Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyampaikan bahwa kontraksi aktivitas manufaktur Indonesia yang tecermin dari penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur pada Juni 2026 belum mengubah strategi pelaku industri otomotif dalam jangka panjang.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyampaikan kontraksi PMI tidak serta-merta membuat produsen kendaraan bermotor menyusun ulang rencana investasi dan pengembangan produk yang telah ditetapkan sebelumnya.
"Industri otomotif sifatnya jangka panjang, tidak bisa reaktif terhadap kejadian-kejadian yang sifatnya bulanan. Launching mobil baru sudah disiapkan. Tidak mungkin misalnya, karena sekarang PMI turun, kemudian peluncurannya dibatalkan," kata Kukuh kepada Bisnis, Rabu (1/7/2026).
Dia mencontohkan pelaksanaan ajang otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang telah dipersiapkan sejak awal tahun. Menurutnya, sejumlah model kendaraan bahkan sudah mulai menerima pemesanan sebelum peluncuran resminya.
Kukuh mengatakan, pelaku industri juga belum mengubah proyeksi bisnis hingga akhir 2026. Dia menyebut, komitmen produsen otomotif di Indonesia didasarkan pada prospek pasar dalam jangka waktu puluhan tahun.
"Begitu mereka masuk ke Indonesia, perhitungannya bukan 1 atau 2 tahun. Mereka menghitung prospek Indonesia sampai 20 atau 30 tahun ke depan," ujarnya.
Baca Juga
- PMI Manufaktur RI Turun ke 46,9 pada Juni 2026, Masuk Fase Kontraksi
- Airlangga Sebut Gangguan Rantai Pasok Jadi Biang Kerok PMI Manufaktur Kontraksi
- PMI Manufaktur Asean Juni 2026: Thailand Melesat, RI Kontraksi
Meski demikian, Kukuh mengakui kondisi pasar domestik tengah menghadapi tekanan. Hal ini tecermin dari penjualan mobil yang turun secara bulanan pada Mei 2026, tetapi secara kumulatif masih lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dia menilai pelemahan permintaan pada pertengahan tahun ini lebih dipengaruhi faktor musiman, seperti periode libur sekolah dan persiapan tahun ajaran baru yang membuat rumah tangga mengalihkan prioritas belanja. Kukuh berharap permintaan kendaraan kembali membaik setelah faktor musiman berlalu, terutama apabila pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Untuk menjaga iklim investasi, Gaikindo berharap pemerintah mempertahankan konsistensi kebijakan terhadap industri otomotif. Kepastian regulasi dinilai lebih penting dibandingkan perubahan kebijakan yang berpotensi menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha.
"Kebijakan yang sudah ada jangan sering berubah. Kalau memang perlu diperbaiki silakan diperbaiki, tetapi jangan muncul kebijakan baru yang dampaknya belum jelas," tegas Kukuh.
Sebelumnya, Laporan S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 dari posisi 50,0 pada Mei. Penurunan itu menandai kembalinya sektor manufaktur Tanah Air ke zona kontraksi.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti menyebut, penurunan tersebut menandai perubahan kondisi operasional yang hampir stagnan di sektor manufaktur Tanah Air.
"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir, menutup semester pertama 2026. Tingkat penurunan ini merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025," kata Usamah dalam keterangannya.




