Grid.ID – Sudah 3 tahun berlalu sejak musibah pada April 2023, perjuangan Lexi Valleno Havlenda untuk pulih belum juga usai. Adik dari penyanyi Keisya Levronka ini masih harus berjuang melawan dampak kerusakan fisik yang serius akibat jatuh dari lantai 6 di lingkungan kampusnya di kawasan Grogol, Jakarta Barat.
Kecelakaan tersebut terjadi saat Lexi mengikuti kegiatan caving atau panjat tebing yang diadakan oleh organisasi mahasiswa di Universitas Tarumanagara (Untar). Di tengah latihan, alat pengaman yang digunakannya tiba-tiba terlepas hingga menyebabkannya terjatuh dari ketinggian ekstrem.
Dampak benturan keras tersebut membuat organ dalam Lexi rusak parah. Ia mengalami patah tulang ekor hingga remuk dan harus dipasang pen besi, trauma berat pada ginjal, paru-paru yang sempat terendam darah, hingga organ hati yang sobek.
Meski sudah melewati berbagai operasi besar, Lexi mengaku bahwa fungsi tubuhnya belum bisa kembali normal seperti sediakala. Hingga kini, ia masih merasakan gangguan pada sistem sarafnya yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Kalau sekarang mungkin saraf sama pen sih, dari kegiatan sehari-hari masih lumayan terganggu, belum bisa berjalan normal lah kegiatan sehari-harinya," kata Lexi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (1/7/2026).
Adapun salah satu dampak kerusakan saraf yang paling menyulitkan Lexi adalah hilangnya kontrol refleks tubuh, terutama saat ia harus ke kamar mandi. Kerusakan saraf tersebut membuatnya tidak bisa menahan buang air seperti orang normal pada umumnya.
"Kayak nggak bisa dikontrol. Maksudnya kadang-kadang untuk ke kamar mandi, yang harusnya bisa ditahan, jadi nggak bisa ditahan, karena refleksnya belum terbentuk," tambah Lexi.
Untuk bisa melatih kembali sistem saraf dan otot-otot tubuhnya yang cedera, Lexi diwajibkan menjalani fisioterapi secara intensif di bawah pengawasan dokter spesialis.
"Kalau dari dokter disaraninnya dua kali seminggu ya. Dua kali seminggu sih buat fisioterapi," ujarnya.
Selain itu, Lexi juga tidak bisa duduk terlalu lama, terutama di permukaan yang keras, karena rasa nyeri yang kerap muncul pada bagian tulang ekornya yang sempat remuk.
Sementara itu, sang ibunda, Levi Leonita Davies, mengungkapkan kekecewaan di media sosial atas kurangnya tanggung jawab dari pihak kampus. Levi menyadari bahwa seberapa keras pun usaha pengobatan dilakukan, kondisi sang putra tidak akan pernah bisa kembali seperti sebelum kecelakaan terjadi.
"Anak saya juga nggak bisa pulih seperti sebelumnya. Nilai berapa pun uang yang ditawarkan, tidak akan bisa mengembalikan kondisi anak saya. Tapi balik lagi, kita perlu hidup ke depan. Ya, pastinya ini buat jaminan kesehatan ke depannya," pungkas Levi Leonita. (*)
Artikel Asli




