Belanja demi Waras: Fenomena Doom Spending di Tengah Impian Rumah yang Kian Jauh

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Mengeluh gak bisa beli rumah, tapi malamnya nonton konser mahal atau jajan kopi premium. Kontradiksi finansial anak muda hari ini ternyata punya nama: "Doom Spending".

Di tengah lonjakan harga properti yang gak masuk akal dan upah yang stagnan, banyak Gen Z dan Milenial mengalami financial nihilism. Karena masa depan punya aset terasa mustahil, mereka memilih "membeli kebahagiaan instan" hari ini sebagai pelarian stres.

Pernahkah Anda melihat seorang anak muda mengeluh di media sosial tentang betapa sulitnya menabung untuk uang muka rumah, namun beberapa jam kemudian ia mengunggah foto tiket konser mahal atau kopi susu premium harian? Di permukaan, perilaku ini tampak kontradiktif, bahkan terkesan tidak bertanggung jawab secara finansial.

Namun, di balik kontradiksi tersebut, ada sebuah tren psikologi ekonomi global yang kini nyata melanda generasi muda Indonesia: "doom spending".

Istilah doom spending merujuk pada perilaku berbelanja atau menghabiskan uang demi mendapatkan kepuasan instan sebagai pelarian dari stres akibat situasi ekonomi yang tidak menentu. Alih-alih menabung untuk masa depan yang terasa mustahil diraih, mereka memilih "membeli kebahagiaan" hari ini.

Untuk memahami mengapa fenomena ini begitu masif, kita harus melihat realitas ekonomi yang dihadapi Gen Z dan Milenial. Berdasarkan data makro, kenaikan upah rata-rata tahunan pekerja muda sering kali tidak pernah sebanding dengan lonjakan harga properti dan laju inflasi.

Membeli rumah di area urban saat ini bukan lagi sekadar tantangan, melainkan sudah bergeser menjadi sesuatu yang utopis bagi sebagian besar pekerja kerah putih. Ketika kalkulator finansial mereka menunjukkan bahwa menabung selama sepuluh tahun pun belum tentu cukup untuk membeli satu unit rumah, logika ekonomi mereka mulai bergeser.

Muncul kejenuhan finansial. Konsensus bawah sadar mereka berbisik: "Jika saya tetap tidak bisa membeli rumah dengan menabung, mengapa saya tidak menghabiskan uang ini untuk hal-hal yang membuat saya bahagia sekarang?"

Faktor berikutnya yang memperparah doom spending adalah paparan media sosial. Algoritma digital terus-menerus memborbardir generasi muda dengan standar gaya hidup tertentu—mulai dari tren liburan healing, estetika kafe, hingga kepemilikan gawai terbaru.

Belanja barang-barang mewah skala kecil menjadi bentuk kompensasi diri. Mereka mungkin tidak bisa membeli aset berupa tanah atau rumah, tetapi mereka bisa membeli "tiket masuk" untuk merasa setara dengan kelas sosial atas di dunia maya. Segelas kopi mahal atau sepotong pakaian bermerek menjadi pengganti kepuasan instan yang instan pula divalidasi lewat tombol like di media sosial.

Sebagai sebuah mekanisme koping, untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan hidup, doom spending memang memberikan kelegaan sementara. Berbelanja terbukti melepaskan hormon dopamin yang mengurangi kecemasan. Namun, dalam jangka panjang, tren ini menyimpan bom waktu yang siap meledak.

Ketika seluruh pendapatan habis untuk konsumsi fana, generasi muda kehilangan jaring pengaman finansial. Mereka menjadi kelompok yang sangat rentan jika sewaktu-waktu terjadi guncangan ekonomi, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau masalah kesehatan. Doom spending berisiko menjebak satu generasi ke dalam lingkaran setan kemiskinan struktural baru, di mana mereka akan selamanya menjadi penyewa di tanah kelahiran sendiri tanpa pernah memiliki aset pribadi.

Menyalahkan generasi muda sepenuhnya atas tren ini adalah sebuah tindakan yang keliru dan menutup mata dari akar masalah sistemik. Di sisi lain, menjustifikasi doom spending secara terus-menerus juga bukan langkah yang bijak.

Dunia usaha dan pemerintah perlu melihat ini sebagai alarm bahwa pasar properti dan instrumen investasi konvensional sudah tidak lagi menarik atau terjangkau bagi motor penggerak ekonomi masa depan. Perlu ada alternatif investasi yang lebih inklusif dan ramah kantong anak muda.

Sementara bagi generasi muda, kuncinya adalah mendefinisikan ulang arti "waras". Menjaga kesehatan mental tidak harus selalu dibayar dengan menguras isi rekening demi kepuasan fana. Literasi keuangan bukan lagi soal menahan diri untuk tidak jajan, melainkan tentang membangun kendali diri agar tidak didikte oleh algoritma media sosial. Masa depan mungkin terlihat tidak pasti, namun bersiap menghadapi ketidakpastian itu dengan fondasi finansial yang kokoh jauh lebih menenangkan ketimbang sekadar pelarian sesaat di keranjang belanja digital.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Beri Ultimatum, Hukum Tidak Boleh Menjadi Alat Balas Dendam Politik di Indonesia
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Liburan Sekolah, KAI Commuter Tambah 4 Perjalanan KRL Yogyakarta-Palur
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dewan Pers Usul Skema Hibrid Hak Cipta Karya Jurnalistik, Menkum: Yang Paling Penting Ada Royalti
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Adopsi AI di Media, Membeli Produk Jadi atau Membangun Sistem Sendiri?
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Ribuan Alumni FEM IPB Akan Berkumpul dalam Reuni Akbar 2026, Hadirkan Forum Inspiratif hingga Penampilan RAN
• 8 jam lalucumicumi.com
Berhasil disimpan.