hatta





