Bisnis.com, JAKARTA — Industri otomotif nasional diperkirakan masih akan menghadapi sejumlah tantangan pada semester II/2026. Pelemahan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga, hingga ketidakpastian kebijakan insentif kendaraan listrik menjadi faktor yang membayangi prospek penjualan kendaraan hingga akhir tahun.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan tantangan terbesar saat ini berasal dari melemahnya kemampuan belanja masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang menjadi pasar utama industri otomotif.
"Jumlah kelas menengah juga mengalami penurunan dan pendapatan mereka tertekan. Bahkan ada yang harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan," ujar Kukuh kepada Bisnis, dikutip Rabu (1/7/2026).
Selain pelemahan daya beli, Kukuh menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% turut membebani pasar. Pasalnya, sekitar 70% transaksi pembelian mobil di Indonesia masih mengandalkan fasilitas pembiayaan sehingga bunga kredit yang lebih tinggi membuat konsumen semakin berhati-hati dalam membeli kendaraan.
Menurutnya, ketidakpastian kebijakan insentif kendaraan listrik juga memperkuat sikap wait and see masyarakat. Di tengah bunga kredit yang meningkat, banyak calon pembeli memilih menunda transaksi sambil menunggu kejelasan insentif dari pemerintah.
"Di sisi lain, untuk kendaraan listrik, masyarakat juga masih menunggu kejelasan mengenai berbagai insentif yang beredar informasinya. Ketidakpastian itu membuat konsumen semakin ragu. Jadi tekanannya bisa datang dari dua sisi sekaligus, bunga kredit naik dan insentif belum jelas," katanya.
Baca Juga
- Aral Pabrikan Otomotif di Paruh Kedua
- PMI Manufaktur Kontraksi, Industri Otomotif Fokus Target Jangka Panjang
- Honda Prediksi Pasar Otomotif Semester II/2026 Masih Menantang, Brio Jadi Andalan
Meski demikian, Gaikindo tetap mempertahankan proyeksi penjualan kendaraan nasional tahun ini sebesar 850.000 unit dengan harapan kondisi pasar membaik pada paruh kedua.
Data Gaikindo mencatat, penjualan ritel selama Januari-Mei 2026 mencapai 359.490 unit atau naik 8,8% secara tahunan.
Showroom penjualan mobil di mal
Prospek dan Tantangan PasarProdusen otomotif juga mengakui kondisi pasar masih penuh tantangan. Mazda Indonesia menilai daya beli yang belum pulih membuat permintaan kendaraan belum kembali normal, meski peluang pertumbuhan masih terbuka pada semester II/2026.
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia Ricky Thio mengatakan seluruh merek kini berlomba mempertahankan pangsa pasar melalui berbagai strategi, mulai dari promosi hingga peluncuran produk baru. Mazda juga akan memanfaatkan ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 sebagai momentum untuk meningkatkan penjualan.
“Untuk semester II, saya sendiri juga masih melihat situasinya cukup dinamis. Kondisinya memang masih penuh tantangan. Namun, kami tetap optimistis, apalagi akan ada GIIAS dan berbagai program baru yang kami siapkan,” ujar Ricky kepada Bisnis, Rabu (1/7/2026).
Dia menjelaskan aktivitas konsumsi masyarakat sebenarnya masih relatif tinggi, terlihat dari ramainya pusat perbelanjaan maupun restoran. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada penjualan mobil karena masyarakat masih menempatkan kendaraan sebagai aset bernilai besar.
Fenomena tersebut dikenal sebagai lipstick effect, yakni kondisi ketika konsumen tetap membelanjakan uang untuk produk atau layanan bernilai relatif kecil, tetapi menunda pembelian barang mahal seperti mobil.
Ricky menilai keputusan membeli kendaraan kini semakin rasional. Selain mempertimbangkan kebutuhan, masyarakat juga memperhitungkan kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang sebelum memutuskan membeli mobil.
“Konsumen kini menjadi lebih rasional dalam mengambil keputusan. Mereka mempertimbangkan kemampuan membayar cicilan dalam jangka empat hingga lima tahun ke depan," jelasnya.
Untuk menjaga penjualan, Mazda memastikan akan menghadirkan model baru dalam waktu dekat. Diperkirakan merupakan mobil listrik murni Mazda 6e pada GIIAS 2026. Adapun, berdasarkan data Gaikindo, penjualan ritel Mazda sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 1.240 unit atau turun 5,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pandangan serupa disampaikan Daihatsu, yang memperkirakan pasar otomotif nasional akan membaik pada semester II/2026, tetapi pemulihan tersebut masih dibayangi tekanan ekonomi makro, pelemahan daya beli, serta meningkatnya kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di sektor pembiayaan kendaraan.
Marketing & Customer Relations Division Head Astra International Daihatsu Sales Operation Tri Mulyono mengatakan penjualan ritel kendaraan nasional hingga Mei 2026 masih mencatat pertumbuhan positif dibandingkan tahun lalu sehingga menjadi sinyal awal pemulihan permintaan.
"Pasar otomotif di semester II/2026 ini diproyeksikan akan membaik, namun masih tetap dibayangi tantangan ekonomi makro dan daya beli yang masih dinamis," ujar Tri kepada Bisnis, Rabu (1/7/2026).
Untuk mendongkrak pasar, Daihatsu akan memperkuat layanan penjualan dan purnajual, termasuk melalui kerja sama dengan perusahaan pembiayaan, penyedia asuransi, serta layanan tukar tambah kendaraan agar masyarakat lebih mudah memiliki mobil baru.
Menanti Kepastian Insentif Kendaraan Listrik
Di lain sisi, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penundaan insentif kendaraan listrik menunjukkan pemerintah masih menyempurnakan skema kebijakan agar tetap efektif sekaligus tidak membebani anggaran negara.
Josua menjelaskan pemerintah sebelumnya menyiapkan insentif bagi 100.000 mobil listrik dan 100.000 motor listrik. Namun, implementasinya diundur karena pembahasan skema belum selesai.
"Ruang fiskal jelas berkaitan, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Pemerintah tampaknya ingin menghindari insentif yang terlalu mahal tetapi dampaknya kecil, misalnya hanya menjadi potongan harga sementara, tidak mendorong produksi dalam negeri dan tidak cukup mengurangi konsumsi bahan bakar," ujar Josua kepada Bisnis, Rabu (1/7/2026).
Dia menilai pemerintah juga harus memperhitungkan tekanan terhadap APBN. Selain besaran anggaran, pemerintah perlu menentukan sasaran penerima, kuota, dan dampak penghematan energi agar insentif lebih efektif.
Josua memperkirakan penundaan insentif tidak akan membuat pasar kendaraan listrik langsung turun tajam. Namun, ketidakpastian kebijakan berpotensi menunda keputusan pembelian karena kendaraan listrik masih sangat sensitif terhadap harga awal.
Menurutnya, perlambatan berpotensi lebih terasa pada segmen motor listrik karena konsumennya lebih sensitif terhadap harga dan cicilan. Karena itu, dia mendorong pemerintah segera memberikan kepastian mengenai jadwal, kuota, besaran insentif, dan syarat penerima agar pasar kembali bergerak tanpa membebani APBN secara berlebihan.





